• News

  • Opini

Tolak Permainan Politik Identitas di Kota Medan!

Birgaldo Sinaga
Foto: Istimewa
Birgaldo Sinaga

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Medan  itu unik. Medan bak kuali besar tempat semua bumbu masakan ada dalam kuali itu. Hampir semua etnis nusantara ada di Medan. Etnis Tionghoa, India, Tamil hidup berbaur dengan etnis lainnya.

Tidak heran di Medan ada kawasan pecinan Kesawan menjadi pusat bisnis. Demikian juga Kampung Madras pusat warga India Tamil ada di Medan.

Semarak keragaman ini menjadi anugerah bagi Medan. Warga Medan menjadi masyarakat terbuka dan toleran.

Saya lahir dan besar di Medan. Sejak kecil saya terbiasa berteman dengan beragam teman dari suku dan agama yang berbeda. Bukan terbatas pada suku

Batak saja. Teman-teman saya berasal dari beragam suku.

Bahkan saya berteman dengan anak Tionghoa dan Sikh. Saya jadi tahu, teman saya Raju yang beragama Sikh itu berambut panjang. Rambutnya tidak boleh dipotong. Rambut itu dililit dan dibungkus dengan surban. Raju sekolah di SMP Khalsa. Sekolah khusus India.

Apa yang dialami anak-anak Medan tentu berbeda dengan anak-anak  Sumatera Barat.

Bagi anak di Kota Payakumbuh, Sumbar pengalaman berinteraksi dengan anak yang berbeda suku agama itu bisa jadi barang langka. Ya, seperti kita berteman dengan anak orang bule misalnya.

Di Kota Pariaman, Solok, Tasikmalaya, Sukabumi boleh dibilang masyarakatnya homogen. Dominan satu suku.

Cara hidup dan berpikir anak Medan lebih terbuka dan toleran melihat perbedaan dibanding anak-anak Sumbar dan Jabar.

Di Medan jarang terdengar konflik antar pemeluk agama. Jarang kita dengar ada masalah relasi antar umat beragama di Medan.

Medan era masa 80-90an menjadi kota paling toleran dan terbuka. Tidak ada pandangan sinis berlatar identitas masa itu. Pembauran terjadi alami. Orang bergaul bukan karena seagama atau sesuku. Orang bergaul karena anak Medan  saling membutuhkan.  Saling menghargai.

Tapi itu dulu. Bagaimana sekarang?

Pilkada Sumut beberapa waktu lalu sangat kental politik identitas. Saya masih ingat bagaimana terpolarisasinya warga Sumut ketika politik identitas ini dimainkan.

Kita tidak akan mungkin bisa lupa istilah gulai  kentang campur gulai anjing yang diucapkan UAS dalam mempola politik identitas. Betapa sedihnya ujaran begitu melukai nilai keberagaman orang Sumut.

Dan sungguh hari ini, saya merasa sedih membaca berita politik identitas dilempar lagi oleh Aulia Rahman  Cawawako Medan yang berpasangan dengan Bobby Nasution.

“Tidak boleh ada lagi masjid yang tergusur di masa pemerintahan Bobby-Aulia. Kami berdua akan menjadi garda terdepan untuk hal itu,” kata Aulia.

“Ada sebanyak 1.300 masjid yang harus kita bantu pengurusan surat-suratnya. Ini menjadi tugas kita semua sebagai umat muslim. Untuk kemaslahatan umat dan menjadi berkah,” tukas Aulia.

Tujuan berpolitik pasti untuk merebut kekuasaan. Kekuasaan itu diperoleh dari elektoral vote. Suara terbanyak.

Melempar isu sensitif untuk mendapat dukungan dari pemilik suara mayoritas tentu bukanlah melanggar hukum positif atau undang-undang.

Namun, ada yang lebih mulia dari sekedar merebut kekuasaan itu. Politisi bertanggung jawab membangun peradaban. Politisi bertanggung jawab membangun penguatan civil society yang berlandaskan nilai ke Indonesiaan kita.

Lihatlah betapa beratnya Anies Baswedan membangun Jakarta karena menang karena menjual isu ayat dan mayat. Apalah artinya berkuasa jika keretakan dan kerenggangan sosial terjadi.

Medan itu bak taman bunga beraneka warna. Tugas politisi adalah menyiram bunga-bunga di taman itu dengan air kesejukan dan pupuk yang baik.

Tidak boleh ada bunga yang layu dan kering karena tidak mendapat siraman air dan pupuk. Semua bunga di taman itu saling memperindah. Saling menyejukkan.

Bobby dan Aulia masih punya kesempatan untuk meyakinkan publik Kota Medan bahwa jika mereka terpilih, keberpihakan mereka itu benar-benar untuk kepentingan publik. Bukan sektarian apalagi partisan.

Semoga.

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto