• News

  • Opini

52,5% Tak Puas Jokowi-Ma‘ruf, Masih Ada Waktu 4 Tahun untuk Berbenah

Birgaldo Sinaga
Foto: Istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Baru saja Litbang Kompas merilis survei kepuasan publik atas setahun pemerintahan  Jokowi-Maruf.

Hasilnya tidak begitu mengagetkan saya. Karena memang begitulah realitas di lapangan yang saya tangkap.

Tentu ini sangat mengkhawitirkan karena penurunannya cukup tajam dibanding setahun pemerintahannya pada periode 2014 lalu.

Publik punya logika sendiri dalam menilai dan merasakan detak urat nadi kehidupan dalam bidang ekonomi, sosial, keamanan, politik, dan lain sebagainya.

Logika publik ini tidak bisa kita bendung dengan narasi puja puji pendukung Jokowi. Antara ekspektasi dan realitas yang berbanding terbalik tidak bisa ditambal dengan narasi puja puji pendukung Jokowi.

Kita harus belajar dari kesalahan SBY lalu. SBY dikelilingi orang-orang yang memuja muji membelanya habis-habisan seperti Ruhut Sitompul cs.

Padahal realitas di lapangan berbanding terbalik. Walhasil, periode ke-2 pemerintahannya  babak belur. Dan kini nama SBY sangat buruk di mata publik.

Sementara Ruhut dengan enteng meninggalkan SBY yang sudah hancur namanya.

Saya tidak ingin Jokowi bernasib sama dengan SBY. Di akhir pemerintahannya malah dilupakan dan dicemooh.

Saya tidak mau meniru seperti Ruhut Sitompul yang asal bapak senang. Pokoknya SBY tak mungkin salah keliru.

Saya memilih tidak setuju UU KPK direvisi. Tapi kenyataannya di pemerintahan Jokowi UU KPK ini berubah.

Jaman SBY, setidaknya banyak orang besar kena ciduk. Sekalipun itu Ketua Umum partainya sendiri Anas dan Bendum Nazarudin.

Kini, di zaman Jokowi, sekelas Harun Masiku saja KPK tak berkutik sama sekali. Apa yang mau diharapkan lagi dari KPK ini? Ketika Ketua KPK-nya malah menunjukkan gaya hidup tidak sederhana?

Sudah 6 tahun Jokowi memerintah, tapi SKB dua menteri tentang pendirian rumah ibadah tidak jua dicabutnya. Padahal ini pangkal persoalan utama dari penutupan 32 gereja sepanjang pemerintahannya.

Apakah ada perbaikan persoalan lama ini? Tidak ada sama sekali. Kita menaruh harapan dari ketegasan dan kekuatannya. Sayang sekali itu tidak nampak sampai hari ini.

Saya mengkritisi itu sebagai suara publik yang saya serap dan dengar.

Tidak mutlak saya benar,  tidak juga Jokowi yang benar.  

Dunia ini selalu bergerak dalam ruang dan waktu yang terus bergerilya pada satu keseimbangan.  Orang bilang yin yang,  gelap terang,  baik buruk,  hitam putih.

Jadi buat saya, saya akan menulis  apa yang saya pikirkan itu baik untuk bangsa dan negara. Apakah pikiran saya membawa kebaikan atau tidak, setidaknya itu jadi sudut pandang pertimbangan yang semakin sempurna.

Bagi saya, ambil apinya,  buang abunya.  Kalo tulisan saya selama ini cuma abu,  ya lupakan saja.  Jika menurut kalian api, ambil semangatnya.

Semangat untuk terus memberi kemanfaatan pada bangsa dan negara.

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto