• News

  • Opini

Pasca Suharto Tumbang, Pemudanya Lemah, Mudah Diprovokasi, Cengeng, dan Matre

Azas Tigor Nainggolan
Foto: Istimewa
Azas Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemuda memang memiliki masanya sendiri tapi pemuda adalah harapan dan kekuatan rakyat setiap masa. Soal semangat, keberanian, dan konsistensi juga tergantung masanya masing-masing.

Pada masa kemerdekaan ada pemuda Sukarno dan Hatta yang berani dan konsisten berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia. Masa pemuda Sukarno dan Hatta, ada juga yang bisa disogok, mudah diprovokasi, dan cengeng.

Begitu pula pada masa pemuda 1965, ada pemuda yang berani, konsisten dan murni berjuang untuk rakyat bukan diprovokasi. Salah seorang pemuda yang saya kenal  masa tahun 1960-an itu adalah mas Arief Budiman yang berani, kritis dan konsisten berjuang untuk rakyat.

Begitu pula pemuda masa 1980 dan 1990-an seperti saya dan kawan-kawan, ada yang berani, konsisten tapi juga ada yang berjuang untuk jabatan.

Masa itu pada tahun 1998 memang berhasil menumbangkan Suharto tapi tidak berhasil menumbangkan orde baru. Buktinya pada masa pemerintahan sekarang pun masih ada orang-orang orde baru dan loyalis Suharto di dalam bagian kekuasaannya.  

Pemudanya pun sekarang banyak yang dekat dan mendukung pemerintah dari dalam pemerintahan sesuai kepentingan politiknya.

Pada setiap rezim pasca Suharto ada pemuda yang dekat dan menjadi bagian pemerintah yang berkuasa. Mereka silih berganti dan saling mendukung juga menjatuhkan lawan untuk kekuasaan serta jabatan.

Anehnya justru Suharto sudah tumbang tapi tingkat kesadaran masyarakat belum meningkat bahkan cenderung tambah rusak, tambah rasis, dan anarkis.

Jika demokrasi dibangun  meningkat maka akan terbangun kesejahteraan publik dan kesadaran rakyatnya.

Jika kesejahteraan publik sudah terbangun, seharusnya rakyat tambah kritis dan maju berpikirnya.

Tapi justru pada masa pasca Suharto ini penguasanya masih ada yang bermain, menggunakan, dan menghidupi politik rasial, menjual agama, dan korupsi. Selain itu juga pemudanya kok lebih lemah dan makin lemah, mudah diprovokasi, kurang kritis, cengeng dan matre.

Pengalaman sepanjang tahun 2020 ini kualitas dan pemuda Indonesia terasa sekali penurunannya. Selama masa pandemi Covid-19 merubah semua pola hidup kita termasuk pemuda di Indonesia.

Padahal pada masa pandemi ini banyak peluang, kesempatan bagi pemuda dan pemudi Indonesia berperan dalam keberpihakan  kepada rakyat.

Masa Pandemi Covid-19 justru pemuda mudah diprovokasi bahkan masuk pada politik identitas dan tetap rasis menjual agama. Banyak gerakan pemuda kini tidak murni untuk rakyat, lebih karena politik kekuasaan atas nama agama dan dukungan kelompok kekuasaan.

Gerakannya pemuda kini banyak karena diprovokasi, diperalat dan kekuasaan jabatan. Akibatnya seperti kita lihat gerakannya pemuda kini sering anarkis dan merusak fasilitas publik  dan merugikan rakyat itu sendiri serta satu lagi yakni cengeng.

Mengkritik keras, menyalahkan pemerintah keras tapi tidak mendukung kerja pembangunan kesejahteraan rakyat. Aksinya pemuda kini cenderung tidak murni, titipan perebutan kekuasaan dan menjual agama serta merusak fasilitas hidup rakyat.

Ketika mereka ditangkap karena aksi merusak dan bermain isu rasial agama, mereka cengeng yakni menangis dan menangis. Coba kita lihat isu atau gerakan pemuda atau orang muda terhadap penetapan UU Omnibus Law pada masa pandemi Covid-19 ini.

Seharusnya banyak cara aksi kreatif  yang bisa dilakukan untuk mengkritisi, tidak obyektif  semata-mata menolak UU Omnibuslaw. Pemuda harusnya bisa kreati membangun aksi tanpa menambah penyebaran Covid-19 dan tidak merusak fasilitas publik yang akan menambah susah hidup rakyat.

Pemuda harusnya mampu melihat secara objektif dan kritis terhadap regulasi di dalam UU Omnibus Law dengan tidak memutuskan bahwa sepertinya semua isinya harus ditolak.

Sebenarnya ada juga loh regulasi dalam UU Omnibus Law yang mendukung pembangunan kesejahteraan rakyat dan itu perlu sikap kritis serta obyektif.

Perjuangakan perubahan isi UU Omnibus Law tanpa mau digerakkan oleh kaum pesanan dan provokasi perebutan kekuasaan.  Mari kita sebagai pemuda pada masa yang berisi perkembangan tekhnologi dan pendidikan lebih dari sebelumnya seharusnya jadi lebih kritis dan obyektif.

Saya melihat pada pengalaman pribadi ketika masih aktif gerakan pemuda dan mahasiswa. Perjuangan kami mengangkat dan nyata dari permasalahan yang dihadapi rakyat.

Isu atau masalah yang kami perjuangkan saat itu  tentang penguasa yang koruptif, hidup rakyat yang sulit karena harga kebutuhan pokok mahal, pelayanan kesehatan dan pendudikan yang tidak pro pada rakyat kecil.

Ketika saya dan kawan-kawan  aksi tidak merusak fasilitas umum dan tidak menambah susah hidup rakyat seperti sekarang.

Penguasa saat itu lalim, menindas dan koruptif maka gerakan kami menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka.

Masa-masa 1980-1990an adalah puncak kekuasaan Suharto dan orde baru. Bagi siapa, pemuda yang aktif, kritis membela rakyat kecil maka akan ditangkap dan dibunuh dan dihilangkan. 

Ketika kami ditangkap kami tidak cengeng dan menangis karena kami sadar ini adalah perjuangan dengan segala konsekuensinya.

Bahkan sampai sekarang masih banyak pembunuhan dan penghilangan  pemuda juga  mahasiswa yang tidak diungkap bahkan oleh pemerintah sekarang.

Semua itu adalah resiko berjuang yang harus kita hadapi dan terima sebagai pemuda pada semua masa pergerakan.

Negeri ini, bangsa ini membutuhkan pemuda, orang mudah yang kritis, berani, memiliki hati dan konsisten berjuang untuk rakyat tanpa pamrih kekuasaan atau jabatan. Selamat hari Sumpah Pemuda.

Astina, 28 Oktober 2020

Penulis: Azas Tigor Nainggolan

Editor : Taat Ujianto