• News

  • Pendidikan

BNN: 22 Persen Pengguna Narkoba adalah Pejalar dan Mahasiswa

Narkoba (pilarbanten.com)
Narkoba (pilarbanten.com)

Berita Terkait

DEPOK, NETRALNEWS.COM - Data Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di 2014 menyebutkan, 22 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa.

Sementara, jumlah penyalahgunaan narkotika pada anak yang mendapatkan layanan rehabilitasi pada 2015, tercatat anak usia di bawah 19 tahun berjumlah 348 orang dari total 5.127 orang yang direhabilitasi di tahun itu.

Sedangkan jumlah tersangka kasus narkotika berdasarkan kelompok umur pada 2015 yakni anak usia sekolah dan remaja di bawah 19 tahun berjumlah 2.186 atau 4,4 persen dari total tersangka.

"Padahal anak merupakan investasi dan harapan masa depan bangsa. Hal ini dikaitkan dengan beberapa fenomena kasus anak dengan narkotika," jelas Direktur Rehabilitasi BNN Ida Oetari, di Universitas Indonesia, Rabu (28/9/2016).

Menurut Ida, kasus yang sering muncul yakni anak menjual narkoba, anak menjadi sasaran sindikat baik sindikat narkoba maupun perdagangan manusia berupa prostitusi.

Selain itu, modus penyalahgunaan narkoba saat ini di kalangan remaja adanya istilah 'Paket Hemat'. Artinya, anak remaja itu membayar Rp 20.000 untuk sekali menghisap narkoba. Bahkan, yang lebih memprihatinkan, narkoba sudah masuk dalam ranah Taman Kanak Kanak dalam bentuk permen.

"Seks bebas merambah ke pelajar SMP, anak jadi kurir narkoba dan BNN juga ungkap modus paket hemat narkoba," papar Ida.

Meski begitu, walau tidak memaparkan data secara terperinci, Ida mengatakan ada penurunan jumlah tersangka kasus narkoba yang melibatkan anak-anak dari 2011 hingga 2015 mengalami penurunan.

"Namun, ancaman yang dihadapi anak saat ini juga beragam, mulai dari stigma, regenerasi pasar dimana bandar mulai menyasar pelajar SD dan SMP. Selain itu, adanya kurir narkoba yang mungkin terjadi karena adanya celah hukum, hukuman ringan, bujuk rayu dan tawaran mendapatkan uang," jelas Ida.


Karena itu, sambung Ida, untuk memerangi dan melakukan perlindungan anak, Ida menghimbau perlu dilakukan pencegahan dan tidak hanya sekedar pemberantasan saja. Selain itu, perlu dilakukan rehabilitasi pengguna narkoba maksimal sembilan bulan.

Ida menyarankan juga agar ada pengalihan penyelesaian perkara anak dari peradilan pidana di luar peradilan pidana. Karena anak selain menjadi korban juga terancam menjadi tersangka.

"Karena anak telah menanggung beban, selain menjadi korban dan terancam menjadi tersangka. Terlebih ada pasal yang tumpang tindih dan berlapis yang akan dijatuhkan pada anak," katanya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang