• News

  • Pendidikan

Kemristekdikti: Tingkatkan Kualitas Doktor

Kemristekdikti meminta PUI agar meningkatkan kualitas Doktor.
Kemristekdikti
Kemristekdikti meminta PUI agar meningkatkan kualitas Doktor.

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) memberikan syarat akademik bagi Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk menghasilkan satu doktor agar bisa naik kelas menjadi Science Techno Park (STP).

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo, mengatakan Pemerintahan Jokowi-JK hanya meminta dua hal dari Kemristekdikti, yakni menciptakan tenaga pendidikan tinggi terampil sehingga mampu memasok kebutuhan perusahaan atau industri dan menghasilkan inovasi.

"Kapan PUI bisa dikatakan unggul atau mandiri itu ada mekanismenya yang solid, ini juga untuk mengetahui apakah PUI Yang di dimaksud bisa di 'wisuda' jadi STP apa tidak. Ada beberapa kriteria, tapi ada dua yang paling besar yakni kriteria akademik dan nonakademik," tutur Patdono, seperti dilansir Antara, Kamis (09/02/2027).

Pada kriteria akademik, PUI baru akan bisa menjadi STP jika sudah berhasil menghasilkan satu orang doktor, beberapa publikasi internasional, jumlah jadi pembicara di luar negeri. "Tapi saya tidak percaya dengan indikator yang terakhir ini, sehingga itu tidak jadi syarat kritikal. Tapi paling tidak harus bisa hasilkan satu doktor".

PUI nantinya harus menjadi penyumbang riset-riset bagus yang paling potensial dihilirisasi di STP. Sehingga, ia mengatakan STP bisa menghasilkan pengusaha-pengusaha pemula berbasis teknologi sebagai capaiannya.

Desain hibah penelitian perguruan tinggi, menurut dia, memang tidak di desain menghasilkan produk hilir. Untuk bisa mencapai "technology readiness level" (TRL) 6 dengan 9 itu jelas berbeda, karena jangka waktu, biaya dan pihak yang di terlibat untuk mencapai TRL 9 lebih banyak.

Patdono mengatakan dari 19.000 hibah penelitian yang didanai tidak satu pun bisa diproduksi masal karena tujuannya memang bukan untuk menciptakan inovasi. Maka Ditjen baru dibuat khusus untuk membuat hasil-hasil penelitian yang tadi hanya sampai TRL 6 bisa naik ke TRL 9, contohnya seperti ITS dengan motor listriknya.

 

Editor : Sulha Handayani