• News

  • Pendidikan

Franz Magnis Suseno: Intoleransi Masalah Kecil dan Bukan Soal Agama

Romo Franz Magnis (youtube)
Romo Franz Magnis (youtube)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Budayawan sekaligus Rohaniawan Katolik Pofesor Franz Magnis Suseno mengatakan, ketegangan yang terjadi pada tiga bulan terakhir yang dianggap sebagai ketegangan intoleransi merupakan masalah kecil dan bukan merupakan persoalan agama.

"Intoleransi masalah kecil dan selalu ada dari setiap hati dan sikap buruk yang dimiliki setiap orang, bukan agama," tukas Prof Magnis saat diskusi publik yang diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), yang mengangkat tema 'Kebhinekaan Jati Diri Bangsa Indonesia', Kamis (9/2/2017).

Pastor penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama ini juga menjelaskan, banyak kasus yang terjadi mengenai benturan intoleransi, tetapi hal yang perlu disadari bahwa ketegangan yang terjadi dalam tiga bulan terakhir bukanlah merupakan intoleransi. Sedangkan sikap buruk juga memang selalu ada pada diri setiap manusia, sejak zaman teori Darwin.

Dikatakan Prof Magnis, ia belum dapat memberikan arti definitif mengenai ketegangan yang terjadi, namun ia berpendapat ketegangan merujuk pada pergeseran mendalam di dalam sosiological and culture bech of Indonesia.

Ia juga mengatakan, aksi-aksi keagamaan merupakan sejarah unjuk rasa paling besar di Indonesia yang pernah ada, yang murni dilakukan oleh pengunjuk rasa dari umat Islam, sebagai bentuk penegasan identitas, 'Islam bukanlah kepercayaan yang dapat dihina dan diabaikan' dan sebagai bentuk agresi terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Hasil pengamatannya juga, tidak ditemukan adanya kecaman 'anti kristiani', bahkan demonstran menghindar dari kekerasan di aksi selanjutnya.

"Itu dinamakan identitas politik, suatu kelompok yang merasakan memiliki identitas dengan membatasi diri dari yang lain," jelas Prof Magnis.

Menurutnya, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki peran besar dalam menunjukkan umat Islam yang demokratis, serta berperan dalam kebangkitan nasional sejak turunnya Soeharto dari jabatan sebagai Presiden.

"Meski tidak secara verbal, tetapi secara hati mereka mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Magnis juga berharap bagi umat Kristiani, sebagai kaum minoritas di Indonesia dapat menempatkan diri dalam NKRI. Namun walau disebut sebagai kaum sindrom minoritas, umat kristiani harus tetap memilki identitas politik.

"Bangunlah hubungan positif," pesan Prof Magnis.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang