• News

  • Politik

Mantan Danjennya Jadi Tersangka, Kopassus Justru Akan Berlatih ‘Combat Medic’

Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu saat jumpa pers bersama Acting Secretary of Defence of USA, H E Patrick Michael Shanahan(30/5/2019)
Foto: Antara
Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu saat jumpa pers bersama Acting Secretary of Defence of USA, H E Patrick Michael Shanahan(30/5/2019)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Beberapa hari terakhir, nama Kopassus disebut-sebut khalayak banyak. Hal ini gara-gara mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko ditetapkan sebagai tersangka dugaan kepemilikan senjata ilegal.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan Soenarko memang sosok yang suka perang. Ryamizard menilai senjata yang diduga milik Soenarko itu bukan hasil penyelundupan.

"Saya rasa bukan penyelundupan ya, senjata sudah ada dari dulu. Kan dia perang terus itu orang. Di Tim Tim (Timor Timur), di Aceh, mungkin senjata rampasan di situ," katanya pada hari Rabu (29/5/2019).

Terkait dengan dugaan ada keterlibatan Soenarko dalam aksi 22 Mei 2019, Ryamizard tak mau berkomentar. Ryamizard mengatakan, jika memang sudah direncanakan Soenarko, itu bukan hal yang baik. 

Sementara Mayjen (Purn) Soenarko tengah menghadapi proses penyidikan, pasukan elite TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) justru dikabarkan akan mengadakan latihan bersama dengan pasukan Amerika Serikat.

Latihan tersebut direncakan akan berlangsung pada tahun 2020. Rencana ini sebenarnya sudah dirancang beberapa tahun lalu tetapi kemudian sempat terhenti.

Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu mengatakan hal itu usai menerima kunjungan kehormatan Pelaksana Tugas Sekretaris Menteri Pertahanan Amerika atau Acting Secretary of Defence of USA, H E Patrick Michael Shanahan, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, hari Kamis (30/5/2019),

Menurut dia, latihan bersama yang dilakukan oleh Kopassus dengan tentara AS itu terkait "Combat Medic". Combat Medic itu diajarkan bagaimana memberikan pertolongan pertama dan perawatan trauma garis depan di medan tempur dengan ketiadaan dokter yang siap sedia

"Rehab medic kita akan ikut caranya Amerika. Di Amerika itu kalau ada prajurit yang buntung kakinya, masih bisa lari-lari. Setelah balik lagi ke batalyon tempur, ke ranger ikut perang lagi walaupun kakinya buntung. Di sini enggak, begitu ditembak, diajarin jahit, ngapain juga. Enggak ada lagi itu. Tentara semangat prajuritnya harus dipelihara. Jangan melempem," kata Ryamizard.

Di tempat yang sama, Danjen Kopassus Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mengakui, kerja sama latihan bareng dengan pasukan Amerika Serikat dimulai pada 2020 mendatang.

"Latihan bersama ini merupakan kemajuan luar biasa. Komandan US Indo-Pacifik Command (USINDOPACOM)-nya sudah berbicara. Realisasinya tahun depan, mereka menawarkan ke kita materi apa, kita minta combat medic," katanya.

Jenderal bintang dua ini menjelaskan, combat medic dipilih dalam latihan bersama nanti karena memberikan kemampuan untuk melakukan bedah jika ada personel yang mengalami luka tembak.

"Kita minta combat medic. Itu menjadi atensi untuk keselamatan personel kalau kena tembak. Mereka alatnya lengkap. Jadi seorang sersan bukan dokter, bisa melakukan operasi bedah untuk luka tembak, yang penting bisa bertahan tiga hari nyawa itu sampai ketemu rumah sakit yang besar," katanya.

Rencananya latihan bersama ini akan dilakukan di Indonesia. Selanjutnya, dilakukan di Amerika Serikat.

"Mudah-mudahan bisa di sini. Nanti gantian. Ini bisa dimanfaatkan untuk bantuan saat bencana alam. Untuk tahun ini kita masih lakukan kontak person saja rencana apa yang kita rancang untuk latihan-latihan ke depan. Kemarin saya ke Amerika, di Hawai kita ada rencana latihan materi combat medic. Ini yang jadi penekanan, jadi prioritas ke depan," kata Perwira tinggi TNI yang pernah menjabat sebagai Kasdam XVII/Cendrawasih seperti dilansir Antara.

Editor : Taat Ujianto