• News

  • Religi

Dekorasi Katedral Jakarta Akomodir Eksistensi di Medsos

Dekorasi paskah di Gereja Katedral Jakarta saat Tri Hari Suci
Netralnews/Martina Rosa
Dekorasi paskah di Gereja Katedral Jakarta saat Tri Hari Suci

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Humas Gereja St Perawan Maria Diangkat Ke Surga-Paroki Katedral Jakarta Susyana Suwadie menjelaskan, secara umum dekorasi Paskah 2019 di desain tidak hanya semata untuk mendukung suasana doa dan menaikkan ke hikmat dan beribadat. Kali ini, dekorasi juga mengakomodir kebutuhan umat zaman now akan kebutuhan eksistensi di media sosial (medsos).

Desain dekorasi diwarnai dengan unsur tradisional Indonesia khususnya bernuansa budaya Jawa yang kental dengan wayang dan gunungan sebagai tema utamanya, dikemas secara tradisional modern minimalis.

"Banyak spot foto di area gereja yang dapat diabadikan dan di dokumentasikan untuk mengekspresikan diri setelah beribadah. Hal ini bisa dilakukan tanpa harus berkumpul dan berdasarkan di satu titik saja," kata Susyana, Jumat (19/4/2019).

Dekat Plaza Sumpah Pemuda, secara khusus di desain gerbang bambu secara parametrik deretan gerbang yang dipasang memutar melambangkan perjalanan jatuh bangun Yesus Kristus saat memanggul salib ke bukit Golgota, perjalanan viadolorosa karena cinta Allah yang begitu besar kepada umat manusia.

Adapun material bambu dipilih untuk menggambarkan kekuatan dan kesederhanaan lambang Tuhan yang menggambarkan dirinya untuk manusia.

Ada juga 1000 burung doa yang ditata sebagai instalasi seni bergantungan menyebar di atas langit-langit ruang dan di luar gereja. Burung-burung kertas bertulis ornamen Jawa digantung berterbangan di antara awan dengan motif mega mendung.

"Burung-burung digantung dengan pita yang berwarna-warni mengartikan kita ini Bhinneka dalam kebersamaan. Sekaligus ini merupakan wujud terjemahan dari "Tahun Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat", di mana burung doa ini melambangkan Roh Kudus yang terbang dalam bentuk burung merpati yang membawa berkat dan menampilkan hikmat kepada umat yang berada di dalam gereja," jelas dia.

Burung doa tersebut merupakan bentuk partisipasi sederhana umat untuk ikut disertakan mendekorasi gereja. Artinya gereja merupakan milik umum dan milik bersama. Pada burung, doa umat dibebaskan menuliskan intensi dan doa baik sebagai wujud pribadi maupun wujud umum.

"Keseluruhan konsep desain ini selaraskan dengan rangkaian bunga altar yang juga menggunakan aksesoris unsur tradisional Jawa, baik dalam bentuk kain batik ornamen dan material tradisional lainnya," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya