• News

  • Singkap Budaya

Mengenal Suku Buton, Suku Pelaut yang Handal dari Sulawesi Tenggara

Suku Buton
angkat9pena.wordpress
Suku Buton

BUTON, SULAWESI TENGGARA, NETRALNEWS.COM - Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang berada wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah tersebut, kini secara teritorial telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Muna.

Beberapa pendapat menyatakan bahwa nenek moyang dari orang-orang Buton adalah “imigran” yang datang dari wilayah Johor sekitar abad ke-15 Masehi yang kemudian mendirikan kerajaan Buton.

Pada tahun 1960, dengan mangkatnya sultan yang terakhir, kesultanan Buton konon “dibubarkan” tetapi tradisi-tradisi istana itu telah melekat erat pada orang-orang yang mendiami wilayah tersebut.

Mereka juga memiliki mata uang yang disebut uang Kampua yang terbuat dari kain tenun. Merupakan satu-satunya mata uang yang pernah beredar di Indonesia. Berdasarkan tradisi cerita rakyat Buton, Kampua konon pertama kali diperkenalkan oleh Ratu kerajaan Buton bernama Bulawambona yang memerintah sekitar abad ke-14 Masehi.

Karakter dari suku Buton adalah pelaut, hampir sama dengan suku-suku yang berada di kepulauan Nusantara. Suku Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.

Sebagian besar orang-orang Buton bermata pencaharian sebagai pelaut dan nelayan. Perairan di wilayah pulau Buton dan di daerah Mina diberkati dengan hasil ikan tuna yang melimpah. Usaha-usaha lain dalam memenuhi kebutuhan hidup dari orang Buton juga berasa dari kegiatan pertanian dan perkebunan.

Sejumlah kearifan dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkiloyang merupakan modal sosial budaya Suku Buton untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup mereka. Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat orang Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak lama dalam tradisi mereka.

Atau seperti yang dilukiskan Wikipedia, suku Buton adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di Kepulauan Buton. Suku Buton juga dapat di temui dengan Jumlah yang Signifikan di Luar Sulawesi Tenggara Seperti di Maluku Utara, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.

Seperti suku-suku di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok Nusantara dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.

Selain merupakan masyarakat pelaut, masyarakat Buton juga sejak zaman dulu sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, di antaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia. 

 Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi.

Jika melihat dari Sejarah Suku Buton dan asal usulnya dapat diketahui dengan mengungkapkan lebih dahulu sejarah kedatangan Sipanjonga dan kawan-kawannya, yang dikenal dalam sejarah wolio dengan nama Kesatuannya “Mia Pata Mianan”.

Artinya,  “empat orang” lebih jelasnya dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati dan Siuamanajo. 

Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari Raja-raja di Wolio, keempat orang tersebut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, di mana tibanya di Buton dapat diperkirakan berkisar akhir abad ke 13 atau setidaknya pada awal abad ke 14. 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber