• News

  • Singkap Budaya

Dua Ramalan Jawa Berusaha Menjawab Akhir dari Pandemi Covid-19

Ilustrasi Sabda Palon yang bentuknya menyerupai Pulau Kalimantan
foto: istimewa
Ilustrasi Sabda Palon yang bentuknya menyerupai Pulau Kalimantan

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM – Wabah corona atau COVID-19 telah menjungkirbalikkan kebiasaan manusia di seluruh dunia. Dalam rangkaian itu pula manusia mendamba pencerahan baru.

Selain berjuang  melawan pandemi di bidang kedokteran melalui upaya penemuan vaksin, tak sedikit masyarakat Indonesia untuk menengok ulang tradisi dan mitologi lama dalam memahami pandemi corona yang menimbulkan penderitaan umat manusia.

Di Jawa, setidaknya ada dua “ramalan” yang mengungkap pesan di balik bencana COVID-19. Dua hal tersebut akan dicoba sajikan Netralnews kepada pembaca sekalian.

Ramalan Sabda Palon Naya Genggong

Kesandung wohing pralaya, kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa, kayu gung brasta sami,

Tinempuhing angin gunung, Kathah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,  Lamun tinon pun kados samodra bena

Artinya:
Bahaya penyakit luar biasa, di sana sini banyak orang mati.
Hujan tidak tepat waktunya,

Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya.
Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang

(Ramalan Sabdo Palon Naya Genggong)

Di tengah wabah corona, gairah menengok tradisi leluhur tumbuh kembali. Mereka berusaha menyakini simbol-simbol masa lalu akan muncul kembali, termasuk kejayaan.

Salah satu keyakinan yang dipercayai adalah kebangkitan Kerajaan Majapahit lima ratus tahun setelah kejatuhannya.

Dalam mitologi dan spiritual era Raja Majapahit terakhir yakni Prabu Brawijaya V disebutkan bahwa Sabda Palon dan Naya Genggong konon sangat marah ketika Prabu Brawijaya V takhluk pada kekuatan Islam di Demak.

Konon, Sabda Palon dan Naya Genggong berjanji suatu ketika akan kembali mengambil alih Jawa setelah 500 tahun dan munculah pendapat beberapa orang bahwa masa itu jatuh pada tahun 2020-2030.

Kapan Prabu Brawijaya V menjadi mualaf karena pengaruh Sunan Kalijaga? Diperkirakan peristiwa itu terjadi pada 1478 sehingga 500 tahun kemudian jatuh pada 1978.

Tak ada bukti bahwa pada tahun 1978 ada peristiwa besar kembalinya kekuasaan Majapahit. Anehnya, beberapa orang menarik ulang bahwa masa kejayaan itu akan jatuh pada tahun 2020.

Ada yang berpendapat bahwa di tahun 2020, kejayaan Nusantara ditandai dengan menguat kembalinya kehidupan desa yang masih memegang teguh tradisi dan budaya leluhur.

Ketika terjadi wabah corona, diperkirakan, kehidupan masyarakat desa akan menjadi tulang punggung perekonomian tatkala kehidupan perekonomian kota dipaksa  mati akibat wabah corona, yang di antaranya ditandai dengan pemberlakuan PSBB.

Pemahaman lain juga menyebutkan bahwa kembalinya Sabdo Palon ditandai dengan terwujudnya pemindahan Ibu Kota yang baru di Kalimantan. Apa bubungannya?

Sabdo Palon sering dipercaya sebagai sosok "Semar" dalam tokoh pewayangan. Sosok ini menyerupai Pulau Kalimantan. Maka, keputusan Presiden Jokowi memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan merupakan pertanda kembalinya kejayaan yang dimaksud.

Masalahnya, dengan munculnya wabah corona, apakah rencana pembangunan ibu kota tidak akan terpengaruh dan terhambat atau bahkan gagal?

Indonesia adalah Nusantara

Pendapat kedua adalah bahwa Indonesia sebenarnya adalah Nusantara. Artinya, semestinya, bukan dinamakan Indonesia tetapi Nusantara. Konon bila Indonesia berani melakukan rebranding nama negara menjadi Nusantara, akan menyambungkan sejarah yang sekian lama terputus.

Konsepsi Nusantara sebenarnya sudah ada sejak era Singasari yakni kerajaan pendahulu Majapahit. Di era Raja Kertanegara, konsep mempersatukan Nusantara sudah ada namun kemudian baru terwujud di era Hayam Wuruk, raja Majapahit.

Saran merubah nama menjadi Nusantara juga pernah diungkap oleh lulusan metafisika (ilmu tentang hal yang tak terlihat) dari Amerika Serikat, Arkand Bodhana pada tahun 2014.

Arkand mengaku selama 32 tahun menggeluti Kode Rahasia Nama-Nama dan ia menghitung kebaikan-keburukan sebuah nama melalui aplikasi yang ia desain "Secret Codes Series” atau "Arkand Series”.

Dari penghitungannya tersebut, nama Indonesia berstruktur negatif dan berpotensi besar hancur pada tahun 2020 saat polaritas negatif terbentuk.

Polaritas negatif ini berlangsung hingga tahun 2023 jika nama Indonesia tidak diubah. Nama yang positif untuk Indonesia menurut konsultan metafisika ini adalah nusantara.

Meski saran perubahan nama dari Indonesia menjadi nusantara itu sudah digaungkan Arkand sejak tahun 2014 tampaknya tidak ada yang peduli dengan imbauan Arkand meski ia sempat tampil di sebuah acara bincang-bincang populer sebuah stasiun TV di Indonesia.

Tak ada pula yang mengaitkan ide Arkand itu dengan situasi politik di dalam negeri. Namun berhubung sekarang sudah menjelang tahun 2020 dan nama Indonesia masih dipertahankan, benarkah perhitungan "Arkand Series" terkait Indonesia akan hancur gegara nama pada tahun 2020?

Sebaliknya, benarkah jika mengganti nama menjadi Nusantara, Indonesia akan unggul melawan corona menuju kejayaan di dunia internasional?

Terlepas dari pandangan Arkand, di depan mata, wabah corona harus diperangi. Presiden Jokowi telah melakukan berbagai upaya  melawannya.

Untuk itu, segenap rakyat Indonesia wajib bergotong royong dan bersatu dalam upaya tersebut.

Masalah ramalan Sabda Palon Naya Genggong dan penggantian nama menjadi Nusantara, biarlah menambah khasanah kita untuk tidak melupakan sejarah panjang pergumulan dan dialektika ke-Indonesiaan.  Waktu akan menjawabnya.

Editor : Taat Ujianto