• News

  • Singkap Budaya

Kisah Malapetaka Usai Sebar Hoax Ibu Kandung Tewas di Laut

Ilustrasi gunung meletus dan lahar panas
foto: istimewa
Ilustrasi gunung meletus dan lahar panas

TERNATE, NETRALNEWS.COM - Menyusuri kekayaan budaya Nusantara terasa tak ada habisnya. Budaya itu tidak hanya berupa ritual, upacara adat, pakaian tradisional, sistem kepercayaan, manuskrip, tetapi juga berupa cerita rakyat. Semua itu tergolong dalam objek kebudayaan.

Di Kepulauan Maluku, tepatnya di Halmahera, ada satu cerita rakyat yang menjadi ciri khas budaya masyarakat setempat. Namun sebelum kita membahas budaya tersebut, ada baiknya kita menengok latar belakang geografis dan asal-usul daratan Kepulauan Maluku.

Asal-usul Kepulauan Maluku dalam pendekatan ilmu geologi, geografi, dan arkeologi, cukup penting sebagai pijakan dalam menempatkan konteks cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun dari para leluhur masyarakat di Pulau Halmahera.

Daratan dan Masyarakat Purba

Daratan Maluku merupakan satu bagian dengan daratan Pulau Sulawesi. Menurut ahli geografi bernama Alfred Russel Wallace (1823-1913), daratan ini memiliki keunikan yang bisa ditelisik dari kekhasan flora dan faunanya.

Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dahulu dipisahkan oleh laut dangkal, akibat penurunan permukaan bumi. Walaupun terpisah, semua pulau itu sebenarnya menyatu dengan daratan benua Asia. 

Berbeda dengan Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Daratan ini diperkirakan sudah terbentuk dan berbeda asal-usulnya dengan daratan Asia. Buktinya adalah adanya perbedaan fauna di antara kedua wilayah.

Daratan di bagian Indonesia Timur (Papua) merupakan daratan yang terhubung dengan Benua Australia. Saat daratan ini terbentuk, diperkirakan juga sudah ada daratan Sulawesi dan Maluku. Hal ini juga bisa dibuktikan dari perbedaan faunanya.

Jadi, Kepulauan Maluku dan Sulawesi adalah bagian tengah, yang terpisah asal-usulnya secara geologis dengan wilayah Indonesia bagian Barat dan Timur. Kesimpulan ini diperoleh Wallace dengan mengidentifikasi jenis fauna di ketiga daratan Indonesia tersebut.

Contohnya, gajah tidak ditemukan di Papua sedangkan hewan berkantung tidak ditemukan di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, anoa tidak akan ditemukan di Papua, Jawa, Sumatera, dan Kalimantan tetapi hanya ditemukan di Sulawesi.

“Dalam setiap kasus, jumlah individu fauna suatu daerah sampai tahap tertentu dapat menjadi tolok ukur seberapa lama suatu daerah terisolasi dari daerah di sekitarnya,” tulis Wallace dalam bukunya Kepulauan Nusantara (2010).

Sedangkan menurut hasil temuan ahli arkeologi, masyarakat yang tinggal di wilayah Maluku, diperkirakan sudah dihuni manusia sejak sekitar 32.000 tahun yang lalu.

Besar kemungkinan, Maluku telah menjadi rumah bagi bangsa-bangsa semi-nomadik Ras Melanesia. Sayangnya, gua-gua prasejarah dan fosil-fosil yang ditemukan di daerah Seram bagian Utara dan di wilayah Taniwel, hingga kini masih belum bisa diungkapkan.

Bukti lain yang lebih muda adalah temuan batu permata dan perak yang biasa digunakan sebagai mata uang di Semenanjung India sekitar 200 sebelum Masehi, telah ditemukan di Kepulauan Maluku.

Wilayah ini selanjutnya menjadi daerah yang diperebutkan oleh para pedagang dari Arab, Tiongkok, dan disusul oleh bangsa Eropa karena terkenal kaya akan rempah-rempah.

Kerajaan Kuno Berdasar Tradisi Lisan

Telah disinggung di awal bahwa Kepulauan Maluku sudah dihuni manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. Sejak dihuni, manusia purba yang paling awal, dipastikan selalu berusaha bertahan dari perubahan alam.

Sebagai wilayah yang dilalui cincin gunung berapi, tentu saja membuat mereka harus mampu bertahan hidup ketika berhadapan dengan ganasnya letusan gunung berapi.

Perjuangan peradaban kuno di Maluku, khususnya di Pulau Halmahera, tercermin dalam budaya tutur mereka yaitu tentang legenda terjadinya Tanjung Menangis, Halmahera.

Cerita rakyat itu cukup unik karena bisa menjadi gambaran bagaimana kehidupan masyarakat Halmahera kuno harus berhadapan dengan bencana alam akibat letusan gunung berapi. Bagaimanakah kisah itu?

Alkisah, dahulu kala berdirilah kerajaan di Pulau Halmahera. Suatu hari yang kelabu, seluruh rakyat di kerajaan itu berduka cita karena raja mereka telah mangkat.

Sang Raja yang telah wafat itu meninggalkan seorang ratu yang kini menjadi janda dan juga meninggalkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Kedua anak laki-laki raja bernama Baginda Arif dan Baginda Binaut, sedangkan anak perempuannya bernama Baginda Nuri. 

Di antara ketiga anak itu, Baginda Binaut adalah anak yang sangat berambisi mewarisi tahta ayahnya. Sayangnya, niatnya diwujudkan dengan cara-cara yang brutal dan membuktikan bahwa dirinya adalah seorang calon raja yang zalim.

Ia menghasut patih dan anggota pasukan kerajaan bahwa siapapun yang mau membantu merebut kekuasaan ayahnya, akan diberikan imbalan emas dan perak. Sebagian pasukan pun tergiur.

Mereka kemudian menangkap semua pihak yang menentang kehendak Baginda Binaut. Ternyata, di antara mereka yang ditahan adalah ibu, kakak, dan adiknya sendiri.

Ibu dan saudara-saudaranya menasehati Baginda Binaut bahwa tahta raja seharusnya diberikan kepada anak tertua. Baginda Binaut tidak mau mendengar nasehat itu dan tetap ngotot untuk merebut tahta kerajaan.

Karena tidak mendapat restu, Baginda Binaut kemudian menjebloskan ibu dan saudara-saudaranya ke dalam penjara. Baginda Binaut selanjutnya menyebarkan berita bohong (hoax) kepada rakyatnya bahwa ibu kandung dan saudaranya telah tewas dalam suatu kecelakaan di laut.

Di dalam penjara, Sang Ratu atau ibu kandung Baginda Binaut hanya bisa menangis. Ia tidak menyangka anaknya bisa berbuat kejam dan sewenang-wenang terhadapnya.

Bersama dengan anaknya yang lain, ia berusaha bertahan hidup dan terus berdoa agar Baginda Binaut segera bertobat dan kerajaannya bisa terhindar dari angkara murka.

Merasa sudah tidak ada yang menjadi penghalang, Baginda Binaut kemudian mengikrarkan dirinya sebagai satu-satunya pewaris kerajaan. Ia memerintah rakyatnya dengan tangan besi. Rakyat diperas dengan menerapkan pajak tanah, hewan, dan hasil bumi secara sewenang-wenang.

Baginda Binaut ingin membangun istana baru yang megah. Sayangnya, cara yang ditempuh bukan mencerminkan sebagai sosok raja yang adil dan bijaksana, tetapi mencerminkan sosok raja zalim yang tamak, lalim, dan kejam.

Kejayaan Baginda Binaut ternyata tidak berlangsung lama. Sementara istana megah sudah hampir selesai, terjadilah gempa bumi dahsyiat dan disusul dengan letusan gunung berapi di pulau itu.

Istana porak-poranda oleh datangnya lahar panas yang menyembur dari kawah gunung. Lahar itu menghanguskan semua benda dan semua harta kemewahan milik Baginda Binaut. Ia sangat berduka dengan bencana itu, namun tak kuasa menghadapi kemarahan alam.

Dalam sedihnya, Baginda Binaut berusaha menyelamatkan diri dari kejaran lahar panas. Ia terus berlari, namun tenaganya semakin habis. Baginda Binaut baru menyadari atas kekejaman yang telah ia lakukan.

Ia teringat ibunya yang diperlakukan dengan kejam. Ia kapok dan ingin meminta maaf. Sambil menahan sakit karena kakinya melepuh, ia terus berteriak, “Ampuni aku Ibu! Ampuni aku Ibu! Jangan hukum anakmu! Saya ingin bertobat!”

Pertobatan Baginda Binaut sepertinya terlambat. Ia terjatuh karena kelelahan. Lahar panas pun menggulung badannya hingga terbawa ke pesisir pulau. Baginda Binaut tewas mengenaskan.

Tubuhnya terbakar dan menjadi satu dengan lahar panas. Tempat dimana jasad Baginda Binaut digulung lahar panas kemudian berubah menjadi sebuah tanjung.

Sementara itu, ibu dan saudara-saudara Baginda Binaut, ternyata berhasil selamat karena ditolong oleh beberapa pasukan yang telah mengetahui kejahatan Baginda Binaut. Mereka kemudian berlari menuju hutan, sesaat sebelum terjadi letusan gunung berapi.

Ketika tahu bahwa Baginda Binaut telah tewas dan jasadnya menjadi sebuah tanjung di Pulau Halmahera, maka Sang Ratu kemudian menamakannya Tanjung Menangis.

Di tanjung itu, konon sering terdengar suara tangisan Baginda Binaut yang memohon ampunan kepada Sang Ratu, ibu kandungnya sendiri.

Editor : Taat Ujianto