• News

  • Singkap Budaya

Apa Ungkapan Khas Arek Suroboyo? Ada 9, Apa Itu?

Wali Kota Surabaya, Bu Risma dan Arek-Arek Surabaya
hipwee
Wali Kota Surabaya, Bu Risma dan Arek-Arek Surabaya

SURABAYA, NETRALNEWS.COM - Setiap suku dan kota di mana pun di Nusantaa ini, tentu memiliki ciri khas masing-masing dalam berinteraksi satu sama lain. Nah, 9 ungkapan ini hanya dimengerti oleh orang Surabaya.  Orang-orang dari suku dan/atau daerah lain, hanya bisa mengatakan, kok begitu?  Bahasa Indonesia kok “diperkosa?”

Ungkapan-ungakapan itu sebagai berikut

1.Ada tambahan kata Pek... 

“Eh... gila Pek!! Itu Angel sama mantannya Pek!!!”

“Iyoo Pek!”

“Sumpah, Pek!”

“Gila Pek!”

2. Kalau berbicara harus ngotot (padahal sebenarnya biasa aja nadanya)

 “Kon tau Yo.... Ternyata gitu-gitu Angel juara 1!!”

“Sumpah?”

“Kok iso?”

Padahal, aslinya cerita cuma biasa saja. Cuma memang nada orang Surabaya naik semua. Plus belum ditambah sama suara yang keras. Mungkin itulah yang dibilang kalau orang Surabaya dan Jawa Timuran itu keras???

3. Teman baik : nggak saling sebut nama, tetapi pakai alternatif lain seperti kon, c*k, dut, dan lainnya.

 “Kon mau kemana?” (kamu mau kemana?)

“Woy apa kabar, c*k?” (apa kabar?)

Coba bedakan kalau Anda belum berteman akrab, pasti manggilnya sopan dan tanpa tambahan. Meski begitu, bagi orang Surabaya ini salam sayang gitu. Rasanya belum bisa cerita dan tertawa lepas dengan teman kalau belum saling memanggil dengan sebutan yang satu ini.

4. Selalu ada tambahan “tha”, apa pun itu.

 “Wih, Angel pacaran sama Rico tha?”

“Lho, sing nggena tha!” (Lho, beneran?)

“Iyo, kon belum tau tha?” (Iya, kamu belum tahu?)

Bagi orang Surabaya, tha itu bisa dijadikan salah satu kalimat tanya. Jadi, kalau diajak ngomong dan ada akhiran tha ini, Anda bisa langsung tahu kalau sedang ngobrol sama orang Surabaya dan dia sedang bertanya. Begitu! 

5. Jangan lupa dengan tambahan “seh” dengan nada agak sewot – yang sebenarnya tidak sewot, dan artinya adalah “sih”

 “Ini gimana seh?”

“Gini lho maksudnya, bener nggak seh?”

“Mestie iya seh.”

Jangan emosi dulu, ini khas-nya Surabaya kok. Kita nggak marah, cuma kebiasaan.

6. Hobi menggunakan sing... 

“Mau sing mana, mbak?”

“Sing kanan bawah ini lho!”

“Sing ini tha?”

“Iyo... sing itu!”

Padahal aslinya langsung sebut barang kan enak. Tapi maklum, ada yang kurang kalau nggak pakai sing. Yang penting bukan karena kebanyakan makan singkong. 

7. Suka menambah-nambahkan huruf “m” dalam semua kata.

 “Kok mbalek sekarang? Tunggu bentar lagi dong!” (kok kembali sekarang?)

“Gak iso c*k, mau berangkat ke mbatu malam iki.” (mau berangkat ke batu)

“Mbatu lagi... gak mblenek tha?” (batu lagi... gak bosan?)

Yuk mari berpikir, kira-kira kata apa lagi yaa yang bisa ditambah dengan m ini? Memang orang Surabaya kreatif kok, khususnya kreatif dalam berbahasa!

8. Memberi penekanan dengan huruf “U” supaya terlihat lebay.

 “Guuilaa... liaten Angel tha!”

“UUayuu pekkk... sumpah!”

“Suuangar... kok iso yo UU…ayu kayak gitu.”

Uuuuaneh ya? Nggak kok, kan asyik dengan bahasa seperti ini. Semakin banyak "u"-nya, semakin banyak juga kamu bisa berbicara dengan temanmu. Hebat!

9. Entah di mana pun dan kapan pun, suka mengeluarkan kata-kata mutiara (c*k, as*) kepada teman-teman baiknya.

Onok sing kurang nggak rek?

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : IDN Times