• News

  • Singkap Sejarah

Gairah Terlarang di Atas Ranjang Kolonial, Wabah Penyakit Menjalar

Seorang babu di tengah para prajurit Belanda
foto: dok. Flip Peeter.s
Seorang babu di tengah para prajurit Belanda

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada prostitusi maka ada pelacur, pria hidung belang, dan rentan tertular penyakit kotor. Semuanya berkelindan seperti tidak bisa dipisahkan.

Asal-usul prostitusi bisa jadi sudah ada sejak peradaban manusia paling awal. Sepanjang sejarahnya selalu diiringi tragedi dan menjadi perbincangan yang tak pernah ada hentinya.

Di zaman modern, keberadaannya pun bukan malah menghilang namun mampu bertransformasi secara modern pula. Prostitusi mampu menyesuaikan zaman dan justru dikemas dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Melongok keberadaan prostitusi di era Kolonial, banyak catatan sejarah mengungkapkan dampak buruk dari praktik tersebut.

Selain persoalan moral, prostitusi menimbulkan wabah penyakit kelamin yang menjalar secara massal. Penyakit ini tidak hanya menjangkiti para pelacur, tetapi juga menjangkiti pria hidung belang yang menjadi pelanggannya dari mulai tentara, orang kaya, hingga para pejabat.

Sementara itu, pengobatan dan rumah sakit di kala itu masih sangat terbatas. Maka bisa dibayangkan, sementara prostitusi mewabah, diam-diam banyak orang pula yang mati karena penyakit kelamin.

Sekitar tahun 1874, setiap tahun rata-rata 2.000 serdadu telah terjangkit penyakit sipilis. Selain sipilis, adala sekitar 5.000 - 6.000 kasus penyakit menular lainnya. Semua itu, penyebabnya adalah karena praktik prostitusi.

Sementara menurut catatan Gert Oostinde dan kawan-kawan bercerita, otoritas militer Belanda sepanjang tahun 1945-1950 sempat berusaha mencegah pelacuran karena ancaman bahaya penyakit kelamin.

Usahanya ternyata sia-sia karena psikologi para serdadu akan tidak terjaga bila hasratnya tidak dipuaskan. Seks sangat penting bagi serdadu di saat perang sedang berkecamuk. 

Praktik prostitusi di era Kolonial sudah ada sejak Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) bercokol di Batavia yakni abad ke-17. Masyarakat Batavia kala itu menyebutnya “cabo”. Kata ini berasal dari bahasa Cina, “Caibo” yang artinya wanita malam.

Dari berbagai sumber sejarah disebutkan bahwa prostitusi paling awal berada di depan Stasion Beos (kini Setasiun Kota), kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Daerah itu biasa dinamakan Macao Po.

Pelanggannya bukan masyarakat rendahan tetapi kalangan atas seperti pengusaha Tionghoa dan para pejabat VOC. Kemdian muncul juga praktik prostitusi kalangan masyarakat bawah yaitu di daerah gang Mangga.

Gang Mangga terletak di antara Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua Raya, di Jakarta Pusat. Jejak prostitusi di kawasan ini bahkan masih bisa ditelusuri hingga sekarang.

Para pelacur diorganisir oleh seorang “mami” yang di kala itu dipanggil sebagai “nenek bola”. Kencan tidak hanya dilakukan di lokalisasi tetapi kadang dilakukan di dalam Hotel Haikou yang kini berubah nama menjadi Hotel Baru.

Menengok latar belakang pelanggannya ternyata beragam, Penikmat prostitusi tidak hanya orang miskin tetapi juga pengusaha, pejabat, pribumi, orang Eropa, orang Tionghoa, dan kaum Indo. Fakta ini bisa ditelusuri dari berbagai tragedi yang pernah tercatat dalam sejarah.

Orang elite dan kaya yang paling mencuat adalah Willem Frederick Gemser Brinkman, seorang anggota Societeit Concordia Batavia. Ia ditangkap dan dihukum mati (namun bunuh diri sebelum eksekusi) karena terbukti membunuh seorang “wanita publik” bernama Fientje de Feniks.

Pelacur yang masih berumur 19 itu ditemukan telah tewas mengenaskan pada 17 Mei 1912. Eksekusi pembunuhan dilakukan oleh pembunuh bayaran bernama Silun. Di persidangan, ia mengaku diperintah oleh Gemser Brinkman.

Brinkman sebenarnya ingin memonopoli Fientje dengan menjadikannya gundik. Karena ditolak, ia kemudian dendam dan melampiaskan kekesalannya dengan mengirim pembunuh bayaran.

Brinkman sebenarnya tidak menyangka bahwa aksinya akan dibawa ke pengadilan. Rosihan Anwar diadili dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1 (2004: 155) menulis, “Dia tak bisa percaya bahwa seorang kulit putih yang kaya harus membayar dengan nyawanya sendiri karena membunuh pelacur Indo.”

Selain orang Eropa, ada juga pria hidung belang kaya dari etnis Tionghoa. Kasus Oey Tambahsia adalah salah satu yang paling terkenal.

Lelaki kaya raya ini dihukum mati dengan digantung pada tahun 1856. Selain terkenal sebagai playboy kelas kakap, ia dinyatakan terlibat beberapa kasus pembunuhan.

Bagi anak muda yang tertarik menjadi anggota militer di Batavia, selain candu, keberadaan pelacur di sekitar tangsi militer adalah salah satu daya tariknya. 

Dalam buku ABRI: Siasat Kebudayaan, 1945-1995 (1995: 17), Budi Susanto dan ‎A Made Tony Supriatma menyebutkan, “Akses terhadap pelacuran menjadi salah satu daya tarik untuk menjadi tentara.”

Anggota militer kolonial (KNIL) yang memiliki gaji lumayan, biasanya akan memelihara seorang gundik atau nyai. Bagi yang berpangkat rendahan, cenderung akan menikmati pelacuran.

Dalam memoar berjudul Siapa Sudi Saya Dongengi (1996: 23), Boediardjo menyebutkan bahwa saat anggota KNIL menyalurkan hasrat seksual kepada pelacur, “sebelum 'main' harus diusapi saleb SN sampai pedih. Inilah satu-satunya cara pencegahan penyakit kelamin.”

Kebiasaan tentara melacur menyebabkan lahirnya lokalisasi tak jauh dari tangsi militer. Mayor Jenderal Soemarno Sosroatmodjo menulis memoarnya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya (1981: 229), katanya, "Biasanya, dimana ada tangsi KNIL, di kota itu tentu terdapat pula wanita tuna susila."

Sementara itu, wnita pelacur atau PSK, juga memiliki tingkatan. Pelacur pribumi banyak menawarkan dirinya kepada serdadu Belanda kelas bawah. Dan saat “dipakai” mereka sering mengalami perlakuan yang tidak manusiawi.

Satu orang PSK bisa ditiduri oleh banyak pria. Setelah dibayar, ia akan dibaringkan lalu ditiduri para serdadu bergantian. Saat yang satu bermain, yang lainnya menonton. Di mata mereka, hal ini menjadi bagian pertunjukkan kotor yang mereka cari.

Perlakuan tersebut juga menjadikan bukti bahwa PSK pribumi, dimata serdadu Belanda, martabatnya sangat rendah. Kesan buruk itu terus berlangsung hingga era kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 (2016: 260) karya Gert Oostinde dan kawan-kawan, ada seorang serdadu Belanda bernama Marinus Art mengaku, “Perempuan-perempuan hitam itu gampang sekali didapatkan, tapi saya tidak sudi karena 80 persen dari mereka tidaklah sehat.”

PSK dari Jepang sangat berbeda kelas dengan pelacur pribumi. Kisah mengenai pelacur Jepang terdapat dalam buku Oliver Johannes Raap berjudul Kota di Djawa Tempo Doeloe (2017: 135) yang salah satunya mengisahkan daerah bernama Cantian di Surabaya, Jawa Timur.

Daerah itu dahulu melupakan pusat prostitusi yang terdiri dari pelacur-pelacur asal Jepang. Maka tidak mengherankan bila kemudian dinamakan sebagai kawasan “Kembang Jepun”.

Pelacur asal Jepang yang dikirim ke Hindia Belanda tidaklah sedikit. Dalam catatan Merle Calvin Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008), setidaknya ada setengah juta perempuan dikirim dari Jepang sejak tahun 1868.

Di masa itu, mereka tergolong sebagai pelacur elite yang digemari orang kaya dan para pejabat. Konon, pelayanan pelacur asal Jepang sangat memuaskan. Maka tak heran bila ada yang kemudian menjadikannya sebagi gundik atau selir.

Kisah terakhir dunia prostitusi yang menggemparkan Hindia Belanda adalah ketika muncul peristiwa terbongkarnya seorang agen spionase asing berkebangsaan Belanda saat menyamar menjadi pelacur kelas kakap.

Peristiwa yang menghebohkan dunia internasional itu terjadi di masa Perang Dunia I (1914-1918) sedang berkecamuk.

Nama perempuan itu adalah Margaretha Gertruida Zelle yang terkenal dengan nama samaran Mata Hari. Ia akhirnya dihukum mati di hadapan regu tembak pada 15 Oktober 1917 di pinggir kota Paris.

Sebelum aksinya terbongkar, ia terkenal sebagai penari erotis dan sekaligus PSK yang melayani para pejabat Eropa. Ternyata, ia adalah seorang agen spionase yang dianggap sangat merugikan negara Perancis.

Rupanya, saat berkencan dengan golongan aristokrat atau pejabat, ia meluncurkan aksinya untuk mengorek keterangan yang diperlukan dari pria yang menjadi pelangganya.

Editor : Taat Ujianto