• News

  • Singkap Sejarah

Wanita Jadi Sumber Konflik Pekerja, Homoseks dan Sipilis Menjalar

Kondisi Deli sudah ramai sejak abad ke-20
Tenbi Rumah Budaya
Kondisi Deli sudah ramai sejak abad ke-20

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Perkebunan tembakau yang didirikan Kolonial Belanda di Deli, Sumatera pada tahun 1879 mengalami kesuksesan. Tembakau yang dihasilkan perkebunan yang biasa disebut sebagai Deli Planters Vereeniging digandrungi pasar dunia.

Kesuksesan itu sebenarnya tak lepas dari jasa ratusan ribu kaum pekerja atau buruh perkebunan yang kala itu biasa disebut dangan sebutan kuli (kadang ditulis koeli).  Pada mulanya, banyak kuli Cina yang didatangkan ke tanah Deli. Di masa selanjutnya, didatangkan pula kuli dari Jawa, Keling, dan Suriname.

Dalam catatan AJ Reid seperti dikutip Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli, Politik Kolonial pada Awal Abad Ke-20 (1997: 55), orang beretnis Tionghoa yang didatangkan ke Deli dari Penang pada 1879, berjumlah 3.529 orang dan dari Singapura sekitar 500 orang.

Sementara dalam catatan RP Suyono, berjudul Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial (2005)  disebutkan “Pada tahun-tahun pertama, ondernemer telah berhasil mendatangkan kuli-kuli dari Tiongkok sebanyak 3.979 orang”. Jumlah itu masih jauh dari cukup.

Antara tahun 1888 sampai 1900, tak kurang dari 70.000 orang Tionghoa berhasil didatangkan kembali, terutama dari Tiongkok atau Cina Selatan. Sedangkan jumlah kuli seluruhya pada tahun 1900 sekitar 87.938 orang.

Pada tahun 1912, jumlah kuli laki-laki semakin meningkat dan mencapai lebih dari 100.000 orang dibanding kuli perempuan. Mereka dipekerjakan di lahan perkebunan yang jumlahnya lebih dari 55 lokasi.

Dari total keseluruhan, jumlah pekerja perempuan hanya berkisar 10 hingga 12 persennya. Ini pula yang menyebabkan sumber masalah utama di perkebunan Deli.

Wanita menjadi bibit perselisihan antar kuli, perselisihan buruh dengan mandor dan tuan belanda, hingga maraknya prostitusi dan perilaku menyimpang lainnya.

Saat kuli menerima upah panjar (upah di awal kontrak), bukan digunakan untuk pegangan awal kerja, tetapi banyak yang menghamburkan di meja judi dan prostitusi. Celakanya, kondisi itu justru sengaja diciptakan untuk melahirkan ketergantungan pada pihak perkebunan.

Ketika hutang buruh semakin besar, maka semakin sulit ia keluar atau meninggalkan tanah Deli. Agar tetap bisa hidup, ia harus terus bekerja menjadi buruh perkebunan.

Sementara itu, pada 1 Juni 1917, ada sebuah laporan yang dikutip RP Suyono, berkisah tentang seorang administratur di Deli. Ia bertugas memeriksa semua kuli. Setiap kuli perempuan yang cantik lewat, namanya akan diberi tanda garis “sebagai kode akan dipakai di kemudian hari.”

Pernah ada kejadian, seorang kuli mengadu ke atasan karena istrinya “dipakai” oleh salah satu asisten perkebunan. Kuli itu berharap agar isterinya dikembalikan.

Istri kuli yang “dipakai” para ondernemer Belanda di Deli ternyata diakui secara terang-terangan. Orang Belanda itu menggunakan kuli perempuan sebagai “nyai” atau “gundik” yang bertugas mengurus rumah tangganya dan menjadi teman tidur.

Pada tahun 1915, terjadi kehebohan di pekebunan Deli. Dua orang asisten Belanda di perkebunan dikabarkan telah dibunuh oleh kuli akibat perebutan perempuan. Hal ini menyadarkan dan menjadi keprihatinan bagi para pejabat Belanda di Deli.

Oleh sebab itu, pada tahun 1919, Deli Maatschappij membuat perubahan sistem perekrutan bagi orang Belanda yang akan bertugas di Deli. Sebelumnya disarankan membujang, kemudian diubah dengan memperbolehkan menikah.

Hubungan intim orang Belanda dengan buruh perempuan tidak hanya membahayakan dirinya tetapi juga menjadi sumber keonaran antar kelompok kuli karena saling mencurigai antara satu dengan lainnya.

Sementara itu, pada 1902 seorang ahli hukum Belanda sekaligus pemimpin redaksi De Sumatera Post yang bernama Mr. J. van den Brand, pernah menerbitkan sebuah brosur berjudul Milioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli).

Dalam catatannya ia menggambarkan bahwa kuli perempuan Jawa, agar bisa mendapatkan uang 100 sen, ia harus melayani seks para kuli Tionghoa sebanyak dua puluh kali. Dengan uang itu, ia bisa membeli selembar kain sarung.

“Jangan heran bahwa wanita sebagai itu (pelacur, red) untuk memiliki sehelai sarung sebagai penutup badannya, harus menjual diri,” tulis Brand dalam brosurnya.

Bagi kuli yang tak mampu memakai jasa pelacur, muncul perilaku menyimpang yaitu homoseksual. Mengapa bisa demikian? Orientasi seksual kaum lelaki ketika dalam kondisi sedemikian rupa tertekan ternyata bisa berubah.

Jan Breman menyebutkan bahwa kebiasaan homoseksual dibawa oleh kaum buruh Tionghoa (kadang ditulis Cina). Bahkan ada pula yang memiliki kecenderungan pedofil.

Di tahun 1900, sudah ada generasi pertama anak-anak Jawa yang lahir di perkebunan Deli. Anak-anak ini memiliki temperamen lebih kasar dibandingkan orang Jawa di kempung kelahirannya.

Mereka sejak kecil juga seudah membantu orang tuannya di ladang perkebunan. Dan anak-anak inilah yang diincar kaum pedofil.

“Anak-anak itu mereka namakan anak Jawi, dan para pengawas punya hak pertama atas diri mereka,” tulis Breman (1997). Akibatnya pun bisa ditebak. Mana ada orang tua yang mau terima jika anaknya diperlakukan kurang ajar?

Sementara itu, seorang kuli laki-laki yang bersedia “dipakai” oleh kaum homoseksual, akan menjajakan dirinya secara terang-terangan di barak-barak kuli.

Wahyu Putra Kelana dalam skripsinya berjudul Pelacuran pada Wilayah Perkebunan Deli 1870-1930, di Universitas Sumatera Utara, menuliskan  “Kepuasan yang dirasakan oleh salah seorang kuli pada saat berhubungan seksual, meski terhadap sesama jenis menjadi penarik perhatian kuli-kuli lain. Hal inilah yang menyebabkan praktik homoseksual meluas di kalangan kuli Cina.”

Berbeda dengan kuli dari Cina, untuk para kuli dari Jawa, homoseksual bukan menjadi sesuatu yang menarik. Mereka tetap memilih hubungan intim dengan kaum perempuan.

Dalam keterangan residen Sumatera Timur P.J. Kooreman tahun 1903 seperto dikutip Breman, disebutkan, “Laki-laki Jawa tidak begitu pilih-pilih dalam soal perempuan. Tidak begitu memperhatikan kehidupan masa lalu atau kecantikan lahiriah bahkan usianya.”

Perilaku seorang kuli dari Jawa akan mudah ditebak. Sesudah menerima upah, ia akan segera mendatangi lokasi dimana terdapat praktik prostitusi. Sebagian pelacurnya juga adalah kuli perempuan di perkebunan.

Para pelacur akan berdandan menor begitu tiba hari pembagian upah kepada kaum kuli. Dan mereka diorganisir oleh seorang germo yang biasanya merupakan mandor atau tandil dari Jawa. Germo biasanya juga menggelar tari ronggeng untuk memeriahkan bisnis haram di perkebunan Deli.

Dengan ikut menjadi penari ronggeng, kuli perempuan Jawa bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Saat menari, para lelaki akan maju dan ikut menari kemudian akan menyelipkan uang di antara buah dadanya. Perilaku ini dinamakan “sawer”.

Zaman yang keras dan berat itu, memang tidak semua kuli bisa menerimanya. Ada sebagian kuli yang berusaha menolak kenyataan, berusaha kabur, bahkan bunuh diri. Berita pencarian seorang kuli yang melarikan diri, dahulu banyak dipajang di koran yang beredar di Deli.

Perilaku seksual menyimpang berikutnya adalah maraknya kumpul kebo. Praktik hubungan intim dengan bergota-ganti pasangan bukanlah hal aneh. Hakikat perkawinan pun kehilangan kesakralannya.

Breman menuliskan, “Di antara pasangan-pasangan itu tak dikenal apa yang dinamakan kesetiaan perkawinan. Persaingan sangatlah ketat, dan karena jumlahnya kecil, maka perempuan di perkebunan itu pun berpindah dari tangan ke tangan.”

Hasil dari praktik seks yang kotor adalah menjalarnya penyakit kelamin. Persoalan penyakit kelamin adalah masalah yang  menjadi sorotan penting seorang anggota parlemen Belanda dari Partai Sosialis, yakni HH van Kol.

Pada tahun 1903, ia menerbitkan risalahnya berjudul Uit Onze Kolonien (Dari Koloni Kita). Di dalamnya disebutkan bahwa pelacuran mengakibatkan wabah penyakit sifilis. Dan penyakit ini menggerogoti usia para kuli. Tidak sedikit kuli Deli yang mati karena sifilis.

Terakhir, dari praktik kelam di perkebunan Deli adalah penjualan bayi dan anak. Ketika seorang kuli perempuan terpaksa hamil dan melahirkan sementara ia menolak keberadaan anaknya, ia tak segan untuk menjual buah dagingnya sendiri. 

Editor : Taat Ujianto