• News

  • Singkap Sejarah

Antara Rokok, Corona dan Konsumen Paling Ngeyel, hingga Diasosiasikan Alat Kelamin

Iklan perempuan merokok
foto: komunitas kretek
Iklan perempuan merokok

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Wabah corona berimbas ke segala sendi kehidupan umat manusia. Corona juga disebut-sebut berdampak besar pada kebiasaan para perokok sebab dari berbagai penelitian, saat terpapar corona, risiko perokok lebih tinggi dan proses penyembuhannya bisa lebih lama.

Mengutip situs Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), perokok lebih rentan untuk terkena COVID-19 karena mereka sering memegang bagian wajahnya sendiri.

Para perokok juga tentunya menghisap batang rokok berulang kali dan mendekatkan tangannya ke mulut. Hal ini tentu meningkatkan risiko perpindahan virus dari tangan ke mulut.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa merokok bisa memicu penyakit kronis, mulai dari kanker hingga penyakit jantung. 

Risiko tersebut sudah dipajang dalam setiap bungkus rokok, anehnya, para perokok tak sedikit pun merasa takut. Mayoritas perokok terbukti tetap menjai konsumen paling bandel dan ngeyel.

Terkait dengan komplikasi virus corona, telah ada bukti bahwa pasien positif COVID-19 dengan penyakit kronis berisiko tinggi untuk menderita komplikasi lebih lanjut.

Bukan cuma rentan, dari sisi penyembuhan ternyata juga memakan waktu lebih lama. Pasien positif corona yang sekaligus perokok dijumpai lebih lama sembuh dibanding orang lain yang tidak merokok.

Penyumbang devisa

Perokok adalah konsumen bandel, ngeyel, namun juga menjadi penyumbang pendapatan negara.

Dalam data yang dikeluarkan International Trade Centre, The Tobacco Atlas, serta American Cancer Society and World Lung Foundation pada 2013 dan diterbitkan The Washington Post 29 Oktober 2013 menunjukkan jika Indonesia mencatatkan diri di urutan pertama sebagai negara dengan pendapatan ekspor terbesar di dunia dari produksi tembakau pada tahun 2012.

Setidaknya US$624,6 juta didapat Indonesia dari 180,5 miliar batang rokok, disusul Republik Dominika yang mengantongi US$435,6 juta dari dua miliar batang rokok, Kuba US$260,5 juta dari 14,4 miliar batang rokok, Ukraina US$256,63 dari 101,8 miliar batang rokok, dan Honduras US$103,3 juta dari 6,8 miliar batang rokok.

Namun, tetap saja, rokok menciptakan dilematis lainnya. Pada 2014 terdapat 4.891 kasus penyakit jantung yang memakan biaya Rp8.189 miliar, dan berkurang menjadi 3.955 kasus pada 2015 dengan menghabiskan biaya sebesar Rp5.463 miliar.

Untuk penyakit gagal ginjal akibat rokok terdapat 1.406 kasus dengan menghabiskan Rp2.257 miliar, dan tahun 2015 sebanyak 1.211 kasus dengan biaya Rp1.665 miliar.

Sementara penyakit kanker akibat rokok terdapat 936 kasus pada 2014 dengan biaya Rp2.211 miliar, dan 757 kasus pada 2015 dengan biaya Rp1.413 milliar.

Adapun masyarakat yang mengalami stroke akibat rokok pada 2014 berjumlah 550 orang dengan biaya Rp1.051 miliar, dan pada 2015 sebanyak 468 kasus dengan biaya Rp687 miliar.

Selain keempat penyakit dengan jumlah kasus tertinggi tersebut, terdapat juga penyakit talasemia atau kelainan darah dengan jumlah kasus 80 pada 2014 yang menghabiskan dana Rp282 miliar, dan 57 kasus pada 2015 dengan biaya Rp217 miliar.

Ada pula 98 kasus penyakit cirrhosis hepatis pada 2014 yang menguras dana Rp262 miliar, dan 73 kasus pada 2015 dengan biaya Rp162 miliar.

Belum lagi penyakit hemofilia dengan jumlah 18 kasus pada 2014 yang memakan biaya Rp66 miliar, dan 14 kasus pada 2015 dengan biaya Rp52 miliar.

Rokok umumnya menelan korban masyarakat kelas bawah mulai dari rakyat miskin, sopir, petani yang buta huruf. Sementara yang paling diuntungkan? Pabrik, industri, dan pengusaha rokok.

Perempuan Perokok

Menyitir catatan Hendri F. Isnaeni dalam “Bukan Zaman Roro Mendut” seperti dilansir Historia.id, gambaran fenomenal tentang perempuan yang gemar merokok tercermin dalam kisah Roro Mendut karya Mangunwijaya. Roro Mendut  adalah seorang gadis cantik asal Pati yang hidup pada abad ke-17.

Di era ini, Roro Mendut mengonsumsi rokok lintingan, yang setelah dihisap kemudian ia jual. Kebiasaan nyleneh ini ternyata membuat rokok yang ia jual laku keras.

Apa yang dilakukan Roro Mendut digambarkan sebagai bentuk perlawanan terhadap penerapan pajak dari Mataram. Kisah itu juga ingin menyampaikan pesan tentang perlawanan kaum perempuan sebab perempuan merokok merupakan  kebiasaan tak lazim.

Padahal, sejak rokok diperkenalkan rombongan Christopher Colombus sudah menjadi kebiasaan bagi laki-laki dan perempuan. Namun di Jawa, merokok adalah identik dengan kebiasaan laki-laki. Perempuan yang merokok di depan umum dianggap “perempuan jalang”.

Di luar Jawa, kaum perempuan tetap menjadi konsumen yang dibidik produsen tembakau. American Tobacco Company (ATC) pernah berusaha mencari terobosan.

Pada 1927, ATC sudah meluncurkan Lucky Strike untuk perempuan dan dikenal sebagai perusahaan rokok pertama yang menggunakan perempuan dalam iklan-iklannya. Salah satu iklannya menyampaikan pesan: “Reach for a Lucky Instead of a Sweet”.

Menurut Jonathan Gabay dalam Soul Traders, Edward Louis Bernays seorang pioner kehumasan pernah dan sekaligus keponakan Sigmund Freud, bersimpati kepada Hill karena ATC telah kehilangan setengah dari pembeli potensialnya: perempuan.

Bernays segera mengunjungi temannya, seorang psikolog A.A. Brill, yang juga pengagum teori-teori Freud. Bernays dan Brill mendiskusikan masalah yang dihadapi ATC.

 “Menurut Brill, yang menjadi alasan utama perempuan tak merokok adalah alam bawah sadar mereka mengasosiasikan rokok dengan alat kelamin laki-laki, yang merepresentasikan kekuatan seksual laki-laki,” tulis Gabay.

Brill menulis, sebagaimana dikutip Bernays dalam The Engineering of Concent: “Beberapa perempuan menganggap rokok merupakan simbol kebebasan... Saat ini banyak perempuan melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki... Rokok, yang diasosiasikan dengan laki-laki, merupakan obor lambang kebebasan.”

Konsep “obor kebebasan” bergema dalam benak Bernays. Yang harus dia lakukan adalah menemukan waktu dan tempat yang tepat untuk menyebarkan “obor kebebasan” itu ke seluruh dunia.

Bernays mendapatkannya ketika kota New York menggelar Parade Paskah pada 1929, sebuah acara yang selalu mencuri perhatian publik.

Bernays menghubungi media. Dia mempersiapkan sepuluh perempuan yang disebut “Kontingen Obor Kebebasan”.

Saat pertunjukkan, para perempuan itu mengelilingi Lucky Strike, membawa rokok yang disembunyikan di pakaian mereka dan kemudian, dengan pongah, menyulut rokok di depan publik.

 “Ketabuan telah dihancurkan. Pengahalang-penghalang telah diruntuhkan. Para perempuan mulai membeli rokok-rokok American Tobacco Company. Tak lama setelah acara itu, beberapa perempuan bahkan meminta agar dapat menjadi anggota klub merokok, yang seluruh anggotanya laki-laki,” tulis Gabay.

Dalam perkembangannya, jumlah perokok perempuan terbukti meningkat.

Menurut Jordan Goodman dalam Tobacco in History, jumlah perokok perempuan di Amerika Serikat pada 1929 mencapai 14 juta atau 12 persen dari total konsumsi. Jumlahnya meningkat jadi 14 persen dua tahun kemudian dan 26,2 persen pada 1935.

Di Indonesia, rokok untuk perempuan biasanya masuk kategori rokok premium yang rendah tar dan nikotin, yang dituding banyak kalangan sebagai trik untuk menarik konsumen perempuan.

Hingga kini, meski secara tersamar, sejumlah perusahaan rokok masih menyasar perempuan. Jumlah perokok perempuan juga masih tinggi. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, dari 1 milyar perokok di dunia, jumlah perokok perempuan mencapai 20 persen atau sekira 200 juta orang.

“Sekarang bukan zaman Roro Mendut atau Lola Montez, yang menjadikan rokok sebagai simbol perlawanan. Tak ada yang perlu dibuktikan dari aktivitas merokok, juga bagi laki-laki, kecuali dampaknya yang merusak kesehatan,” tulis Hendri F. Isnaeni dalam “Bukan Zaman Roro Mendut”.

Editor : Taat Ujianto