• News

  • Sisi Lain

Video Telusur Kali Pesanggrahan, Roh Penunggu Muncul bila Terjadi Kebisingan

Tangkapan layar penelusuran Kali Pesanggarahan
Netralnews/Tommy
Tangkapan layar penelusuran Kali Pesanggarahan

BOGOR, NETRALNEWS,COM - “Buaya buntung itu muncul jika terjadi kebisingan,” tutur Maman. Siluman itu tak akan mengganggu kalau tidak diganggu. “Bila anak mandi di sungai dan bercanda berlebihan, berteriak-teriak membuat berisik suasana, itu berbahaya”, lanjutnya.

Kepercayaan masyarakat tentang buaya buntung jangan diremehkan. Entah karena kebetulan atau tidak, yang pasti, pada 2017 lalu, dua anak meninggal tersangkut pusaran air di bawah Bendungan Pesanggrahan.

Selain itu, beberapa bulan yang lalu, seorang pria penjual jajanan, ditemukan mengapung di bawah bendungan. Diperkirakan ia meninggal satu hari sebelumnya. Entah ia terjatuh atau hanyut, yang pasti sempat hilang selama satu hari.

Maman yang merupakan warga Kampung Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai menceritakan kisah-kisah mistis di kawasan bendungan tersebut. Menurut pria yang sehari-hari mengurus kolam ikan itu, kawasan tersebut sebelumnya merupakan sawah dan kebun.

“Dulu di area yang kini menjadi Perumahan Vila Mutiara Bogor 2 ini, semuanya adalah sawah dan kebun. Masih sepi. Sering disebut sebagai tempat jin buang anak,” tuturnya.

Salah satu pemilik sawah itu adalah kakeknya yang bernama Engkun. Hampir 60.000 meter persegi diborong pengembang ISPI Group sekitar 1990-an dengan harga sekitar Rp25.000 per meter.

Pengembang tersebut kemudian menyulap area lahan pertanian itu menjadi Perumahan Vila Mutiara Bogor 2. Lokasi tepatnya adalah di wilayah Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojong Gede.


Sebelah Barat perumahan terdapat sebuah setu bernama Setu Kandang Babi. “Disebut kandang babi, karena dulu zaman Belanda, ada peternakan babi di sini,” kata Maman.

Bertahun-tahun, setu tak terurus. Baru pada 2017 yang lalu, Pemda Bogor melakukan pengerukan dan penataan. Kini menjadi obyek wisata lokal dan tempat memancing.

Konon, setu ini terhubung dengan Setu Kemuning dan Setu Tonjong yang juga masih di kawasan Bojong Gede. “Ada lubang bawah tanah yang menghubungkan ketiga setu itu,” demikian cerita Maman. " Karena itu pula, air setu nggak pernah kering," lanjutnya.

Berkembang cerita di masyarakat bahwa warga kampung dilarang serakah menangkap ikan. Bahkan, bagi orang yang baik, kadang tidak perlu susah menangkap ikan. Ikan akan melompat sendiri ke orang itu, minta dimasukkan ke keranjang wadah ikan.

Maman menceritakan, pernah ada yang mendapat ikan gabus besar dan kemudian dibawa pulang. Namun orang yang mendapatkan ikan itu kesurupan. Oleh 'orang pintar' setempat, Emak Emi namanya, ikan itu harus dikembalikan. “Tidak boleh serakah. Kalau ambil ikan secukupnya saja”, katanya.

Di setu itu pula, Maman melanjutkan cerita, almarhum Emak Emi sering memandikan anak untuk diruwat. “Agar anak tumbuh sehat, biasanya dimandikan di setu,” ujarnya.

Di sebelah Setu Kandang Babi, terdapat makam wakaf Tanah Baru. Pemakaman ini cukup luas, namun makam di situ baru sekitar puluhan. Di samping pemakaman terdapat patung kuda yang dibangun sengaja menghadap ke pemakaman.

Antara pemakaman dan area perumahan dibatasi dengan tembok dan deretan pohom bambu. Di bawah pohon bambu itulah, patung kuda berdiri dengan posisi seperti sedang meringkik.

Menurut cerita Asep, warga Tanah Baru, patung kuda itu dibangun bukan tidak sengaja. Katanya, “Ya gitu, mandor pengembang ISPI sering diganggu oleh kekuatan gaib.”

Pengerukan dan perataan lahan menjadi terkendala. Sang mandor kemudian bermimpi didatangi seseorang yang memintanya untuk mendirikan patung kuda menghadap ke pemakaman. Sejak itu, katanya, pembangunan perumahan berjalan lancar.

Semantara di bagian Barat Laut dari perumahan, di situlah tanah sawah milik Maman. Ia menyulap sawahnya menjadi kolam, karena kini area sawahnya menjadi sangat sempit. Beberapa kali, padi gagal karena serangan burung. Jumlah padi sedikit, sementara serbuan burung pemakan padi tak mampu diusir.

Kemudian, di bagian Timur perumahan, membujurlah Kali Pesanggrahan yang bermuara ke wilayah Jakarta. Di sungai inilah, konon terdapat siluman buaya buntung.

Menurut Maman, orang yang sempat melihat, warnanya hitam kemerahan. Namun, Maman sendiri belum pernah melihat. “Orang pintar yang biasanya bisa melihat bahkan memanggil atau memindahkan siluman itu,” katanya.

Cerita serupa juga dipertegas oleh Hamdi. Usianya sekitar 50 tahun. Ia merupakan pegawai negeri sipil di Pemerintah Kabupaten Bogor.

“Bendungan ini dibangun tahun 1979, di era Orde Baru, bersamaan dengan gencarnya program Inpres kala itu,” ujar Hamdi. Fungsi bendungan itu sebenarnya untuk membelokkan air dari Kali Pesanggrahan ke saluran irigasi menuju persawahan warga di kawasan Nanggela dan Susukan, Kecamatan Bojong Gede.

Hamdi sendiri bertugas mengontrol dan membersihkan bendungan dari sampah. “Repotnya gini, Mas, sejak banyak perumahan, sampah rumah tangga sering menyumbat saluran irigasi,” katanya sambil menarik sampah dengan gala bambu.

Saat beristirahat, ia pun menyinggung tentang cerita buaya buntung yang berkembang di kalangan warga setempat.

“Iya, saya juga sering mendengar cerita penampakan buaya buntung tanpa ekor. Tapi alhamdullilah, karena niat saya baik, nggak pernah diganggu siluman itu,” tuturnya.

Menurutnya, cerita tentang buaya buntung itu sangat baik, khususnya bagi anak-anak. Dengan cerita itu, anak-anak bisa mudah diarahkan agar tidak suka mandi di kali.

Sambil duduk di samping bendungan, ia bercerita bagaimana awal mula perumahan dibangun. Sebelum tahun 2007, lahan perumahan masih merupakan area persawahan berlumpur dalam. Orang menyebutnya balong. Namun, sawah itu kemudian diuruk dengan tanah dari bagian Selatan perumahan.

Alat berat berupa mesin backhoe dikerahkan untuk mendorong gundukan tanah ke arah Utara. Perlahan lahan sawah yang dulu masih banyak ikannya pun menjadi hamparan darat yang siap dibangun perumahan. “Dulu ikan masih banyak. Namun seiring dibangun perumahan, banyak limbah masuk ke kali. Banyak ikan yang punah,” katanya.

Saat ditanya mengenai keberadaan buaya buntung itu, Hamdi mengaku tak bisa menjawab. Namun, ia bisa merasakan perbedaan antara dulu dan sekarang. Seiring pembangunan perumahan, cerita tentang orang yang melihat buaya buntung, semakin jarang terdengar. Tak pernah orang melihatnya lagi.

Ramainya pendatang, secara perlahan telah menggusur kisah itu. Di kali itu, lebih sering terlihat gundukan sampah plastik di sana-sini. Atau buaya itu sudah mati keracunan limbah rumah tangga? Atau bisa jadi, saat mesin backhoe menggerus lahan, ikut pula menggusur keberadaannya.

Editor : Taat Ujianto