• News

  • Sisi Lain

Yakin Obati Luka Kehidupan dengan Darah Yesus, Chandri pun Ikut ‘Terluka’

Chandri Widharta dan ilustrasi seputar keyakinannya dalam melayani orang yang membutuhkan pengobatan
foto: istimewa
Chandri Widharta dan ilustrasi seputar keyakinannya dalam melayani orang yang membutuhkan pengobatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – “Sejak kelas 6 SD, saya sebenarnya sudah bisa merasakan dan melihat hal-hal yang tak dilihat oleh banyak orang. Orang tua saya adalah penganut Katolik yang taat, dan selalu meminta saya juga taat pada Gereja,” tutur Chandri Widharta (CW) kepada Netralnews beberapa waktu lalu.

Walaupun sudah berusia 63 tahun, CW tetap enerjik dan penuh semangat setiap kali berbincang-bincang. Namun, di balik semua itu, ternyata ia selalu memiliki “luka” yang tak pernah diminta dan merupakan kenyataan yang harus ia terima.

Kapda Netralnews, CW kemudian mengenang masa lalunya.

Ia baru sungguh-sungguh menjadi pendoa dan mulai sering melakukan kegiatan pelayanan dan mewujudkan kasih Tuhan ketika sudah berusia dewasa. Hingga kini, ia terus berusaha membantu menyembuhkan orang yang “terluka” baik secara spiritual maupun secara material.

“Yang menyembuhkan itu Tuhan. Saya percaya bahwa darah Yesus itu nyata dan merupakan sumber segala kebenaran.  Saya pun tak tahu mengapa saya memiliki anugerah seperti ini,” tutur CW sambil menunjukkan telapak tangannya.

Sore itu, Netralnews menyaksikan sendiri, telapak tangannya berdenyut laksana urat nadi. Jarang terjadi dan dialami orang lain. Menurut penuturannya, bila sore, tangan, kepala dan bagian lainnya mengalami sakit.


Apalagi bila sedang berhadapan dengan orang yang memang sedang sakit. Bagian organ yang mengalami sakit biasanya sama dengan apa yang dirasakan oleh si pasien.

"Bila sudah sangat sakit, tangan akan saya sedot dan keluarlah darah. Saya mempercayai, itulah darah Tuhan yang ditanggungnya di kayu salib," kata CW.

"Saya nggak tahu apa itu stigmata. Ada yang mengaitkannya ke situ, tapi saya tidak menyebutnya begitu. Saya hanya berusaha menjadi alat Tuhan. Itu saja,” lanjut CW yang biasa dipanggil dengan panggilan Oma Chandri.

“Kalau ditanya soal orang yang pernah saya bantu, saya nggak bisa sebutkan karena terlalu banyak dan saya tidak mengingat-ingatnya. Mereka datang dan minta bantuan. Saya tak pernah menawar-nawarkan. Silakan ditanya mereka yang pernah saya bantu,” lanjut Chandri.

Memang, saat Netralnews tanpa sengaja mengirim berita soal CW, suatu ketika, satu keluarga di daerah Wonogiri, Jawa Tengah, memberikan testimoni tak terduga.


Keluarga itu sempat diobati  tetapi bukannya pasien yang memberi uang tetapi justri CW yang membagi-bagikan uang kepada keluarga yang sedang diobati. Keluarga itu pun sangat heran dengan kebaikan CW.

“Saya tidak pernah meminta bayaran. Kalau ada yang memberi uang, biasanya saya gunakan untuk membantu pihak lain. Uang itu saya tempatkan di dompet sedekah,” tuturnya.

Karena pelayanannya tersebut, ada sejumlah pasien yang memberikan ucapan terima kasih berupa voucher  menginap di hotel. Bahkan, ia bisa menginap di hotel selama bertahun-tahun bersama sejumlah anak asuhnya yang diambil dari keluarga yang kurang mampu.

Namun karena itulah, ia tak menyangka harus mengalami tuduhan yang tak pernah diduga. Ia disebut-sebut melakukan penyekapan, perempuan aneh, hingga ada yang menyebut melakukan perdagangan organ manusia.

Dituduh wanita aneh

Dalam pemberitaan, CW sering disebut-sebut sebagai wanita aneh atau wanita kaya raya yang memiliki harta puluhan milyar karena bisa tinggal selama 10 tahun di hotel. Padahal semua itu pemberian orang berkat pelayanan sebagai pendoa.

"Saya suka ngobatin orang, Pak, doa, ada bukti banyak sekali. Saya enggak narik uang, mereka kasih voucher hotel enggak habis-habis, Pak. Saya bisa nunjukin ke wartawan dan semua," ujar CW suatu kali kepada polisi di tahun 2018.

CW mengatakan, polisi awalnya tidak memercayai bahwa hasil pengobatan itu yang membiayai hidupnya. "Mereka tanyakan, kok, bisa pergi ke Surabaya, uangnya dari mana? Lho, memangnya saya mesti enggak punya apa-apa, memangnya saya mesti miskin," ujar CW.

Kasus Chandri Widharta (CW) sempat berlarut-larut dan mengalami proses hukum yang tidak jelas.

Ia diberitakan telah melakukan tindak kekerasan berupa penyekapan, penganiayaan, penelantaran, terhadap anak-anak asuhnya yakni OW (13), RW (14), TW (8), FA (14), dan  EW (10).

Sementara menurut CW, ia murni mengangkat sejumlah anak asuh karena motivasi kemanusiaan yakni menolong anak-anak terlantar.

Kasus CW mencuat dan viral di media massa berawal dari kejadian FA kabur dari Hotel Le Meridien. FA meninggalkan hotel tempat tinggalnya bersama CW pada bulan April 2017.

FA kabur dari tempat tinggal CW karena ketakutan setelah mencuri sejumlah uang milik CW untuk membeli mainan. Ia kemudian tinggal di rumah Rohanna, wanita yang dikenal FA dan tinggal di Kramat V, Senin Jakarta Pusat.

Saksi kunci menyangkal

Setelah tinggal di rumah Rohana, FA sempat akan disekolahkan tetapi terkendala karena tidak ada surat-surat identitas FA.

"Iya, Bu Rohana bilang pernah daftarin ke sekolah, tapi saya nggak ikut. Tapi terkendala surat. Jadi nggak bisa. Terus saya ikut les di rumah Bu Rini yang suaminya tukang ojek di Kramat. Habis itu, saya diajak jalan ke LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, red)," tutur FA kepada Netralnews.

Pertama kali ke LPAI, FA diajak oleh Rohana FA kemudian bertemu dengan Reza Amriel Indragiri.

"Di LPAI ketemu Pak Reza. Tapi saya nggak pernah bilang dipukul Mami. Beneran nggak pernah. Ngak pernah bilang diberi makanan basi ama Mami. Saat di LPAI, saya cuman ditanya Pak Reza, sebelum di Bu Rohana dimana, saya bilang tinggal bersama Mami. Lalu ditanya mengapa kabur. Saya bilang karena nyuri duitnya Mami. Saya takut sama Mami. Lalu ditanya sekolah nggak? Saya bilang pernah di Balai Keselamatan tapi ibu kandung saya nggak ngasih surat-surat. Habis itu saya diminta keluar. Lalu ibu Rini masuk, tapi saya tunggu di bawah. Itu kan di lantai atas. Dah itu kan dah malam, lalu pulang. Lalu Bu Rini nelpon, ‘Ayo ke Polda, ke Polda sekarang!’ Saya diajak Bu Rini ke Polda," kata FA dengan lancar.


Rupanya itulah awal pelaporan dugaan kasus penyekapan kepada anak-anak asuh CW di Polda.

Entah karena motif apa, Rohanna suatu hari bersama pengurus Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), melaporkan CW ke Polda Metro Jaya karena dituduh telah melakukan penyekapan dan tindak kekerasan terhadap anak-anak asuhnya.

Aparat kepolisian telah melakukan berbagai penyelidikan namun karena bukti tidak mencukupi, CW tidak pernah dinyatakan sebagai tersangka.

Sedangkan kelima anak asuhnya sempat mendapat perlindungan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dititipkan di Rumah Aman PSMP Handayani, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Hak anak-anak asuh CW sempat terlantar

"Berarti, mereka sudah terpisah dengan saya selama satu setengah tahun. Selama anak-anak di panti, anak-anak tidak mendapatkan pendidikan dan tidak bersekolah sebagaimana mestinya. Padahal semestinya, layanan di panti hanya 6 bulan," kata CW kepada Netralnews beberapa waktu lalu.

CW menyayangkan lamanya proses hukum. Padahal jelas tidak ada bukti mencukupi baginya dari jerat hukum pidana.

"Hingga hari ini", menurut CW, "Kepolisian tidak menemukan bukti-bukti mencukupi seperti yang dituduhkan kepada saya. Saya mohon agar anak-anak dikembalikan kepada saya karena saya tidak pernah melakukan kejahatan terhadap anak-anak tersebut," harap CW.

Sementara itu, anak-anak asuhnya pun mengaku ingin segera keluar dari Panti Sosial Handayani dan segera kembali tinggal bersama CW. Saat dijumpai Netralnews, FA salah satu anak asuh CW dan sekaligus saksi kunci juga mengatakan ingin kembali tinggal bersama CW.

"Pertama kali nangis saya di sini. Saya takut. Setelah itu, ya sudah jalani. Tapi setiap hari saya sedih. Saya nyesel pergi dari Mami. Gara-gara saya nyuri jadi gini," kata FA.

Saat ditanyakan apakah mau FA tetap di panti dan belajar di Panti. Buru-buru ia menjawab "Tidak" dengan keras.

"Tidak! Di sini saya nggak bisa sukses. Saya bisa sukses kalau ikut Mami," jawab FA.

Sebagai bentuk keseriusannya, FA sudah membuat surat pernyataan di hadapan pengasuh bahwa ia minta bisa tinggal kembali bersama CW.

"Saya udah buat pernyataan. Isinya 'yang bertanda tangan di bawah ini, nama, terus tanggal lahir, saya bersedia kembali ke Bu Chandri tanpa ada pemaksaan dari pihak manapun...'," kata FA mengutip surat pernyataan yang ia buat sendiri.

Pencabutan laporan dan penghentian penyidikan

Untuk mendapatkan kejelasan dan keadilan, CW telah mendatangi banyak pihak yang dianggap bisa membantu kasusnya, termasuk  para pejabat di Kementerian Sosial.

Usahanya mulai mendapat perhatian dan dukungan, salah satunya dari LPAI. Uniknya, lembaga ini pula yang sebelumnya melaporkan CW ke pihak kepolisian. Kala itu, pejabat yang melaporkan adalah Reza Amriel Indragiri.

Kali ini, dalam surat LPAI nomor 126/lpaindonesia/C/VII/2019, tertanggal 19 Juli 2019, yang menandatangani adalah Ketua Umum LPAI yakni Seto Mulyadi. Isi suratnya cukup jelas.

LPAI telah mengeluarkan surat rekomendasi pencabutan dan penghentian penyidikan yang ditujukan kepada Irjen Polisi Drs. Gatot Eddy Pramono, M.Si, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Dalam penjelasan lebih lanjut disebutkan:

"Berkaitan dengan pelaporan dugaan pidana yang sudah dilakukan oleh Sdr. Reza Indragiri Amriel yang saat pelaporan tersebut berstatus sebagai pengurus LPAI, dengan LP No LP/205/K/II/2018/Resto Jak Pus, tertanggal 28 Februari 2018 dan Terlapor atas nama Chandri Widharta serta saat ini penanganan perkaranya sudah dilimpahkan dari Polres Metro Jakarta Pusat ke Polda Metro Jaya, yaitu pada unit V Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Maka bersama surat ini, kami merekomendasikan agar LP tersebut dicabut dan dilakukan penghentian penyidikan."

LPAI juga mencantumkan dasar dan beberapa pertimbangan atas dikeluarkannya rekomendasi tersebut, yakni:

Pertimbangan pertama, "Kepastian pengasuhan anak, proses penanganan pada kasus ini sangat berkepanjangan. Terhitung sejak 28 Februari 2018 sampai dengan saat ini masih belum mendapatkan proses hukum yang jelas."

LPAI menyebutkan seluruh anak asuh CW yang sementara tinggal di Panti Sosial Handayani sudah melewati batas waktu proses pengasuhan serta harus mendapat pengasuhan kembali untuk melanjutkan kehidupannya.

Pertimbangan kedua dinyatakan, "Berdasarkan hasil pertemuan dan mediasi yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial RI pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2019 dalam salah satu pokok bahasannya adalah terkait komitment penuh dari terlapor untuk menjadi orang tua asuh dengan sebaik-baiknya bagi anak-anak."

Dan pertimbangan ketiga disebutkan, "Terlapor akan melaksanakan serangkaian kegiatan proses pengasuhan yang diatur oleh UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta PP No 44 tahun 2017 tentang Pengasuhan Anak. Dalam hal ini akan dilaksanakan sepenuhnya oleh Kementerian Sosial RI."

Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, "Sekali lagi, kami merekomendasikan dan berharap agar proses hukumnya dicabut dan dilakukan proses penghentian penyidikan."

Sejalan dengan proses penghentian penyidikan tersebut, LPA menyatakan berkomitmen untuk tetap membantu serta memberikan saran kepada para pihak, khususnya Kementerian Sosial dalam hal pelaksanaan proses pengasuhan anak-anak ke depannya.

Perkembangan terakhir, seperti dituturkan Chandri, Ombudsman pun saat ini sudah turun tangan dan mendesak agar kepolisian segera  menerbitkan SP3.

“Luka” karena harus menjalani kasus seperti itu berusaha ditelan oleh CW. Ia ingin memaafkan semua pihak yang telah membuatnya terluka.

Editor : Taat Ujianto