• News

  • Sisi Lain

Arwah Gentayangan Tragedi Bintaro Diungkap, Keluarga Korban: Coba Anda Jadi Saya

Ilustrasi Tragedi Bintaro, 19 Oktober 1987
Foto: KOMPAS/DUDY SUDIBYO
Ilustrasi Tragedi Bintaro, 19 Oktober 1987

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - "Sekarang gini, Anda bayangkan menjadi pihak keluarga korban dari Tragedi kecelakaan itu. Entah anak, istri, ayah, kakek atau siapalah, astafirullah... ini hanya seandanya ya, itu meninggal dalam tragedi tersebut. Lalu dibilang banyak hantu gentayangan di situ, gimana perasaan Anda?" tutur Tatang (56) menyampaikan kekesalannya.

Pasalnya, sosok pria pemilik warung kopi di Jakarta Selatan merasa kecewa dengan banyaknya cerita orang yang mengaku melihat penampakan hantu di lokasi kecelakaan tragis tersebut.

"Adik saya itu menjadi salah satu korban tragedi itu. Saya tak rela dong seandainya disebut-sebut arwah korban tragedi gentayangan. Ya, terngiang seolah itu menuduh adik saya arwahnya gentayangan," tutur Tatang kepada Netralnews, .

Mendadak mukanya berubah muram. Ia terkenang adik perempuannya semata wayang yang menjadi korban kecelakaan nahas yang terjadi pada Senin pagi, 19 Oktober 1987, silam.

"Tak bisa dilupakan, Mas. Hari itu mendadak dunia rasanya gelap gulita begitu mendengar kabar adik saya ikut meninggal jadi korban. Gimana tidak? Saya baru dua tahun merantau ke Jakarta. Ngrintis warung kopi ini. Adik saya mau menjenguk saya setelah lulus SMA, katanya mau sambil cari-cari kerja. Eh ternyata ia datang hanya hantarkan nyawa..." kata Prastowo berkaca-kaca.

"Adik saya namanya Aidah Rohana, biasa kupanggil Ayi. Ia baru berusia 19 tahun. Meninggal dalam kondisi mengenaskan. Rasanya hancurlah hati saya kala itu. Sama halnya dengan bapak ibuku di kampung Rangkas," lanjutTatang.

Senin pagi yang kelabu, kala itu warga Kampung Betung RW 09 Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan dikejutkan dengan tabrakan dua rangkaian kereta api (KA) 225 Merak bertabrakan dengan Kereta Api (KA) 220 Rangkas di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

Insiden mengerikan tersebut menyebabkan 150-an penumpang tewas dan lebih dari 300 penumpang mengalami luka-luka. Selain meninggalkan duka yang mendalam buat para keluarga dan kerabat korban.

Selain duka yang mendalam bagi keluarga korban, peristiwa tersebut rasanya tak pernah terlupakan mengingat sering dikaitkan dengan fenomena mistis setelah kecelakaan,

Cerita mistis yang dimaksud Tatang sudah begitu banyak. Siapapun dengan mudah bisa melihatnya di di Youtube maupun dalam berita-berita misteri. Justru karena itulah Tatang merasa jengkel dan kesal.

"Kesal Jengkel kalau ada orang mengaku melihat penampakan di lokasi kecelakaan. Pengin rasanya dia berubah jadi saya atau ibu bapak saya. Biar ngrasain sendiri rasanya sedih dengan adik satu-satunya meninggal karena kecelakaan lalu dibilang gentayangan," tutur Tatang.

Menurut Tatang, kisah yang paling menjengkelkan adalah cerita tentang penampakan sosok perempuan tanpa kepala yang seolah sedang mencari kepalanya.

"Kadang saya pengin nemuin orang ngaku lihat penampakan itu. Mau saya suruh buktiin. Gitu kalau lagi kesal, Mas," keluh Tatang.

"Maksud saya, kenapa harus diumbar? Mengapa dikoar-koarkan di media? Kalaupun melihat penampakan, bantu doain dong. Itu kan lebih mulia. Simpan rapat-rapat ndak usah diumbar," katanya.

Meski demikian, Tatang tak bisa berbuat banyak.

"Namanya orang banyak, saya pun ndak bisa atur isi kepala dan mulut orang. Saya hanya mengelus dada dan mohon diberikan kesabaran setiap kalai ada orang menceritakan lokasi tabrakan di Bintaro angker, banyak penampakan. Juga langsung teringat Ayi. Moga ia diberikan istirahat kekal, segala dosanya diampuni," kata Tatang. Matanya kembali berkaca-kaca.

Di mata Tatang, adiknya adalah perempuan yang baik, penurut, rajin membantu orangtua dan sempat bermimpi mengadu nasib dan bisa membahagiakan bapak ibunya. Namun siapa yang tahu akan hari esok.

"Ia meninggal dalam upaya meraih impian bisa kerja di Ibu Kota. Ia ingin membahagiakan bapak ibuku di kampung yang sehari-hari menjadi petani. Ya, begitulah Mas... " kata Tatang terbata.

"Yang jelas, setiap tanggal 19 Oktober, saya doa khusus untuk Ayi. Kita adakan tahlil. Di kampung dulu juga rutin, cuman semenjak Bapak Ibuku meninggal, tahlil diadakan di sini. Saya yang ngadain," pungkas Tatang.

Editor : Taat Ujianto