• News

  • Sisi Lain

Ngeri! Hantu dari Medan Ini Bisa Disuruh Bunuh Orang

Ilustrasi lahan pertanian di Deli Serdang, Sumatera Utara
Foto: Istimewa
Ilustrasi lahan pertanian di Deli Serdang, Sumatera Utara

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Percaya dan tidak percaya, dalam kehidupan ini, ada wilayah-wilayah yang tak mampu dijangkau dengan akal sehat. Bahkan tak jarang, tak mampu dibuktikan melalui kajian ilmiah namun dipercayai terjadi oleh masyarakat Indonesia.

Salah satu kisah misteri bercampur kegaiban dan mitos datang dari wilayah Sumatera Utara. Cerita tersebut dikisahkan oleh seorang lelaki paruh baya bernama Domu (42) kepada Netralnews.com, Selasa (10/11/20).

Pria yang akhirnya memilih merantau tersebut ternyata memiliki kenangan pilu akibat keluarganya diganggu oleh kekuatan misterius. Domu menyebutnya hantu kiriman seseorang. Nama roh tersebut  begu ganjang.

"Sudah 30 tahun saya merantau, sejak kejadian misterius yang melanda keluarga saya," kata Domu memulai kisahnya.

Menurut pengakuannya, Domu adalah anak tunggal yang tinggal bersama bapak-ibunya di wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara. Suatu hari, terjadi rentetan peristiwa yang akhirnya menyebabkan bapaknya meninggal misterius.

"Saya masih sekolah SD kelas 6. Tapi masih ingat benar. Ada ribut-ribut keluarga, gitulah. Bapak saya emosi dan bertengkar sama keluarga besarnya. Yang diributin soal tanah warisan dan tanah garapan. Tak jauh dari itulah," tutur Domu.

Selang beberapa hari, seingat Domu, Bapaknya ikut pertemuan keluarga besar, namun Domu tidak ikut karena saat itu sedang ujian di sekolahnya.

"Nah, seingat saya, sejak pulang dari pertemuan itu, muncul rentetan kejadian aneh. Bapak muntah-muntah. Bersama Ibu pergi ke mantri, ke dokter berulang-ulang, namun bapak tetap sakit. Malah makin parah dan tak bisa kerja di ladang," lanjut Domu.

"Nah, yang saya bingung, mendekati hari-hari terakhir, bapak itu selalu menyebut 'begu ganjang dari Medan, begu ganjang dari Medan' kepada saya," kata Domu.

Domu yang masih duduk di bangku SD kelas 6 hanya bisa menangis di samping ibunya, setiap kali ayahnya mengerang kesakitan dan menceracau seperti itu. Apalagi, kata-kata itu sering diucapkan di malam hari dan warga perkampungan sudah lelap.

Hanya ibunya dan Domu yang menjadi saksi bagaimana sang bapak kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.

"Peristiwa itu sangat memukul saya pokoknya. Meski kata ibu bahwa bapak meninggal karena lever, tapi kata-kata 'begu ganjang' terlanjur nyangkut di memory saya," kata Domu.

"Tak bisa dibuktikan memang, tapi dari lubuk hati saya muncul dugaan bahwa bapak kena kiriman begu ganjang dari seorang saudara dari keluarga besar bapak yang tinggal di Medan. Orang ini mengincar lahan garapan bapak," kata Domu.

"Ya, kesimpulan itu baru bisa saya peroleh ketika saya sudah merantau karena akhirnya saudara dari Medan ini ternyata berhasil menguasai banyak lahan warisan. Tapi kan sulit untuk dibuktikan. Pokoknya, keluarga besar bapak banyak yang tersingkir dan satu-persatu lahan warisan dikuasainya, gitulah," tegas Domu.

Usai bapaknya meninggal, Domu ikut Tulangnya yang tinggal di Bogor. Ibunya ikut bersamanya hingga meninggal di Bogor. 

"Ibu meninggal sudah 10 tahun lalu. Saya disekolahkan Tulang (Paman). Lulus SMK, saya membuka bengkel sampai saat ini. Itulah sepenggal kisah masa lalu saya," kata Domu.

Asal Muasal Begu Ganjang

Dalam cerita masyarakat di Sumatera Utara, rupanya nama hantu begu ganjang bukanlah makluk asing.

Bagi sebagian masyarakat, kisah hantu begu ganjang adalah kisah tentang bagaimana seseorang mampu memerintahkan roh untuk tujuan yang tidak baik bahkan bisa digunakan untuk tujuan membunuh.

Sebutan begu ganjang menunjuk pada roh halus yang bisa disuruh untuk tujuan tersebut.

"Jadi, roh begu ganjang itu dipuja atau dipelihara orang tersebut," tutur Domu.

Menurut Domu, istilah tersebut mengandung arti "Kalau orang melihat hantu itu akan terlihat semakin panjang dan semakin panjang."

Dalam cerita masyarakat Batak, orang yang terkirim roh begu ganjang akan mengalami sakit yang tak mampu terdeteksi oleh ilmu medis.

"Dokter bisa saja menduga ini dan itu, mengobati ini dan itu tapi pada akhirnya, pengobatannya tidak akan tuntas. Misalnya, diagnosa sakit lambungnya, lalu dioperasi. Setelah itu, tidak sembuh. Dokter diagnosa lagi, katanya pindah ke empedu, dioperasi, gagal lagi, dan seterusnya," tutur Domu.

"Begu ganjang akhirnya menjadi misteri yang hingga kini sulit diungkap," pungkas Domu.

Editor : Taat Ujianto