• News

  • Olahraga

Filosof Bertanya Soal Derbi Manchester, Tak Diduga Ini Jawaban Guardiola

Pelatih Manchester United (MU) Ole Gunnar Solskjaer dan pelatih Manchester City, Pep Guardiola (kanan)
Tribuna
Pelatih Manchester United (MU) Ole Gunnar Solskjaer dan pelatih Manchester City, Pep Guardiola (kanan)

INGGRIS, NETRALNEWS.COM - Jelang digelarnya Derbi Manchester antara Manchester United (MU) dan Manchester City, Pelatih Pep Guardiola mengaku dirinya tidak perduli dengan laga tersebut.

"Saya tidak peduli," kata Pep Guardiola menjelang laga yang akan digelar di Stadion Old Trafford, Manchester, pada Selasa waktu setempat, atau Rabu (8/1/2020) dini hari WIB itu.

Secara gamblang, pelatih asal Spanyol itu bersiap meladeni racikan taktik dari arsitek MU Ole Gunnar Solskjaer.

Tanpa ragu sejengkal pun, Guardiola yang pernah membesut Barcelona itu memberi hormat kepada Manchester United jelang duel bersejarah yang menyedot perhatian penonton sejagad.

Jelang Derbi Manchester ini, Guardiola menerima "rentetan pertanyaan" yang diajukan oleh para filosof. Bahan-bahan pertanyaan bersumber dari berbagai literatur filsafat, dan bahan-bahan jawaban Guardiola berasal dari sejumlah laman sepak bola, antara lain Independent, Bleacherreport, dan Daily mail.

Berikut sejumlah pertanyaan dan jawaban Guardiola:

Filosof: Kalau kami filosof beranggapan bahwa manusia adalah tolok ukur segalanya, bagaimana Anda memandang Manchester United sebagai lawan?

Guardiola: Terima kasih filosof yang budiman dan bijak. Saya tidak ingin terjun bebas dengan langsung menilai mereka. Saya tidak ingin terperangkap pada nihilisme.

Filosof: Bisa Anda jelaskan arti nihilisme dan penerapannya dalam duel Derbi Manchester ini?

Guardiola: Yang dimaksud dengan nihilisme, tidak ada sesuatu pun, dan seandainya sesuatu ada, maka kita tidak dapat mengenalnya, serentak tidak dapat menyampaikannya kepada orang lain, dalam hal ini fans kedua tim yang berseteru dan penonton sejagad.

Filosof: Bisa dirumuskan lebih konkret lagi, utamanya dikaitkan dengan Derbi Manchester pekan ini?

Guardiola: Saya memang baru beberapa tahun berada di sini, dan saya tahu bahwa kami mendapat julukan tetangga yang bising. Itu yang saya kenal. Dan predikat itu begitu melekat kepada kami, dan itulah kami. Tidak sedikit orang di kolong langit - utamanya di Manchester - mengamini predikat itu.

Filosof: Maksudnya bahwa Anda ingin menggarisbawahi makna Derbi Manchester? Dan bagaimana pengalaman Anda sendiri menghadapi laga derbi saat berada di Spanyol?

Guardiola: Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya tidak ingin berlaku dan bertindak sebagai layaknya Para Sofis, yang mengembangkan tata bahasa dan retorika dalam artian negatif.

Filosof: Wow...Anda di sini mengaitkan dan menyinggung soal perilaku para Sofis dalam roda sejarah pemikiran Yunani klasik. Sungguh menarik....

Guardiola: Teramat menarik, karena Para Sofis itu mendidik orang-orang muda Athena dari elite kaya raya waktu itu justru dalam bidang politik. Akhir-akhirnya, mereka menuai pertentangan dan penyesatan. Hasilnya, gaduh.

Filosof: Anda benar, Pep. Plato dalam karyanya berjudul Sophistes, melukiskan dan menyebut para Sofis sebagai pemburu-pemburu yang tega mengelabui para anak muda dari golongan kaya raya. Bermodal seni berpidato dan berakrobat dalam seni debat sengit, mereka membersihkan jiwa dari kerak sejarah yang serba dinamis.

Guardiola: Nah, dari amanat Plato itulah maka saya berpandangan, secara faktual, bahwa ada banyak tim top di sini, di Liga Inggris sini, bukan hanya Manchester United.

Filosof: Maksudnya?

Guardiola: Saya tahu tahu apa artinya United bagi penggemar Manchester City. Persis di sini, saya bukan pribadi yang suka berpidato berbusa-busa di atas mimbar.

Filosof: Plato memang memandang kiprah para Sofis secara positif. Kalau demikian, maka bagaimana Anda melihat dan menilai Manchester United?

Guardiola: Saya menghormati apa yang telah mereka lakukan untuk sepakbola Inggris, Eropa, dan sepak bola dunia. Itulah United. Ini pertandingan penting, persaingan dua klub besar, sejarah besar.

Filosof: Menarik, ini memang menyentuh soal pengenalan diri Anda mengenai tim Anda dan tim lawan. Sebagaimana yang dikatakan oleh filosof Sokrates, bahwa Kenalilah dirimu sendiri, atau istilahnya 'Gnoti seauton'.

Guardiola: Ya, biasanya di sini kita berbicara tentang apa yang terjadi di masa lalu, masa lalu, kemarin, sehari sebelumnya. Dan semuanya telah berubah. Saya tidak peduli dengan laga besok petang. Para pemain yang akan memutuskan siapa yang menang.

Filosof: Kalau begitu, bagaimana peran Anda sebagai manajer, sebagai pemimpin? Toh, Socrates, orang yang amat adil dan bijaksana itu, akhirnya dihukum mati dan dibunuh, karena ia berdiskusi dan berperan sebagai 'pemimpin jiwa' bagi anak-anak muridnya waktu itu?

Guardiola: Tentu saja United memiliki sejarah besar. Mereka tim berkualitas. Kami harus berusaha mengalahkan mereka. Saya berbicara dan berdiskudi dengan para pemain untuk melihat bagaimana cara mengalahkan mereka.

Filosof: Dengan berbicara dan berdiskusi, Anda ingin menggapai dan mencapai cita-cita manusia yang harmonis. Di sini saya mengutip pendapat Plato.

Guardiola: Bagaimana pendapat dia, saya ingin mendengar dan mencamkan dengan penuh seksama?

Filosof: Saat berbicara mengenai manusia yang harmonis dan adil, Plato menggunakan pembagian jiwa dalam tiga fungsi.

Guardiola: Apa saja?

Filosof: Dalam jiwa kita, ada bagian keinginan atau disebut juga epithymia, bagian energik atau thymos, dan bagian rasional atau logos.

Guardiola: Bagaimana hal itu diterapkan dalam sepak bola?

Filosof: Bermainlah dengan keinginan yang bersungguh-sungguh, dengan ditopang energi yang optimal di lapangan, dengan ditopang racikan taktik yang serba rasional.

Guardiola: Saya mengkonfirmasi bahwa Oleksandr Zinchenko telah kembali berlatih setelah operasi menjalani operasi lutut. Kami berusaha dan bersungguh-sungguh menjadi tim terbaik, salah satunya mengandalkan Sergio Aguero.

Filosof: Di sini Plato memang berbicara mengenai pengendalian diri. Hanya saja, dalam sepak bola, yang dipentingkan dan dituju justru mencetak gol dan meraih kemenangan sebanyak-banyaknya.

Guardiola: Dengan Sergio kami banyak mencetak gol dan mampu tampil bermain luar biasa, dan tanpa dia kami pun mencoba melakukan hal yang sama. Tahun lalu kami tidak memiliki Kevin (De Bruyne) dan coba melakoni musim yang baik tetapi saya lebih suka memiliki Kevin.

Filosof: Hemat saya, kemenangan bisa diraih hanya jika Anda mengenal diri sendiri.

Guardiola: Setuju. Contohnya, dia (Gabriel Yesus) harus menjadi dirinya sendiri. Kami membutuhkan golnya dan itulah mengapa kami memenangkan pertandingan terakhir. Jika saja dia menaruh ide ini di kepalanya, maka dia bisa melakukannya di setiap pertandingan. Bukan (hanya) dia, tetapi semua pemain.

Filosof: Ya, benar. Yang penting ide dalam kepala yang diwujudkan dalam kinerja konkret. Dengan keyakinan dan kesungguhan, tidak dengan setengah hati.

Guardiola: Keyakinan harus ada di kepala, bukan karena kinerja baik atau buruk, menang atau kalah. Di sini, ada beberapa hal yang tidak dapat disangkal, yakni mentalitas.

Filosof: Apakah hal itu berkaitan dengan visi bermain?

Guardiola: Kami tidak akan berada di level tinggi, jika kami tidak memiliki kualitas. Salah satu caranya? Mengandalkan kepercayaan diri yang penuh.

Filosof: Kuncinya, pengenalan diri dan kepercayaan diri?

Guardiola: Ya, para pemain dituntut percaya diri bahwa mereka cukup baik dan mampu tampil baik di setiap pertandingan, termasuk dalam derbi mendatang. Jika mereka mencetak gol, maka kepercayaan diri meningkat.

Filosof: Apa intinya?

Guardiola: Mencetak gol, bukan menguntai kata-kata di mimbar bernama Derbi Manchester.

Editor : Nazaruli