• News

  • Opini

Risiko Jadi Relawan Kemanusiaan Bisa Dituduh Kristenisasi lalu Masuk Penjara

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nasib apes sering menimpa banyak orang, tak terkecuali pada relawan kemanusiaan atau dermawan. Itu yang terjadi pada pendonor nasi anjing.

Bagi-bagi nasi bungkus yang diberi nama nasi anjing itu berakhir ngenes. Si pendonor diperiksa polisi. Kasusnya tidak main-main. Ancaman penjara menanti.

Cerita soal nasib apes juga pernah hampir menimpa saya. Untung saja saat itu saya teliti dan cermat.

Waktu gempa Lombok saya dan beberapa teman pergi ke Lombok, menjadi relawan kemanusiaan.

Gempa Lombok mengajarkan saya banyak hal. Sebagai relawan kemanusiaan saya selalu wanti2 kepada teman2 untuk hati2 dalam berbicara pada pengungsi.

Narasi pergerakan tidak boleh berbicara soal SARA. Semua hanya soal kemanusiaan yang tidak boleh dibungkus kampanye, embel-embel copras-capres dan juga soal agama.

Soal kejadian di Lombok sempat ada isu menghangat ada isu Kristenisasi. Entah dari mana isu ini berasal. Siapa yang memulainya. Saya tidak tahu. Tapi isu itu membuat saya was-was sekaligus hati2 dalam membantu korban gempa.

Salah sedikit bicara, bisa berabe. Bisa runyam. Niat baik tidak bisa jadi jaminan keselamatan jika terpeleset dalam berperilaku.

Saya tidak bisa membayangkan andai saat saya dan teman-teman turun ke salah satu Dusun di Kecamatan Kayangan tidak cek dan richeck.

Tamggal 31 Agustus 2018, sore itu, kami menyusuri suatu dusun yang semua rumah penduduknya rata dengan tanah. Kami berhenti di pertengahan jalan dusun itu. Di sana kebetulan ada relawan lain sedang memasang tenda.

Kami menunggu mereka selesai memasang tenda agar truck bantuan bisa lewat. Selepas tenda terpasang, kami menemui warga dusun itu.

Ramai sekali warga berkumpul di posko tenda pengungsi. Puluhan anak-anak kecil usia 2-12 tahun bergerombol di bawah pohon.

Saya selalu kebagian menghibur anak-anak pengungsi dari trauma gempa. Biasanya kami bernyanyi, bertepuk dan mendongeng. Anak-anak senang sekali apalagi mereka dapat crayon dan biskuit roti yang kami sengaja bagikan buat anak2.

Sore itu, usai membagikan crayon dan biskuit, tim bermaksud membagikan bantuan buku2 cerita bekas yang dititip dari donatur. Banyak donatur menyumbangkan buku-buku bekas buat anak-anak.

Dua buah box besar berisi buku diantar ke depan saya. Saya membukanya. Biasanya sebelum membagikan makanan saya selalu cek tanggal kadaluarsanya. Demikian juga soal buku. Saya cek apakah buku itu layak dibaca anak-anak atau tidak.

Kotak dibuka. Saya terperanjat. Untung saja buku itu belum dibagi. Ketika saya buka, ada buku berisi buku bacaan gambar anak-anak Kristen sekolah minggu bercampur dengan buku-buku dongeng biasa.

Buku cerita rohani Kristen semisal Orang Samaria Yang Baik Hati mungkin tercampur karena pendonor tidak mengerti kondisi riil penduduk Lombok.

Saat saya lihat buku itu, sontak buku itu saya bungkus tutup kembali. Saya menarik nafas dalam-dalam. Andai buku itu terlanjur dibagikan, lalu dibaca anak-anak muslim, saya bisa mati dihakimi.

Akan menjadi isu panas dan liar yang mungkin saja akan menghabisi saya dan teman-teman relawan lainnya? Saya tidak bisa membayangkan hebohnya medsos dengan sejuta fitnah dan serangan bertubi-tubi seperti isu Kristenisasi.

Sejak kejadian itu, saya dan tim menghentikan pembagian buku. Sulit memilah milih dari ratusan buku yang bercampur antara buku umum dan rohani.

Di masa wabah Covid-19 ini, saat saya turun ke warga yang terkena dampak ekonomi, semua bantuan berupa nasi bungkus tidak sekalipun ada stempel saya buat.

Nasi bungkus itu dimasak catering muslim. Saya pastikan halal lauk dan masakannya. Tanpa ada embel-embel aneh-aneh.

Saya belajar dari Lombok, terkadang niat baik tapi kurang peka pada lingkungan sosial bisa jadi bumerang. Dan itu bikin puyeng tujuh keliling.

Maksud hati ingin membantu, yang didapat malah penjara.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto