• News

  • Opini

Makna Kemerdekaan untuk Generasi Muda

Prof Asep Saefuddin, Rektor Untri Jakarta
Istimewa
Prof Asep Saefuddin, Rektor Untri Jakarta

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seusai upacara bendera hari Kemerdekaan saya ditanya beberapa wartawan ‘apa makna kemerdekaan bagi generasi muda?’. Saya jawab hal itu dapat dilihat dari perspektif sejarah, masa kini, dan masa depan Indonesia serta perspektif lokal dan global.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah hadiah dari penjajah Belanda yang sangat lama menguasai bangsa. Artinya di situ ada unsur perjuangan untuk meraih kemerdekaan tersebut. Para pemuda saat itu telah menyadari perlunya kemerdekaan untuk mewujudkan keinginan luhur, yakni kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, mereka berjuang sekuat tenaga agar terwujud Negara Indonesia. Slogan yang sangat terkenal saat itu adalah “merdeka atau mati”.

Perspektif sejarah ini dapat dijadikan pelajaran oleh generasi muda saat ini. Setidaknya ada lima butir penting yang terus dapat dijadikan teladan. Pertama tentang semangat juang dan  kesungguhan untuk meraih cita-cita. Kedua tentang kecintaan para pemuda saat itu terhadap bangsa negara Indonesia. Ketiga keinginan luhur agar generasi penerus bisa menikmati kemerdekaan, hidup tanpa penjajahan. Keempat kesadaran bahwa penjajahan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Kelima persatuan bangsa yang tidak tersekat oleh sara.

Kelima butir pelajaran itu sebenarnya bersifat universal dan tidak lekang dengan waktu. Universalismenya dapat dilihat dari aspek kemanusiaan yang tidak terbatas hanya untuk bangsa Indonesia saja. Bahwa penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Ini luar biasa.

Para pemuda saat ini tentu bisa memetik pelajaran disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tentunya persenjataan yang dipergunakan serta taktik dan strateginya berbeda. Akan tetapi esensinya sama terutama dalam hal kesungguhan, persistensi, semangat dan daya juang. 

Dewasa ini, kompleksitas ekonomi sangat memerlukan kreativitas dan inovasi. Bila dulu kita bersemboyan ‘merdeka atau mati’ saat ini bisa saja ‘inovasi atau mati’, innovation or die. Sudah banyak contoh perusahaan raksasa yang harus gulung tikar karena kehilangan inovasi. Mereka menganggap kekayaan berlimpah akan mengokohkan perusahaan. Kenyataannya tumbang dan hilang tanpa kesan. Semua ini harus dikaji secara detil. Artinya, inovasi dan sains-teknologi harus bersatu.

Para pemuda harus diberi ruang kreatif dan kebebasan berpikir sehingga daya imajinasi serta inovasinya berkembang dengan baik. Prof. Rhenald Kasali banyak sekali menyuguhkan buku-buku hasil penelaahanya yang dapat menjadi rujukan untuk membangun ekonomi baru. Buku terbaru yang berjudul “disruption” sangat kaya dengan contoh riel bagaimana sebuah perusahaan bis maju, tumbang, atau sempat jatuh lalu bangun kembali. Bila semua itu harus diramu dalam beberapa kata, adalah “jangan menyerah dan berani melakukan disrupsi”. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan para pemuda pada masa perjuangan kemerdekaan. Mereka pantang menyerah dan begerilya, suatu pola disrupsi dalam perang fisik.

Perlu Pendidikan yang Kreatif

Lembaga pendidikan sejak dasar sampai perguruan tinggi dapat memberikamn pelajaran perspektif sejarah untuk membangun masa depan. Tetapi jangan terus-terusan di lembaran lama. Perlu membantu pemuda untuk melihat jauh ke depan. Materi-materi masa depan dapat diambil dari perkembangan sosial ekonomi dalam dan luar negeri. Pemuda dapat juga belajar dari kekacauan negara lain akibat kesalahan memandang sebuah ajaran. Optimisme harus tumbuh dan berkembang yang didukung oleh guru, dosen, dan ekosistem pendidikan. Para guru dan dosen jangan terjebak pada pendekatan indoktrinasi satu arah yang menutup ruang kreativitas dan daya imajinasi siswa/mahasiswa.

Dewasa ini sumber belajar (learning resources) dapat diambil dari berbagai negara melalui pemanfaatan teknologi informasi. Peserta didik bisa melihat dan mempelajari secara lebih detil tentang berbagai kejadian dan kasus-kasus pemanfaatan sains dalam berbagai aspek kehidupan. 

Internet of things (IoT) bisa dioptimumkan untuk pengembangan ekonomi berbasis sumberdaya lokal yang sangat kaya. Para pemuda dapat menghubungkan kebutuhan pasar dengan industri rumah tangga atau UKM. Untuk itu kolaborasi antara bagian hulu (produksi, proses pembuatan produk, kemasan, pasokan) dan bagian hilir (kebutuhan pasar) dapat dibantu dengan IoT. Pola ini bisa merambah ke pasar global. Model bisnis baru ini selain dibuat simulasinya, juga diujicobakan di daerah dengan mengundang sumber modal ventura atau pola funding bersama.

Para pemuda dapat dilibatkan secara kreatif mencari solusi persolan daerah, urbanisasi, brain drain, kesenjangan kota-desa, keterkaitan antar lembaga pemerintah dan sektor usaha dengan potensi sumberdaya alam lokal. Saat ini mulai berkembang usaha pariwisata berbasis perumahan setempat. Selain informasi dilakukan lewat IoT, juga perlu pembinaan-pembinaan rumah-rumah penduduk supaya menjaga kebersihan, keamanan, ketertiban, dan layanan menyenangkan. Suguhan-suguhan kuliner lokal dan keindahan alam dapat dikemas menjadi paket wisata. 

Para pemuda dapat juga diberi ruang untuk membantu menyelesaikan persoalan kekurangan air di beberapa daerah. Teknologi-teknologi pemanenan garam, budidaya perikanan, bisnis jagung, peternakan unggas dan agribisnis lainnya dapat melibatkan pemuda yang saat ini tidak mempunyai pekerjaan. 

Pembangunan desa dan daerah terpencil dapat melibatkan universitas agar ada sistematika program secara berkelanjutan. Misalnya kampus-kampus daerah ikut membantu upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, dan perekonomian daerah. Para pemuda yang saat ini sedang belajar di Perguruan Tinggi jangan hanya menjadi penonton pasif. Sistem pendidikan tinggi jangan terlalu terjebak pada indikator-indikator yang dimainkan oleh negara-negara asing. Kita sendiri harus berani melakukan terobosan sistem dengan kekuatan internal. Istilah Prof. Rhenald, kita harus jadi ‘driver’ jangan jadi ‘follower’. Itulah sebagian dari makna kemerdekaan bagi para pemuda. Dirgahayu RI yang ke 72. Merdeka!

Penulis adalah Guru Besar Statistika IPB/Rektor Universitas Trilogi/Wakil Ketua FRI

 

 

 

 

Penulis : Prof Asep Saefuddin
Editor : Farida Denura