• News

  • Peristiwa

DPR Sebut Perpres Jokowi soal FDS Redam Kegalauan Masyarakat

Ketua Fraksi PPP DPR RI Reni Marlinawati
Indonesiadaily
Ketua Fraksi PPP DPR RI Reni Marlinawati

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Fraksi PPP DPR RI Reni Marlinawati mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo sebelum meninggalkan tanah air untuk melakukan kenegaraan ke Singapura merupakan peredam, kegalauan, kegundahan, masyarakat terhadap Peraturan Menteri (Permen) Kemendikbud Nomor 23/2017 tentang sekolah 5 hari atau Full Day School (FDS).

Sebagaimana diberitakan berbagai media sebelumnya, Mendikbud Muhajir Effendy beberapa hari lalu mengeluarkan Permen No:23/2017 tentang Full Day School (FDS).

“Perpres itu saya nilai peredam kegalauan masyarakat,” kata anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati dalam Dialetika Demokrasi di Press Room Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Dalam dialetika demokrasi bertema ‘Perpres Pendidikan Berkarakter Efektif? hadir juga Puti Guntur Soekarno, Saleh Partaonan Daulay (Fraksi PAN) serta Komisioner KPAI sekaligus pengamat pendidkan, Retno Listyarti.

“Saya menyambut positif Perpres nomor 87/2017 karena setidaknya Presiden Jokowi mendengar keluhan, keresahan, kegunaan masyarakat terkait keluarnya PerMendikbud yang lalu, terkait dengan sekolah 5 hari,” kata Reni.

Dijelaskan, substansi dari Permen yang dikeluarkan Mendikbud Muhajir Effendy setidaknya dengan Perpres itu juga memberikan ketenangan kepada masyarakat. Menurut dia, ada beberapa point penting yang tertuang dalam Perpres itu antara lain tentang penguatan karakter anak-anak dalam rangka penguatan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

“Dengan demikian, tampak sekali konsistensi, komitmen dan keseriusan presiden terhadap pembangunan karakter bangsa melalui gerakan nasional revolusi mental melalui sekolah. Ini sekalgus merespon yang sudah dimulai oleh Presiden SBY beberapa tahun sebelumnya yakni tentang revitalisasi budi pekerti dan karakter bangsa,” kata politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Reni menjelaskan,  secara substansi, sebetulnya ini bukan sesuatu yang baru kalau itu mengacu kepada tujuan pendidikan nasional. Pertama adalah mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki keimanan, ketakwaan kepada tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

Namun, kata Reni, belakangan ini masalah itu terasa tergerus sehingga terjadi degradasi moral yang luar biasa.

“Terjadi perubahan prilaku terhadap anak didik yang luar biasa. Terjadi pergeseran yang luar biasa karena pengaruh dari luar, media sosial, keterbukaan teknologi dan lain-lain. Karena itu, pemerintah perlu membumikan karakter ini,” ujarnya.

Menurutnya,  pemerintah tampaknya mulai sadar kenapa ini di tumpukan kepada pendidikan. Jawabannya, karena memang pendidikan adalah ujung tombak terdepan dalam pembentukan karakter, jelasnya.

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Nazaruli