• News

  • Peristiwa

Taman Nasional Bisa Penuhi Kebutuhan Listrik Nasional, Ini Penjelasan KLHK

Kawasan Taman Nasional dapat penuhi kebutuhan listrik. (Ilustrasi:Untan)
Kawasan Taman Nasional dapat penuhi kebutuhan listrik. (Ilustrasi:Untan)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kini kawasan Taman Nasional (TN) tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai wisata alam, namun juga untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional, melalui pemanfaatan potensi sumber daya air dan panas bumi yang dimilikinya.

Sebagaimana digagas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam menjadikan TN Lore Lindu sebagai kawasan Cagar Biosfer Lore Lindu (CBLL), di Provinsi Sulawesi Tengah.

Wilayah CBLL meliputi empat kabupaten yaitu, Kabupaten Sigi, Poso, Parigi Moutong dan Donggala. Dengan masuknya TN Lore Lindu seluas 217.991,18 ha sebagai zona inti CBLL, memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan pembangkit listrik, pada skala mikro (< 1 MW) dan mini (< 10 MW).

“Pemenuhan pelayanan dasar kebutuhan energi listrik, merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan nasional, khususnya di Sulawesi Tengah. Sampai tahun 2017, ada beberapa desa yang masuk dalam zona penyangga dan zona transisi CBLL, yang belum teraliri listrik. Desa-desa tersebut umumnya berada di wilayah yang terpencil, dan jauh dari akses informasi”, ujar Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) KLHK Listya Kusumawardhani, seperti dilansir dari laman PPID KLHK, Minggu (1/10/2017).

Dalam acara yang diselenggarakan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) ini, CBLL didukung GIZ-Forclime hadir sebagai peserta mewakili KLHK, untuk menyampaikan informasi potensi sumber daya air dan panas bumi, yang dapat dikembangkan sebagai penghasil energi listrik di wilayah CBLL.

Saat ini Indonesia telah memiliki 11 (sebelas) Cagar Biosfer, dan CBLL yang ditetapkan pada tahun 1977, merupakan bagian dari cagar biosfer dunia yang berjumlah 651 lokasi dari 120 negara. Sebelumnya, dengan difasilitasi GIZ-Forclime, logo CBLL telah disepakati dan diluncurkan oleh Menteri LHK, pada pembukaan Pameran Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa), di Jakarta (06/09/2017).

Disampaikan Listya, pengelolaan CBLL memadukan tiga fungsi utama, yaitu pelestarian keanekaragaman biologi dan budaya: penyediaan model pengelolaan lahan, dan lokasi eksperimen untuk pembangunan berkelanjutan; serta penyediaan tempat untuk riset, pemantauan lingkungan, pendidikan dan pelatihan.

“Potensi yang dimiliki oleh CBLL perlu disebarluaskan, khususnya kepada pihak terkait ketenagalistrikan, agar dapat mendesain jalan keluar atas isu yang muncul tersebut sesuai dengan regulasi yang berlaku,” kata Listya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani