• News

  • Peristiwa

Bahasa Daerah Terancam Punah, Ini Upaya Kemendikbud

Aksara Jawa. Kemendikbud mendorong Pemda mengembangkan bina bahasa dan sastra.
Istimewa
Aksara Jawa. Kemendikbud mendorong Pemda mengembangkan bina bahasa dan sastra.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dadang Sunendar mengatakan, Indonesia sebetulnya memiliki sekitar 700 bahasa daerah, 646 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi dan 67 bahasa yang sudah terevitalisasi.

Tetapi dari 67 bahasa yang terevitalisasi, kata Dadang, bahasa tersebut sudah terbagi menjadi beberapa kategori diantaranya aman, aman tetapi alami kemunduran, terancam kritis, kritis, terancam punah dan punah.

Karena itu, sebagai salah satu upaya dari mempertahankan keberadaan bahasa daerah, pihaknya mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk mengembangkan dan melakukan bina bahasa dan sastra. Hal ini kata Dadang, akan membantu pemerintah juga dalam melakukan koordinasi dalam upaya pelestarian bahasa daerah.

"Jadi kami berupaya untuk membuat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adakan latihan-latihan bahasa daerah dan penelitian. Terpenting, masyarakat harus mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah dan menguasasi bahasa asing," kata Dadang saat Taklimat Media di Kantor Kemendikbud di Jakarta, Kamis (5/10/2017).

Selain itu, dijelakan Kepala Pusat Pembinaan Gufran Ali Ibrahim, upaya lain yang dilakukan untuk melestarikan bahasa daerah adalah melakukan konservasi, revitalisasi dam dokumentasi.

Melalui konservasi, dijelaskan Gufron, pihaknya akan melakukan pemetaan bahasa daerah yang keadaannya tergerus dengan skala daya hidup. Ketika sudah melakukan pemetaan, dilanjutkan dengan tahap mempersiapkan program-program revitalisasi dan juga mendokumentasikannya, meski nantinya ada pula bahasa yang telah punah.

Tidak hanya upaya yang dilakukan pemerintah, Gufron juga mengimbau peran dari tokoh-tokoh masyarakat daerah untuk mendorong masyarakat sekitar dalam penggunaan bahasa daerah. Karena, kata Gufron, sebab utama bahasa daerah punah bukan karena berhenti bertutur tetapi keluarga yang tidak biasakan menggunakan bahasa ibu.

"Saat ini setelah memetakan, ditemukan ada 67 bahasa daerah yang keadaannya tergerus karena soal skala daya hidup. Meski 67 bahasa tersebut tidak lagi digunakan di ranah kehidupan, namun bisa diterapkan di kalangan keluarga," kata Gufron.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang