• News

  • Peristiwa

Mardani Sindir IQ TKN, Jubir Jokowi: Lucu dan Tidak Bermanfaat bagi Rakyat

Juru Bicara Jokowi - Ma`ruf Sunan Kalijaga
Rimanews
Juru Bicara Jokowi - Ma`ruf Sunan Kalijaga

JAKARTA, NNC - Juru bicara capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Sunan Kalijaga, menanggapi pernyataan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera yang menyebut Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf ber-IQ 80 secara komunal, lantaran belum memiliki ketua TKN.

Menurut Sunan, masyarakat sudah cerdas melihat gaya berpolitik yang dilakukan Mardani dan politisi oposisi lainnya di kubu capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya berusah mencari-cari celah untuk menyerang Jokowi-Ma'ruf.

"Kemarin Pak Jokowi naik motor ribut, padahal itu presiden membuat hiburan entertain untuk masyarakat Indonesia, untuk para tamu undangan, untuk memberi semangat para atlitnya, sekarang ribut lagi masalah IQ. Ini kan artinya mereka selalu mencari celah bagaimana jeleknya, bagaimana negatifnya," kata Sunan kepada NNC, Jumat (24/8/2018).

"Sementara saya rasa masyarakat saat ini sudah pintar, mereka gak mau dengar yang namanya hoax, mereka gak mau denger cerita begini begitu, mereka cuma mau melihat kenyataan, masyarakat Indonesia hanya mau menilai dari apa yang mereka rasakan dan apa yg mereka alami, serta yang mereka lihat secara langsung. Bukan janji, bukan hoax, bukan juga lempar-lemparan isu negatif," sambungnya.

Lagipula, lanjut juru bicara Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini, pernyataan Mardani soal IQ TKN Jokowi-Ma'ruf sama sekali tidak bermanfaat untuk NKRI, dan tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.

"Orang-orang yang terjun di dunia politik itu semuanya pintar, jadi gak elok bicara seperti itu. Lucu saja kalau mereka itu wakil rakyat bicaranya saja tidak pantas untuk diikuti oleh rakyat atau tidak positif untuk masyarakat, buat apa?" ujarnya.

Untuk itu Sunan berharap, kubu oposisi di dalam mencari dukungan masyarakat, sebaiknya membuat ide atau gagasan yang bermanfaat bagi NKRI, mengritik sesuatu yang bersifat membangun, serta lebih santun dalam berpendapat, dan yang terpenting adalah buktikan kepada rakyat dengan prestasi.

"Ya gak usahlah (sindir sana sini) seperti itu, tunjukan saja dengan prestasi. Tujuan mereka apa sih, tujuan mereka di sebelah itu hanya untuk merebut kekuasaan, untuk bagi-bagi kue, atau untuk golongan dan kepentingan pribadi, atau untuk NKRI?" ucap Sunan.

"Kalau untuk NKRI ya yang mana yang baik dari Pak Jokowi, patut di apresiasi, atau kalau perlu ditiru, atau diteruskan jika mereka menjabat. Nah yang tidak baik, katakan itu tidak baik dan pakai dengan cara-cara yang mungkin bisa lebih santun," tandasnya.

Sementara soal belum adanya ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Sunan berpendapat, hal itu wajar dalam dalam dinamika politik dan tidak perlu dipersoalkan. "Kayak gak tau saja (dinamika politik), kemarin saja bahkan saat penentuan cawapres saja di last minute. Orang taunya siapa, yang jadi siapa," jelasnya.

Sebelumnya, Koalisi Indonesia Kerja (KIK) menyerahkan daftar TKN Jokowi-Ma'ruf ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), dimana totalnya mencapai 150 anggota timses, namun minus nama ketua TKN.

Melihat hal itu, Mardani lantas menyentil tingkat intelegence quontient (IQ) atau kecerdasan intelektual TKN Jokowi-Ma'ruf dengan menyebut, secara kelompok,  IQ tim tersebut dibawah 100, meski secara personal bisa saja ada yang ber-IQ 120.

"Aneh semua lengkap sampai 150 nama tapi ketua nggak ada. Padahal bisa jadi IQ personal 120 tapi IQ komunal (kumpulan) bisa cuma 80 karena semua sangat tergantung ketua, ketua dan ketua," kata Mardani, Selasa (21/8/2018).

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani