• News

  • Peristiwa

Seorang Wanita Bercadar Bawa Ransel Diburu Polisi di Lokasi Kerusuhan

Suasana di kawasan Thamrin dekata Gedung Bawaslu pada Kamis dini hari.
NNC/Adiel Manafe
Suasana di kawasan Thamrin dekata Gedung Bawaslu pada Kamis dini hari.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang wanita memakai gamis dan cadar berwarna hitam, serta membawa tas ransel yang juga berwarna hitam, dicegat polisi di lokasi kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019) sekitar Pukul 22.50 WIB.

Pasalnya, wanita itu tiba-tiba muncul seorang di perempatan depan Gedung Jaya, tak jauh dari kerumunan polisi. Wanita itu mendekat ke arah polisi, sementara lokasi tersebut sudah disterilkan dari massa yang menggelar aksi di depan Gedung Bawaslu
 
Melihat gelagatnya yang mencurigakan, aparat kepolisian memintanya berhenti dan tidak mendekati kerumunan petugas.Namun wanita tersebut tidak  menghiraukan himbauan polisi. 
 
Polisi kemudian memberikan peringatan kepada wanita tersebut. Ia diperintahkan untuk berlutut dan meletakan tas ranselnya. 
 
"Ibu yang memakai baju hitam, berhenti Bu. Kami minta lepas tas itu, lepaskan tas itu. Jika tidak saya perintahkan tembak gas air mata Bu. Satu, dua, tiga," ujar polisi menggunakan pengeras suara. 
 
Lagi-lagi, peringatan polisi tidak digubris wanita itu. Karena sudah beberapa kali diperingatkan, akhirnya polisi melepaskan tembakan gas air mata. 
 
"Di badannya ada kabel itu. Ada kabel apa itu di badannya. Tembak gas air mata, tembak gas air mata," seru polisi di atas mobil komando. 
 
Setelah polisi menembakkan gas air mata, wanita itu kemudian berjalan menuju ke Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Langkahnya pun dipercepat. 
 
Melihat hal itu, beberapa anggota polisi kemudian diperintahkan mengejar wanita tersebut. 
 
Seperti diberitakan, ribuan massa mengatasnamakan diri Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) menggelar unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu pada Rabu (22/5/2019). 
 
Aksi ini dilakukan untuk memprotes hasil Pemilu 2019, khususunya pilpres, karena mereka menilai telah terjadi kecurangan secara terstruktur, masif dan sistematis.
 
 
 
 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan.H.P