• News

  • Peristiwa

Paus Fransiskus Akan Kunjungi Jepang dan Thailand, Ini Misinya

Paus Fransiskus akan kunjungi Jepang dan Thailand.
Vatikan
Paus Fransiskus akan kunjungi Jepang dan Thailand.

VATICAN, NETRALNEWS.COM - Paus Fransiskus membawa misi untuk melarang penggunaan senjata nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Thailand.

Perjalanan selama tujuh hari, diketahui sebagai salah satu yang terlama dan jauh, memberikan Paus Fransiskus kesempatan untuk mendukung dan mendorong komunitas Katolik yang kecil namun dihormati, yang merupakan minoritas di setiap negara yang akan dikunjungi. Faktanya, populasi Katolik di masing-masing negara 389.000 di Thailand dan 536.000 di Jepang.

Dia akan berada di Thailand pada (20/11/2019), dan akan bertemu dengan pemimpin tertinggi umat Buddha Thailand, Somdet Phra Maha Muniwong dan Raja Maha Vajiralongkorn. Dia juga diharap membantu atasi momok pariwosata seks dan perdagangan manusia.

Setelah ke Thailand, dia akan menuju ke Jepang pada (23/11/2019), terutama Hiroshima dan Nagasaki. Diketahui sekitar 400.000 orang terbunuh, baik secara langsung atau karena penyakit radiasi atau luka-luka akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan di Nagasaki tiga hari kemudian ketika negara itu berusaha mengakhiri Perang Dunia Kedua. Demikian dilansir dari laman Reuters, Senin (18/11/2019).

Paus Fransiskus menginginkan larangan total terhadap senjata nuklir. Paus Fransiskus akan berjumpa dengan para korban selamat, berdoa, dan membaca "pesan utama tentang senjata nuklir" di pusat gempa di Nagasaki. Dia kemudian akan mengunjungi Peace Memorial Park di Hiroshima.

Setelah bencana besar yang sempat melanda Fukushima, Konferensi Waligereja Jepang mengeluarkan dokumen yang menyerukan penghapusan pembangkit tenaga nuklir. Mereka juga menentang langkah Perdana Menteri Shinzo Abe untuk merevisi konstitusi pasifis pasca-perang Jepang.

Paus Fransiskus, yang sebagai pemimpin umat Katolik Roma juga akan bertemu dengan beberapa "Kristen Tersembunyi" Jepang yang semakin berkurang, keturunan dari mereka yang memelihara iman mereka secara rahasia selama berabad-abad penganiayaan. Jesuit membawa agama Kristen ke Jepang pada tahun 1549, tetapi dilarang pada tahun 1614.

Para misionaris diusir dan umat beriman dipaksa untuk memilih antara mati syahid atau menyembunyikan agama mereka. Larangan tersebut lantas dicabut pada 1873.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani