• News

  • Peristiwa

Pemerintah Siapkan Bansos dan Larang Mudik, Warganet: Mikir Buat Makan Besok Pusing

Presiden Joko Widodo
Antara
Presiden Joko Widodo

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, pemerintah mulai menggulirkan paket bantuan sosial (bansos) untuk wilayah DKI Jakarta, disusul wilayah Bodetabek.

Program Kartu Prakerja juga sudah mulai berjalan. Bansos tunai juga mulai dikerjakan minggu ini. 

Setelah semua berjalan dengan baik, pemerintah mengambil keputusan: menetapkan larangan untuk mudik bagi seluruh masyarakat. Tujuannya untuk mencegah mobilitas penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya yang dapat meningkatkan risiko penyebaran Covid-19. 

Mengetahui hal ini, banyak warganet yang tidak setuju bila mudik dilarang. Alasannya pun beragam, mulai dari tidak ada penghasilan dan tidak makan hingga kangen dengan sanak keluarga.

"Tolong pikirkan nasib rakyat yang tak bisa cari makan lagi!," kata maz_pengz22, dikutip dari kolom komentar unggahan Instagram Jokowi, Selasa (21/4/2020).

"Tolong beri sanksi pak masih banyak yg bandel nekat mudik loh," kata natadexoxo_.

"Boro2 mikirin mudik pa 

mikirin buat makan besok aja pusing," kata ellisa_suminar.

"Pak jangan larang aja. Jadi kita di perantauan mau makan apa? Ga ada bantuan dari pemerintah. Mau bayar kontrakan pakai apa? Udah ga bisa kerja. Coba bapak bikin link aja kasi solusi. Link bantuan untuk para perantau. Seperti kartu pra kerja," kata tria12afri.

"Apakah ada bantuan untuk warga yg merantau pak ? Karna yg merantau tdk bisa pulang ke kampung halaman nya,,saya minta respon dari bpk presiden," kata bangsena_21julian.

Untuk diketahui, keputusan mengenai larangan mudik ini diambil kajian dan pendalaman di lapangan kita peroleh. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, terdapat 68 persen responden yang menetapkan untuk tidak mudik di tengah pandemi Covid-19. 

Disebut Jokowi  masih terdapat 24 persen yang bersikeras untuk tetap mudik, dan tujuh persen yang telah mudik ke daerah tujuan. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli