• News

  • Peristiwa

Harga Minyak Anjlok, BBM Belum Turun, Ahok Disentil Birgaldo: Kali Ini kok Mlempem?

Basuki Tjahja Purnama dan Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Basuki Tjahja Purnama dan Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pandemi virus Corona (COVID-19) menyebabkan permintaan akan bahan bakar minyak (BBM) menurun drastis. Saat ini pun harga minyak mentah dunia yang stoknya melimpah sampai tak terserap dan membuat harga anjlok. Apa harga BBM dalam negeri akan ikut turun?

Situasi tersebut membuat salah satu Relawan militan yang dahulu selalu mendukung Basuki Tjahja Purnama (Ahok) sekalogus pegiat media sosial, Birgaldo Sinaga membuat cuitan menyentil Ahok. Di dinding akun Facebooknya, Rabu (22/4/2020) menulis:

Sudah lama harga minyak dunia turun jauh. Katanya harga minyak dalam negeri mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Kalo harga minyak dunia naik, langsung harga dalam negeri disesuaikan. Naik.

Tetapi kenapa harga minyak dunia yang sudah turun jauh tapi harga dalam negeri gak turun ya?

Hallo Ahok bisa kasih keterangan kenapa Pertamina belum menurunkan harga?

Biasanya anda paling cepat bertindak untuk rakyat. Tapi kali ini kok seperti melempem? Ada apa?


Sebelumnya dilansir Detik.com, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan harga BBM dalam negeri sendiri ditetapkan oleh Kementerian ESDM. Namun, Pertamina juga punya pertimbangan.

Ia berpendapat, jika Pertamina BUMN trading maka harga BBM bisa langsung turun. Namun, sebagai BUMN, Pertamina tak mungkin menyetop kilang dan produksi di hulu.

"Jadi maksudnya begini terus terang dari hulu kami tidak mungkin men-adjust seluruh opex (operating expenditure) dan capex (capital expenditure) supaya sesuai dengan harga crude hari ini. Terus terang saja biaya produksinya lebih tinggi dari harga crude hari ini," paparnya dalam rapat dengan Komisi VII, Selasa (21/4/2020).

Dia bilang, Pertamina juga mesti memprioritaskan untuk menyerap produksi dalam negeri. Begitu juga dengan produksi kilang. Nicke menjelaskan saat ini tak mungkin melawan harga BBM impor karena harganya lebih murah.

"Demikian kilang, terus terang sekarang kilang kita nggak mungkin melawan harga impor. Kami membeli BBM impor harganya lebih murah dibanding harga crudenya. Waktu di pertengahan atau akhir Maret kami membeli crude harganya US$ 24 per barel tapi harga gasoline US$ 22,5. Dalam kondisi ini ya lebih baik kita tutup semua kilang, tapi kan kita nggak boleh seperti itu," imbuh dia.

Menurut Nicke, dari sisi harga sebenarnya BBM Indonesia lebih murah jika dibandingkan negara kawasan regional.

"Kalaupun nanti ini harga harus turun, satu hal lagi informasi kalau kita bandingkan harga kita dengan negara lain regional sebetulnya harga kita hanya kalah dengan Malaysia karena kita juga terdepresiasi rupiahnya. Kita bandingkan dalam US$ untuk gasoline US$ 0,49, Rp 7.650," ujarnya.

"Diesel price harga kita Rp 5.150 itu US$ 0,33 ini paling murah malah," ujarnya.
Baca juga: Baca di Sini! Alasan Lengkap Harga BBM Tak Kunjung Turun

Dihubungi terpisah, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan berpendapat, sekarang sudah saatnya pemerintah dan badan usaha menurunkan harga BBM.

Selain itu, menurut Mamit Pertamina punya kewenangan untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi. Sementara untuk BBM subsidi memang harus menunggu keputusan pemerintah.

"Apakah harus Premium (subsidi) atau umum (non-subsidi)? Saya kira kedua-duanya memang harus diturunkan," imbuh Mamit kepada detikcom.

Lalu, jika mengacu pada ketentuan perhitungan formula harga dasar penjualan BBM eceran jenis non-subsidi yang tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) nomor 62 tahun 2020, penurunan itu seharusnya dilakukan di akhir April, atau awal Mei 2020 ini.

"Memang sudah diatur dalam Kepmen, kapan mereka harus melakukan evaluasi. Harusnya sih 3 hari lagi mereka paling tidak sudah melakukan perhitungan. Harapan saya mungkin tanggal 27 April atau pun awal Mei saat itu sudah ada harga baru, harusnya ya," urainya.

Untuk besarannya, ia memprediksi harga Pertamax bisa mencapai level Rp 7.500/liter, sementara Premium Rp 5.500/liter.

Editor : Taat Ujianto