• News

  • Peristiwa

Benny K Harman: Buzzer Itu Seperti Pasukan Genderuwo, Mereka Tidak Mengabdi pada Kebenaran

Ilustrasi Buzzer
Istimewa
Ilustrasi Buzzer

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota DPR Benny Kabur Harman, angkat bicara soal Istana punya Buzzer.

Menurut Benny buzzer itu seperti pasukan genderuwo, anggotanya terdiri dari kaum intelektual bayaran, mereka tidak mengabdi pada kebenaran dan kesejahteraan rakyat tapi mengabdi pada kekuasaan.

"Istana punya Buzzers? Buzzer itu seperti Pasukan Genderuwo, anggotanya terdiri dari kaum intelektual bayaran, mereka tidak mengabdi pada kebenaran dan kesejahteraan rakyat tapi mengabdi pada kekuasaan. Tugas utama Pasukan ini ialah mengawal dan mempertahankan kekuasaan. Liberate!," tulis Benny di akun Twitternya @BennyHarmanID, Sabtu (6/6/2020).

Cuitan Benny pun direspon berbagai komentar oleh netizen, berikut rangkumannya yang terpantau netralnews.com, Minggu (7/6/2020).

@ponangpr: Sepakat ... menggunakan nalar dan ilmunya hanya untuk kenikmatan sesaat. Semoga diberi hidayah ...

@TheCircle25: Mereka punya andil besar dlm perpecahan ditengah anak bangsa. Rezim tumbang buzzerRp pun mesti ditumpas bersama bangsat2 pembinanya.

@98ronalddL: Benar. Ilmu jadi selubung untuk mengabdi pada penguasa karena jabatan dan uang.

Tapi di publik seolah mereka mengabdi pada rakyat. 

Inilah intelektual pedagang yang sangat jahat pada negara.

Srbelumnya pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Donny Gahral Adian bahwa buzzer fitrah demokrasi menjadi isyarat Istana tidak membubarkan buzzer pendukung Jokowi.

Demikian dikatakan pengamat politik Muslim Arbi dalam pernyataan kepada suaranasional, Sabtu (6/6/2020). “Selama buzzer Jokowi tak dibubarkan, medsos akan terus ramai dan terbelah dua antara pendukung Jokowi dan oposisi,” ungkapnya.

Kata Muslim Arbi, oposisi di media sosial itu organik dan tidak bayaran seperti buzzer Jokowi. “Oposisi medsos sebagai respon atas buzzer Jokowi yang menyerang tokoh-tokoh oposisi seperti Habib Rizieq, Ustadz Tengku Zulkarnain, Fadli Zon, Ustadz Haikal Hasan,” jelasnya.

Menurut Muslim, buzzer Jokowi sudah terkenal dengan kebal hukum walaupun melakukan ujaran kebencian. “Permadi Arya atau Abu Janda sampai sekarang belum diperiksa polisi, ada Dewi Tanjung politikus PDIP juga buzzer Jokowi juga tidak diperiksa polisi kasus penyebaran hoaks terhadap Novel Baswedan,” papar Muslim.

Kata Muslim, Jokowi membutuhkan buzzer untuk meningkatkan pencitraan dan menghadapi lawan politiknya di media sosial. “Buzzer dipelihara agar citra Jokowi selalu bagus,” pungkas Muslim.

Editor : Sesmawati