• News

  • Peristiwa

Soal Lagu Balonku, Habib Husein: Kalau Gak Mau Kirim Fatehah, Minimal Jangan Nuduh

Penulis filsafat dan intelektual muda Islam, Habib Husein Ja’far Al Hadar
Cariutad
Penulis filsafat dan intelektual muda Islam, Habib Husein Ja’far Al Hadar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penulis filsafat dan intelektual muda Islam, Habib Husein Ja’far Al Hadar ikut berkomentar soal ceramah Ustaz Zainal Abidinyang menyebut lagu anak-anak 'Balonku' mengajarkan untuk membenci agama Islam.

Lewat akun Twitternya, Habib Husein menjelaskan, lagu Balonku diciptakan oleh Pak Kasur dan digubah AT. Mahmud, keduanya merupakan Muslim yang sibuk mendidik anak Indonesia dengan lagu sampai tua.

"Lagu 'Balonku' diciptakan Pak Kasur, digubah AT. Mahmud. Keduanya Muslim yg sibuk mendidik anak Indonesia dengan lagu sampai tua. Ada banyak lagu anak yg diciptakan keduanya: 'Lihat Kebunku' & 'Ambilkan Bulan," tulis @Husen_Jafar, Jumat (12/6/2020).

Karenanya, Habib Husein mengingatkan, jika tidak mau mendoakan dan berterima kasih atas jasa Pak Kasur dan AT. Mahmud bagi bangsa ini, maka setidaknya jangan asal menuduh hasil karya mereka.

"Kalau gak mau kirim Fatehah sebagai bentuk terima kasih, minimal jangan nuduh," cuit pendakwah muda lulusan UIN Syarif Hidayatullah itu.

Sebelumnya, media sosial dihebohkan dengan beredarnya potongan video ceramah Ustaz Zainal Abidinmendadak yang menyebut lagu anak-anak Balonku dan Naik-naik ke Puncak Gunung  merupakan lagu yang mengajak membenci agama Islam dan membenarkan agama lain.

"Anak-anak kecil sejak umur TK aja sudah dilatih untuk benci Islam. 'Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya.....' Yang meletus balon apa, yang meletus apa? Hijau. 'Hatiku sangat kacau..' lho, Islam itu bikin kacau saja, tinggal empat pegang erat-erat. Apa? Merah, kuning...," kata Ustaz Zainal dalam potongan video viral.

"Apalagi nyanyi yang jelas-jelas mengajak untuk membenarkan ajaran Kristen. 'Naik-naik ke puncak gunung, tinggi, tinggi sekali, kiri kanan..'(menunjuk jari ke atas, kiri dan kanan), anda lihat Messi ketika Brazil nembak bola (menunjuk jari ke atas, kiri dan kanan). 'Ku lihat saja, banyak pohon? Apa? Kenapa cemara? padahal di Sumatera banyak pohon sawit. Apalagi di Jawa, pisang. Dan cemara itu pohon imporan, nggak banyak. Lihat, ditanamkan untuk mencintai pohon cemara, pohon Natal...," ujar Ustaz Zainal. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati