• News

  • Peristiwa

Tahun Ajaran Baru, Hanya 6 Persen Peserta Didik di Indonesia yang Boleh Sekolah Tatap Muka

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim
Jawa Pos
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, sebesar 94 persen peserta didik di Indonesia tidak diperkenankan untuk melakukan sekolah tatap muka. Presentase tersebut yang dimaksud, meliputi sebanyak 429 Kabupaten/Kota yang berada pada zona kuning, oranye, dan merah.

Kata Mas Menteri, ketentuan ini berlaku untuk sekolah dini, dasar, menengah, dan atas. Maka dari itu, peserta didik masih belajar di rumah. 

"Enam persen (85 Kabupaten/Kota) zona hijau, itu yang diperbolehkan untuk lakukan pembelajaran tatap muka. Tetap dengan protokol kesehatan yang sangat ketat," kata Mas Menteri. 

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Nadiem saat Webinar Pengumuman Surat Keputusan Bersama (SKB) bersama Mendikbud, Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), dan Ketuw Komisi X DPR, Senin (15/6/2020).

Lebih lanjut Mendikbud mempersilahkan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengambil keputusan terkait sekolah di zona hijau tersebut, yang akan lakukan sekolah tatap muka. Selain itu tatap muka juga harus dilakukan dengan memenuhi kriteria penetapan oleh Gugus Tugas Covid-19

Kriteria sekolah boleh tatap muka diantaranya, sebuah kabupaten/kota harus berada di zona hijau; Pemda harus memberikan ijin; Satuan pendidikan memenuhi ada sejumlah check list dari persiapan pembelajaran tatap muka.

"Ketiganya ada langkah pertama untuk kriteria pembukaan sekolah boleh tatap muka. Ada lagi satu perijinan yang perlu dipenuhi, yakni dari orang tua peserta didik," tegas Mas Mendikbud

Dijelaskannya, orang tua peserta didik harus setuju anak mereka pergi ke sekolah. Akan tetapi, tidak bisa memaksakan pula orang tua murid, apabila merasa belum cukup aman anaknya untuk belajar di sekolah.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati