• News

  • Peristiwa

Pelaku Bom Bunuh Diri di Jolo WNI, FH: Jangan Pernah Terima Masuk Kembali ke Indonesia

Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean
Istimewa
Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menanggapi adanya warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina.

Dalam akun Twitternya, Ferdinand mengatakan, jika terbukti seorang WNI menjadi pelaku bom bunuh diri di Jolo, maka betapa bahayanya menerima kembali WNI mantan pengikut ISIS.

Ia pun meminta pemerintah untuk tidak menerima WNI yang bergabung dalam ISIS. Karena terlalu beresiko bagi keamanan bangsa Indonesia.

"Hal ini jika terbukti, maka betapa bahayanya menerima kembali para yang dulu WNI tapi berhianat membelot dan ikut ISIS. Jangan pernah terima mereka masuk kembali ke Indonesia. Terlalu beresiko bagi keamanan bangsa ini," kata Ferdinand dalam akun Twitternya, @Ferdinand Haean3.

Sebelumnya diketahui Militer Filipina menyatakan, mereka sudah mengetahui identitas dua pelaku bom bunuh diri yang menewaskan 14 orang di Jolo.

Berdasarkan keterangan pihak keamanan, para pengebom bunuh diri adalah janda dari milisi Abu Sayyaf, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

Sebanyak 14 orang tewas dengan 75 lainnya terluka, setelah dua bom bunuh meledak dalam serangan terkoordinasi di Jolo, Provinsi Sulu, pada Senin (24/8/2020).

Tidak ada grup yang mengklaim bertanggung jawab. Namun militer Filipina sudah mengarahkan telunjuk kepada milisi Abu Sayyaf dalam serangan yang juga membunuh pasukan keamanan itu.

Panglima militer Letnan Jenderal Cirilito Sobejana menyatakan, pihaknya mengidentifikasi dua pengebom bunuh diri bernama Nanah dan Inda Nay.

Kepada media lokal, Sobejana menyatakan Nanah merupakan istri dari Norman Lasuca, yang merupakan pelaku bom bunuh diri pertama di Filipina.

Bersama dengan temannya, Lasuca meledakkan diri di luar kamp militer di Jolo pada Juni 2019, membunuh sejumlah tentara dan sipil.

Sementara Inda Nay merupakan istri dari Talha Jumsah, dikenal sebagai Abu Talha, dan bertindak sebagai penghubung Abu Sayyaf dan ISIS.

Dia disebut tewas dalam baku tembak yang terjadi antara militer dengan kelompok yang masuk dalam daftar teroris AS itu, pada November 2019.

Dilansir kantor berita AFP, Rabu (26/8/2020), saat ini Manila mengaku tengah menyelidiki laporan bahwa Nanah merupakan warga negara Indonesia.

Sobejana pun menyerukan agar darurat militer bisa diterapkan di Sulu, kepulauan yang selama ini menjadi basis operasi Abu Sayyaf.

Dia menjelaskan penerapan status darurat tersebut bakal memulihkan keadaan. Namun usul itu ditentang oleh Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana.

"Tidak akan ada darurat militer," tegas Lorenzana pada Selasa malam waktu setempat (25/8/2020).

Adapun bom bunuh diri terbilang langka di Filipina. Tetapi sejak Juli 2018, terdapat lima serangan bunuh diri, termasuk yang terjadi di Jolo pada Senin.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Sesmawati