• News

  • Peristiwa

Cara Masuk Radikalisme ke Lingkungan ASN, Menag: Mereka Kirim Anak Good Looking

Menteri Agama Fachrul Razi
Istimewa
Menteri Agama Fachrul Razi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Agama Fachrul Razi membeberkan sejumlah tempat yang berpotensi menjadi pintu masuk paham radikal di institusi pemerintahan. Tempat pertama, menurut Fachrul, yakni saat proses rekruitmen dan seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Kalau kita bicara tentang radikalisme ASN, maka banyak tempat yang perlu kita waspadai," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada ASN' yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kementerian PANRB, Rabu (2/9/2020).

"Tempat pertama adalah pada saat dia masuk. Kalau kita tidak seleksi dengan baik, maka dikhawatirkan benih-benih atau pemikiran-pemikiran radikal itu akan masuk ke dalam ASN," ujarnya.

Pintu kedua yang memungkinkan masuknya paham radikal di institusi pemerintahan, disebut Menag, yaitu melalui lembaga pendidikan ASN.

"Pada saat di ASN ada pendidikan- pendidikan khusus, nah bisa masuknya melalui itu. Untuk itu betul-betul kita waspadai di lembaga pendidikan kita, betul-betul pembimbing-pembimbingnya, dosen-dosennya, mereka-mereka yang memang bersih dari peluang-peluang radikalisme. Kalau nggak nanti masuknya dari sana," ucap dia.

Kemungkinan lain, lanjut Fachrul, yakni radikalisme masuk lewat rumah ibadah, baik rumah ibadah di institusi pemerintahan, BUMN, maupun rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat.

"Saya katakan di institusi pemerintahan sangat banyak peluang untuk masuk pemikiran-pemikiran radikalisme," ujarnya.

Menag kemudian memaparkan cara-cara masuknya kelompok maupun paham- paham radikal ke rumah ibadah yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat.

Menurutnya, kelompok radikal ini awalnya mengirim orang yang "good looking" ke rumah ibadah di lingkungan institusi pemerintahan. Kemudian orang itu perlahan-lahan bisa mendapatkan simpati dari para pengurus dan para jemaah masjid, hingga bisa dipercaya menjadi imam bahkan diangkat menjadi salah satu pengurus masjid.

Setelah mendapatkan posisi strategis tersebut, ungkap Menag, orang itu mulai merekrut sesama rekan-rekannya yang memiliki pemahaman radikal lainnya masuk ke masjid itu.

"Cara masuk mereka gampang, kalau saya lihat polanya. Pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran) mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-lama orang situ bersimpatik, kemudian diangkat jadi pengurus masjid, kemudian masuk temannya dan sebagainya," jelas Fachrul.

Untuk itu, Menag menyebut bahwa pihaknya telah bersepakat dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo untuk mengatur pengurus dan penceramah di rumah ibadah di lingkungan institusi pemerintahan.

"Sehingga kami sepakat dengan Bapak Menpan RB untuk mewaspadai sekali bahwa semua rumah-rumah ibadah di lingkungan institusi pemerintahan, pengurusnya harus pegawai pemerintahan. Demikian juga dengan penceramah- penceramahnya dari mereka-mereka yang kita yakini bicaranya tidak aneh-aneh," paparnya.

Sementara untuk mewaspadai masuknya radikalisme di rumah ibadah di lingkungan masyarakat, Menag mengatakan bahwa nantinya penceramah yang mengisi kegiatan keagamaan di rumah ibadah adalah mereka yang telah mendapatkan sertifikasi dari Kemenag.

Bulan ini, kata terang purnawirawan jenderal TNI itu, Kemenag akan meluncurkan program penceramah bersertifikat. Pada tahap awal, Kemenag bakal menerbitkan 8.200 sertifikat bagi penceramah yang memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni.

"Di lingkungan masjid-masjid di luar, di masyarakat juga demikian. Apa yang sekarang dilakukan Kementerian Agama, kami membuat program yang kami namakan penceramah bersertifikat. Akan kami mulai bulan ini, tahap awal kami cetak 8.200 orang (penceramah bersertifikat). Semua agama, sukarela," bebernya.

"Kami kerja sama dengan ketua-ketua dan majelis-majelis keagamaan, ormas-ormas keagamaan, BNPT, BPIP dan dengan Lemhannas. Ini semua nanti mudah- mudahan akan menghasilkan penceramah-penceramah yang paling tidak kami sudah bekali dengan banyak hal, masalah wawasan kebangsaan, Pancasila dan lain-lain," pungkas Fachrul.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati