• News

  • Peristiwa

Arteria Disebut Cucu PKI, Tokoh Papua: Pantasan Selama Ini Karakternya Tak Beretika

Tokoh masyarakat Papua, Christ Wamea.
Istimewa
Tokoh masyarakat Papua, Christ Wamea.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tokoh masyarakat Papua, Christ Wamea menyindir Arteria Dahlan setelah heboh pernyataan wartawan senior Hasril Chaniago yang menyebut kakek politisi PDIP itu sebagai pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumatera Barat (Sumbar).

"HASRIL CHANIAGO (Tokoh Pers Sumbar): Kakek dari ARTERIA DAHLAN (Kader PDIP) adalah Pendiri "PKI di Sumatera Barat" dan merupakan anggota konstituante setelah Pemilu 1955," tulis Christ di akun Twitternya, Rabu (9/9/2020).

"Pantasan selama ini karakternya tak beretika," sentil @ChristWamea.

Sebelumnya diberitakan, nama Wartawan senior Hasril Chaniago dan politisi PDIP Arteria Dahlan jadi trending topic di Twitter Indonesia hingga Rabu (9/9/2020).

Dua nama itu ramai diperbincangkan netizen setelah Hasril Chaniago mengungkit latar belakang keluarga Arteria. Hasril menyebut kakek Arteria merupakan tokoh PKI Sumbar.

Hal tersebut disampaikan Hasril dalam acara Talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One pada Selasa (8/9/2020) malam. Arteria juga hadir sebagai narasumber di acara tersebut.

Acara ILC yang mengangkat topik ‘Sumbar Belum Pancasilais?' itu membahas soal kontroversi pernyataan Ketua DPP PDIP Puan Maharani yang berharap Sumatera Barat menjadi provinsi pendukung negara Pancasila.

Awalnya, Hasril menceritakan hubungan antara Presiden pertama Soekarno dengan orang Minang serta kaitannya dengan Pancasila dan eksistensi PKI di Sumbar.

Menurut Hasril, Soekarno pada saat itu sangat disayang orang Minang. Namun, lanjutnya, di tahun 50-an, hubungan tersebut renggang lantaran Soekarno memasukkan komunis dalam pemerintahan.

"Kenapa tahun 50-an tiba-tiba orang Minang itu melawan Soekarno? Bukan melawan Soekarno sebenarnya tapi mengoreksi Soekarno yang memasukkan komunis ke dalam pemerintahan. Itu dianggap (orang Minang) menyimpang dari Pancasila," kata Hasril.

"Jadi kita harus bedakan antara Pancasila sebagai sesuatu yang ideal yang sudah kita terima dengan pelaksanaan Pancasila. Itu faktor sejarahnya. Akhirnya, reaksi masyarakat Minang, itu tidak menerima partai Soekarno (Partai Nasional Indonesia/PNI), karena mereka marah itu," sambungnya.

Akibatnya, disebut Hasril, pada Pemilu tahun 1955 PNI tidak mendapat kursi di Sumatera Tengah. Diketahui, Sumatera Barat saat Pemilu 1955 masih berada dalam provinsi Sumatra Tengah bersama Riau dan Jambi.

Hasril kemudian menjelaskan soal hasil Pemilu 1955 di Sumatera Tengah, dimana PKI berada di posisi ketiga di bawah Partai Masyumi dan Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiah Islamiah).

Saat bercerita soal Pemilu 1955 dan eksistensi PKI di Sumbar, Hasril sempat menyinggung latar belakang kakek Arteria.

"Arteria Dahlan itu mamaknya itu Bachtaruddin, nama kakeknya itu. Bachtaruddin itu pendiri PKI Sumatera Barat dan anggota konstituante setelah Pemilu 1955," ungkap Hasril. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli