• News

  • Peristiwa

BA Ungkit Dulu JKW Mestinya Me-Lockdown, Birgaldo: Rp200 T seperti Buang Garam ke Laut

Birgaldo Sinaga
Foto: Istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wali Kota Bogor Bima Arya menilai melonjaknya kasus Covid-19 saat ini tidak akan terjadi jika Presiden Joko Widodo sejak awal pandemi mengambil kebijakan lockdown. Menurutnya, penerapan lockdown di tengah angka kasus yang sudah semakin tinggi hanya akan membuat kehidupan masyarakat kian kompleks.

Menanggapi pernyataan Bima Arya, pegiat kemanusiaan Birgaldo Sinaga membuat cuitan di akun FB-nya, Senin (14/9/2020), katanya:

Maret lalu saya begitu keras mendukung lockdown agar memutus penyebaran Covid 19. Tapi kali ini sudah ambyar.

Virus sudah menyebar dan meluas ke semua daerah Indonesia. Tingkat kesabaran dan daya tahan penduduk sudah ke titik nadir. Spirit berperang melawan Covid 19 juga sudah jatuh.

Dan ratusan trilyun uang yang sudah digelontorkan selama 7 bulan ini seperti membuang garam ke lautan.
Ya sudahlah....

Sebelumnya Bima Arya menilai melonjaknya kasus Covid-19 saat ini tidak akan terjadi jika Presiden Joko Widodo sejak awal pandemi mengambil kebijakan lockdown.

“Kalau saja 6 bulan lalu, 5 bulan lalu, atau 3 bulan pertama serempak presiden sampaikan nomor 1 kesehatan, kita lockdown semua, luar biasa itu,” kata Bima dalam diskusi bertajuk PSBB Lagi?, Sabtu (12/9).

Bima menilai, ketika sekarang dilakukan lockdown, maka harus ada perhitungan matang untuk membantu ekonomi rakyat. “Data ekonomi di bawah sangat mengerikan,” jelasnya.

Atas dasar itu, Bima beranggapan pemerintah melewatkan momen emas untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Jika pemutusan dilakukan ketika wabah baru masuk, maka prosesnya tidak serumit ketika sudah semasif sekarang.

“Menurut saya begitu, tapi better late than never, artinya sekarang yang diperlukan adalah kewenangan protokol kesehatan,” tegasnya.

Senada dengan itu, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan, sejak awal Covid-19 terdeteksi masuk ke Indonesia, dia mengaku sudah meminta Kementerian Perhubungan untuk menutup bandara dari penerbangan internasional khususnya Tiongkok.

Namun, usulan tersebut ditolak, dengan alasan 40 persen turis yang datang berasal dari Tiongkok.

“Betul kata Pak Wali Kota (Bima Arya) tadi. Dulu itu saya setengah mati lockdown, sampai hari inipun mazhab saya masih lockdown,” tambahnya.

Menurut Agus, akan sulit melakukan tracing dan pengujian apabila tida dilakukan lockdown. Sebab, pergerakan orang akan terus terjadi.

“Lalu bagaimana, biaya sudah dikeluarkan sangat besar dan hampir tidak bisa membereskan ini, kemudian tenaga juga sudah habis-habisan, akhirnya orang berargumentasi,” pungkasnya.

Editor : Taat Ujianto