• News

  • Peristiwa

Pendeta Korban Tembak di Papua, Presiden Diminta Evaluasi Panglima TNI, Kapolri & Jajaran

Ketua Umum DPP GAMKI Willem Wandik
Indonesiasatu
Ketua Umum DPP GAMKI Willem Wandik

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) menyayangkan terjadinya peristiwa penembakan yang menyebabkan terbunuhnya Pendeta Yeremias Zanambanidi Kabupaten Intan Jaya Provinsi Papua pada Sabtu 19 September 2020 lalu.

Ketua Umum DPP GAMKI Willem Wandik dan Sekretaris Umum DPP GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera mengungkap secara transparan setiap kasus penembakan, terkhusus yang mengakibatkan terbunuhnya masyarakat sipil Papua. 

Willem sebut, perlu dibentuk Tim Pencari Fakta dan Investigasi Independen yang melibatkan perwakilan masyarakat sipil, antara lain Lembaga Gereja, Lembaga Adat, dan lembaga sipil lainnya.

"GAMKI meminta Bapak Presiden untuk mengevaluasi kinerja Panglima TNI, Kapolri, dan jajaran TNI-Polri yang terkait jika dalam waktu mendatang masih terjadi kasus penembakan yang menyebabkan adanya korban jiwa dari masyarakat sipil di Tanah Papua," kata Willem pada Netralnews, Rabu (23/9/2020).

GAMKI meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk menghentikan pengiriman dan mobilisasi ribuan pasukan non organik TNI-Polri ke Tanah Papua. Menurut Willem hal itu seolah-olah Tanah Papua adalah Daerah Operasi Militer sehingga menimbulkan wacana yang dibangun oleh sebagian warga Papua berapa tahun terakhir ini dengan julukan Indonesia sebagai bangsa kolonial.

Presiden Joko Widodo diingatkan GAMKI bahwa penggunaan kekerasan dan operasi militer hanya akan menyebabkan ketakutan dan luka hati yang mendalam di dalam diri warga Papua yang seharusnya justru mendapat perlindungan dan jaminan keamanan dari negara.

"GAMKI memohon kepada Presiden untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini di Tanah Papua serta menyelesaikan masalah Papua dengan melibatkan lembaga agama dan kultural yang ada di Tanah Papua dengan pendekatan persuasif, kultural, dan kearifan lokal," harap Willem.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli