• News

  • Peristiwa

Warga Kristen Dilarang Berdoa, BS: Orang Menyembah Tuhan Kau Sebut Meresahkan, Dasar...

Kiri: Surat larangan beribadah di rumah (Istimewa) / Kanan: Ilustrasi berdoa (Unsplash)
Foto: Indozone.id
Kiri: Surat larangan beribadah di rumah (Istimewa) / Kanan: Ilustrasi berdoa (Unsplash)

MOJOKERTO, NETRALNEWS.COM - Foto selembar surat dari Kepada Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto yang menyatakan melarang salah satu warga bernama Sumarmi yang beragama Kristen beribadah bersama di rumahnya, hingga kini masih menjadi sorotan publik.

Dikabarkan, keluar surat tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah alasan. Surat larangan juga dikabarkan dibuat berdasarkan hasil musyawarah sejumlah tokoh di mana peserta musyawarah menyoroti pembangunan rumah warga yang dianggap mencirikan karakteristik rumah ibadah, salah satunya adalah memiliki salib.

Sementara hasil musyawarah warga mengizinkan Sumarmi membangun rumah hanya untuk tujuan hunian.

Kesal dengan insiden tersebut, pegiat kemanusiaan Birgaldo Sinaga membuat cuitan di akun FB-nya, Minggu (27/9/20) katanya:

OTAK KADRUN.

PKI harus dibasmi karena gak percaya Tuhan.
Yang berdoa sama Tuhan diusir karena meresahkan.
DASAR KADRUN BIADAB.

Sementara sebelumnya ia juga menulis:

Kata Kepala  Desa Ngastemi si Mustadi ini,  mengingat aktivitas doa bersama rutin umat Kristen itu menimbulkan keresahan warga masyarakat. Maka DILARANG.

Woi Kades dobol...yang meresahkan itu bukan orang berdoa yang senyap tanpa berisik kencang. Yang meresahkan itu yang memekakkan telinga.
Orang menyembah Tuhan kau sebut meresahkan.
Dasar kadrun semprull..

Surat Viral di medsos

Sebelumnya dilansir Indozone.id, sebuah surat dari Kepada Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, yang melarang salah satu warganya yang beragama Kristen beribadah di rumah, viral di sosial media.

Kepala Desa yang bernama H. Mustadi menujukan surat tersebut kepada warga bernama Sumarmi di RT 03 Dusun Karangdami, Ngastemi.

Sumarmi diberitahukan bahwa telah diadakan musyawarah tingkat desa dan dihadiri oleh Kades, perangkat desa, Muspika, Kepala KUA, Ketua MUI Bangsal, umat Kristen dan perwakilan umat muslim Desa Ngastemi, untuk membahas pembangunan rumah yang dilakukan oleh Sumarmi.

Hasil musyawarah itu menyoroti pembangunan rumah tersebut mencirikan karakteristik rumah ibadah, salah satunya adalah memiliki salib. Hasil musyawarah mengizinkan Sumarmi membangun rumah untuk tujuan hunian.

Tapi, jika tujuannya adalah untuk membangun rumah ibadah Kristen, maka dilarang karena tidak memenuhi peraturan.

Jika Sumarmi ingin mendirikan rumah ibadah, maka harus memenuhi peraturan SKB Dua Menteri (Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama).

Warga juga melarang Sumarmi mengadakan kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen. Mustadi mengklaim kegiatan itu menimbulkan keresahan warga Dusun Karangdami.
Jadi, demi keharmonisan antar umat beragama, maka Sumarmi tidak boleh lagi menggelar ibadah dan doa bersama di rumahnya.

"Dilarang melakukan ibadah dan atau doa bersama di rumah saudara Sumarmi yang ada di RT 03 Dusun Karangdami tersebut agar tercipta suasana harmonis kehidupan antar umat beragama khususnya di Dusun Karangdami," tulis surat tersebut.

Surat ini ditandatangani oleh Kades Ngastemi, H. Mustadi pada 21 September 2020.

Sekadar diketahui, SKB Dua Menteri mensyaratkan warga yang ingin mendirikan rumah ibadah sedikit paling sedikit berjumlah 90 orang. Selain itu, pembangunan rumah ibadah juga harus disetujui oleh 60 warga sekitar.

SKB Dua Menteri ini telah lama menjadi sorotan karena membuat warga minoritas tidak bisa leluasa mendirikan rumah ibadah, jika berada di daerah mayoritas.

Editor : Taat Ujianto