• News

  • Peristiwa

Denny: Jangan Investasi di Isu supaya Tidak Nangis, Lagian Semua Janda Pasti Bolong

Ilustrasi tanaman janda bolong dan Denny Siregar
Foto: Istimewa
Ilustrasi tanaman janda bolong dan Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Baru-baru ini, keberadaan tanaman bernama "Janda Bolong" menjadi pergunjingan publik. Pegiat media sosial Denny Siregar, Selasa (29/9/20) ikut membuat catatan mengenai hal ini.

Menurut Denny: "Tiba2 penuh berita ada tanaman bernama janda bolong dibeli dgn harga ratusan juta. Orang mulai panik lagi, dan kembali bermimpi, "Wah kalau investasi ini, gua jual lagi, bisa cepat kaya nih.."

"Orang yg pengen cepat kaya inilah mangsa empuk. Mereka terpengaruh isu, kemudian ramai2 beli dgn harga tinggi. Lalu mereka berusaha jual lagi dgn harga lebih tinggi. Pada satu waktu, yang ketipu paling akhir dan beli paling mahal lah, yg gigit jari," lanjut Denny.

Permainan persepsi ini biasanya dibuat oleh komunitas pedagang bekerjasama dgn media. Mereka membangun isu untuk menaikkan harga jual. Pada intinya, penjual pertamalah yang mendapat keuntungan, karena mereka belinya masih harga murah.

"Jadi hati2lah kalau investasi. Jangan berinvestasi di isu. Hitung dgn benar kemungkinan2nya, spy nanti tdk nangis karena rugi. Lagian, semua janda pasti bolong. Nenek2 juga bolong. Lha kalo ga bolong, namanya bisa2 jadi janda mampet.." kata Denny memberi pesan.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

JANDA BOLONG

Pernah nonton film "Wall street" ?

Film itu menceritakan bagaimana isu diciptakan untuk menaikkan bahkan menjatuhkan nilai saham. Isu disebarkan utk membuat harga saham jatuh, kemudian sesudah murah diborong oleh pemain besar, dan dibuat isu lagi untuk menaikkan harganya kembali.

Dalam saham dikenal dengan nama "panic buying" dan "panic selling". Pada intinya penyebar isu menjual kepanikan utk meraih keuntungan besar.
Dan model seperti itu bukan hanya ada di saham saja, tapi diberbagai model jualan.

Seperti tanaman misalnya. Kita dulu mendengar tanaman anthurium atau gelombang cinta, yang harganya sampai ratusan juta. Masyarakat "panik" dan mereka ramai2 memborong gelombang cinta dgn harga yg gak masuk akal. Dan ketika tren itu selesai, mereka mendapatkan bahwa tanaman yg mereka beli dgn menguras tabungan dan akan dijual lagi dgn harga tinggi itu, cuman berharga 25 rebu rupiah. Sial, kan ?

Model yang sama juga dgn batu akik. Pasar bergolak dan semua org memburu akik dimana-mana. Harganya melonjak tinggi karena berita yg bombastis.

Sekarang, duh jarang banget org pake akik. Toko akik sepi, hanya para kolektor yg mau mampir itupun sedikit sekali. Harganya ? Jangan ditanya. Sakittt..

Si janda bolong modelnya sama. Tiba2 penuh berita ada tanaman bernama janda bolong dibeli dgn harga ratusan juta. Orang mulai panik lagi, dan kembali bermimpi, "Wah kalau investasi ini, gua jual lagi, bisa cepat kaya nih.."

Orang yg pengen cepat kaya inilah mangsa empuk. Mereka terpengaruh isu, kemudian ramai2 beli dgn harga tinggi. Lalu mereka berusaha jual lagi dgn harga lebih tinggi. Pada satu waktu, yang ketipu paling akhir dan beli paling mahal lah, yg gigit jari.

Permainan persepsi ini biasanya dibuat oleh komunitas pedagang bekerjasama dgn media. Mereka membangun isu untuk menaikkan harga jual. Pada intinya, penjual pertamalah yang mendapat keuntungan, karena mereka belinya masih harga murah.

Jadi hati2lah kalau investasi. Jangan berinvestasi di isu. Hitung dgn benar kemungkinan2nya, spy nanti tdk nangis karena rugi.

Lagian, semua janda pasti bolong. Nenek2 juga bolong. Lha kalo ga bolong, namanya bisa2 jadi janda mampet..

Jiahhh.. pagi2 ngomongin bolong

Denny Siregar

Booming janda bolong

Sebelumnya dilansir Kompas.com, Monstera atau yang lebih dikenal dengan janda bolong tengah digandrungi para penggemar tanaman hias.

Layaknya dunia fashion, selalu ada tren tanaman hias yang berbeda setiap tahunnya. Ketika tengah booming, otomatis harganya akan melonjak tinggi. Disebut-sebut tanaman ini dijual sampai jutaan rupiah.

Tren melambungnya harga tanaman sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Beberapa tanaman yang harganya pernah melambung tinggi seperti gelombang cinta.

Vanda Fakhrozi, seorang pedagang tanaman hias di Jakarta menuturkan, kenaikan harga tanaman janda bolong dipicu budaya latah setelah tanaman tersebut jadi tren para pemilik rumah elit dan rumah-rumah dengan desain minimalis.

Ada yang menganggap kalau enggak ada monstera itu enggak keren rumahnya. Jadi faktor gengsi ini berperan," kata Vanda seperti dikutip dari channel Kompas TV, Minggu (27/9/2020).

Booming tanaman janda bolong dengan cepat meluas karena efek viral di media sosial. Seketika banyak orang mencari tanaman ini sehingga harganya ikut melonjak dratis, dari puluhan ribu menjadi jutaan rupiah.

"Tren paling kencang ini di media sosial. Instagramable kalau orang bilang untuk foto-foto agar rumah terlihat estetik. Banyak ternyata yang buat monstera itu jadi tren," ujar Vanda.

Juliana, penjual tanaman hias lain di Jakarta, mengungkapkan sejak beberapa bulan terakhir selalu ada orang yang mencari tanaman janda bolong.

Terkait harga tanaman monstera yang mencapai jutaan rupiah, monstera memang memiliki beberapa jenis yang berbeda dengan tingkat perawatan yang berbeda pula, sehingga faktor ini sangat mempengaruhi harga.

"Mahal karena berbeda-beda jenis. Seperti (yang cukup mahal) Monstera veriegata. Coraknya putih hijau ada kekuning-kuningan, itu beda-beda jenisnya. Perawatan lebih susah, otomatis demand lebih tinggi, harga lebih tinggi lagi," terang Juliana.

Editor : Taat Ujianto