• News

  • Peristiwa

Pesan Mensos ke Mahasiswa: Berbudaya Indonesia, Bukan Amerika, Cina, Arab

Mensos ingatkan mahasiswa berbudaya Indonesia, bukan Amerika, Cina, Arab.
Kemensos
Mensos ingatkan mahasiswa berbudaya Indonesia, bukan Amerika, Cina, Arab.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara mengatakan, saat ini tengah deras arus informasi yang banyak di antaranya tidak benar. Dia lantas berpesan pada mahasiwa, perlu menggali kembali nilai-nilai luhur, jati diri bangsa, dan memahami landasan pembentukan negara.

“Sadari siapa kita semua ini. Kita ini orang Indonesia. Sebagai orang Indonesia, sudah sewajarnya kita berbudaya Indonesia, bukan budaya Amerika, bukan budaya China, bukan budaya Arab, dan sebagainya,” kata Mensos.

Pernyataan tersebut disampaikan Mensos Ari Batubara saat menyampaikan sambutan melalui video conference pada Stadium Generale Universitas Negeri Semarang, Sabtu (3/10/2020).

Dia jelaskan, Indonesia memiliki nilai budaya sendiri, yang intinya adalah gotong royong. Dipaparkan, salah satu nilai dasar Indonesia adalah gotong royong.

"Ini nilai khas yang tidak ditemukan di negara lain. Jadi dengan gotong royong maknanya, kita adalah bangsa yang perduli dan tidak segan berbagi. Semua beban masalah dipikul bersama dengan elemen bangsa lainnya,” katanya.

Mensos Ari melihat, kini budaya gotong royong ini sudah mulai menipis. Sikap perduli terhadap sesama warga bangsa tidak lagi menonjol.

“Saya yakin semua agama pun mengajarkan sikap perduli dan mencintai sesama. Oleh karena itu, saya minta anak muda seperti mahasiswa untuk memperkuat siap perduli di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Penting pula mengenal dan memahami sejarah pembentukan bangsa. Bangsa ini dibentuk bukan berdasarkan kelompok-kelompok tertentu, bukan berdasarkan warna-warna tertentu, namun berdiri atas keanekaragaman.

Oleh karena itu, dia berpesan agar mahasiswa menjaga dan memperkuat nilai-nilai luhur bangsa di tengah-tengah pergeseran nilai dan perkembangan cepat saat ini.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani