• News

  • Peristiwa

Turun Bandara HRS Dijemput Gatot dan Anies, FH: Turun Kelas

Ferdinand Hutahaean
Istimewa
Ferdinand Hutahaean

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Direktur Eksekutif, Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean menganggap lucu jika Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) dijemput Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan di Bandara saat datang ke Tanah Air.

Hal dikatakan Ferdinand menanggapi pernyataan Pengamat Politik, Rocky Gerung yang meminta membayangkan bagaimana jika turun dari Bandara, Habib Rizieq dijemput Gatot dan Anies.

Dirinya berfikir bagaimana mungkin seorang mantan Panglima TNI dan seorang gubernur turun kelas jadi penjemput seorang yang pernah tersangkut kasus chat mesum dengan Firza di kepolisian.

"Sy sdh bayangkan tp jadi tampak lucu. Selain lucu juga aneh. Sy berpikir, bgmn mgkn seorang mantan Panglima TNI dan seorang Gubernur DKI aktif turun kelas jd penjemput seorang yg pernah jadi pemberitaan media krn kasus chat yg melibatkan Firza di Polri?" kata Ferdinand dalam akun Twitternya.

Sebelumnya Pengamat Politik Rocky Gerung menilai, Habib Rizieq Shihab (HRS) punya pengikut yang banyak di Indonesia. Dan itu merupakan fakta politik yang tidak bisa dipungkiri.

Eks pengajar di Universitas Indonesia (UI) ini bilang, Rizieq Shihab semakin ditolak untuk kembali ke Indonesia, maka semakin dimuliakan oleh pengikutnya. Dan itu terjadi natural sekali.

“Di dalam psikologi politik, Habib Rizieq itu semakin diumpetin semakin, sebut saja glorifikasi, berlangsung natural sekali. Orang itu dianggap oleh pengikutnya, ditunggu sebagai masengger of truch.” Ucap Rocky Gerung dikutip dari Chanel YouTubenya, Rocky Gerung Official, Kamis (22/10/2020).

Rocky mengatakan, fenomena HRS ini yang harus disadari oleh pemerintah. Bahwa semakin Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu disingkirkan, semakin orang menumpuk energi untuk membawanya pulang.

“Jadi penguasa mesti baca itu dalam keadaan Indonesia mengalami turbulensi,” ucap Rocky Gerung.

Rocky melanjutkan, Presiden Jokowi sejak awal telah membangun politik pecah bela. Dia muncul dengan politik yang membela keakraban sosial. Dengan sinyal pertama soal klaim ‘kami pancasila.’

“Dengan sinyal pertama bahwa kami pancasila maka dengan sendirinya akan timbul persepsi bahwa HRS itu anti pancasila.” Beber Rocky.

Dia menilai, seluruh parameter pemerintah yang dipakai dan dipasangkan pada HRS itu, justru berbalik menjadi ukuran para rezim ini.

“Lebih pancasilais mana HRS yang berupaya hasilkan keadilan sosial, dengan presiden Jokowi yang menghasilkan UU Omnibus Law yang tidak pro pada rakyat.” Katanya.

Rocky menilai, pemerintah tidak bisa menghadirkan keharmonisan sosial dan keadilan. Menurutnya pemerintah lebih bijak, jika hadir dan terlibat untuk kepulangan HRS. Atau menjemputnya.

“Pemerintah sampai sekarang ngga tau dia mau ucapin apa soal HRS.” Kata Rocky.

“Bayangkan HRS itu turun di bandara, dijemput oleh Gatot. Dijemput oleh Anies Baswedan kan itu seluruh konstruksi persaingan politik itu berubah. Saya cuma bayangkan itu sebagai kondisionalitas.” Sambung Rocky.

“Nah pemerintah harus menguji itu kalau dia cukup kuat, dia harus mengambil keputusan bahwa HRS harus bahkan dijemput. karena ga ada problem lagi dengan pemerintah Arab Saudi.” Pungkas dia

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Nazaruli