• News

  • Peristiwa

Usai Dipanggil Polda, EK: Mata Najwa Akan Hadirkan AB? Pertanyaannya Anda Bersedia Mundur?

Eko Kuntadhi
Foto: Istimewa
Eko Kuntadhi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memenuhi panggilan Polda Metro Jaya. Anies datang sekitar pukul 09.43 WIB.

Akan tetapi, dia hanya memberikan pernyataan singkat. Dia mengatakan, kedatangannya untuk memberikan klarifikasi serta memenuhi undangan Polda Metro Jaya.   

"Mengundang saya untuk memberikan klarifikasi pada tanggal 17 November 2020 jam 10:00 pagi. Jadi hari ini saya datang ke Mapolda sebagai warga negara untuk memenuhi undangan dari Polda," kata Anies di Polda Metro Jaya, Selasa (17/11/2020).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya melakukan memanggil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait adanya dugaan tindak pidana dalam penyelenggaraan acara keramaian di tengah Covid-19.

Hal ini menyusul kehebohan yang terjadi akibat kerumunan pesta pernikahan dan perayaan Maulid Nabi di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat yang dilakukan pemimpin ormas Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

"Iya (pemanggilan) kita akan kita klarifikasi, besok di Polda Metro Jaya," ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat seperti dinukil Kompas.com, Senin (16/11/2020).

Sementara itu, menanggapi soal Anies dipanggil Polda, pegiat media sosial Eko Kuntadhi mengunggah catatanya berjudul "Apakah Anda Bersedia Mundur dari Kursi Gubernur Jakarta?"

Menurut Eko:"Betapa memuakkan politisi yang lebih mendahuluan insentif politik untuknya dengan mengabaikan resiko kesehatan rakyat. Prilaku politisi seperti itu akan menjerumuskan kita dalam bahaya."

"Kalau ia berani melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Ia teriak PSBB. Tapi kepada Rizieq, boro-boro jaga jarak. Boro-boro karantina mandiri. Pemda seperti membiarkan semua pelanggaran itu secara telanjang. Jangan kaget jika dalam surat panggilan kepada Anies ada kata menghalangi penegakkan aturan karantina kesehatan," lanjut Eko.

"Yang jadi pertanyaan sekarang. Kira-kira, dengan pelanggaran yang mentang-mentang dan terang benderang ini. Apakah nanti acara Mata Najwa akan memghadirkan Anies Baswedan sebagai nara sumber," katanya.

"Kalau Anies menolak datang. Najwa bisa wawancara dengan kursi kosong. Pertanyaanya simpel. "Kalau terbukti melanggar UU Karantina Kesehatan, apakah Anda bersedia mundur sebagai Gubernur DKI?" tandas Eko.

Berikut catatan lengkap Eko Kuntadhi:

APAKAH ANDA BERSEDIA MUNDUR DARI KURSI GUBERNUR JAKARTA?

Hari ini cukup mengejutkan. Kapolri mencopot dua Kapolda di wilayah utama, Kapolda Metro dan Kapolda Jawa Barat. Bukan hanya itu, Polri juga mencopot Kapolres Jakarta Pusat dan Bogor.

Masalahnya simpel. Para petinggi itu dianggap tidak becus menegakkan UU Karantina Kesehatan yang saat ini masih diberlakukan di Indonesia. Ini akibat ulah Rizieq.

Rizieq menggelar acara resepsi pernikahan anaknya. Undangannya bejibun. Ia sampai menutup akses jalan di Petamburan. Kegiatan yang melibatkan banyak orang itu jelas melanggar protokol kesehatan.

Sehari sebelumnya, Rizieq juga menggelar acara di Bogor. Bikin macet jalanan. Orang berkumpul seperti cendol. Droplet merajalela.

Sayangnya di berbagai acara itu aparat terkesan agak wagu. Mereka tidak berani bertindak.

Yang menarik, malam saat kepulangan Rizieq, Anies Baswedan menghadap Imam Besar, di Petamburan. Orang yang habis bepergian dari luar negeri mestinya menjalankan karantina mandiri 14 hari. Eh, belum juga sehari. Aniea sudah ngajak kongkow.

Padahal Anies sendiri yang mejeng di TV menyampaikan soal PSBB. Bibirnya bergetar. Tapi, itu cuma sandiwara. Ia sendiri yang melanggarnya.

Kalau yang melanggar pengusaha restoran, warung kecil, mall atau tempat usaha. Anies terkesan galak. Pokoknya kalau buat penghidupan dan ekonomi, gak boleh.

Tapi saat menyangkut Rizieq, Anies malah terkesan memberi angin. Kedatangannya malam itu menjelaskan sikapnya.

Aparat gedeg juga melihat tingkahnya yang tidak berbuat apapun untuk menghalau pelanggaran terang-terangan itu.

Sejak kemarin beredar kabar, aparat tidak akan tinggal diam melihat tingkah Anies. Anies juga mendengar kabar ini. Makanya anak buah Anies, Walkot

Jakarta Pusat, melayangkan surat imbauan untuk acara Rizieq itu. Lurah Petamburan juga mengeluarkan statemen. Bahkan kabarnya Rizieq didenda Rp50 juta. Kesannya Pemda DKI sudah berusaha melarang acara tersebut.

Kesan yang didapat publik Gubernur, ini hanyalah langkah panik karena polisi gak mau dipermainkan oleh Gubernur yang suka 'nabrak-nabrak' ini.

Padahal ketika acara di Tebet, Wakil Gubernur DKI malah hadir di keramaian. Sebelumnya tersiar kabar, Aniea akan menjadi saksi pernikahan. Meski akhirnya ia gak datang.

Prilaku petinggi Pemda DKI itu jelas aneh. Wong Gubernurnya sendiri sowan pada malam sebelumnya. Gak ada tuh, teguran untuk membatalkan acara keesokan harinya.

Terbukti polisi akhirnya memanggil Anies untuk klarifikasi. Anies ngeles. Ia bilang bahwa pihaknya sudah berusaha menegakkan aturan. Tapi Rizieq dan gerombolannya emang bandel. Lho, yang sowan malam itu kan, dia. Mau ngeles apalagi?

Penerapan UU Karantina Kesehatan merupakan problem serius. Apalagi jumlah positif  Covid19 terus bertambah. Jakarta adalah penyumbang pasien terbesar. Kalau prilaku kepala daerahnya konyol, ya konyol juga dampaknya.

Anies mungkin mencoba memanfaatkan euforia pendukung Rizieq untuk insentif politiknya. Tapi, ingat. Ini bukan soal politik. Ini soal keamanan warga. Masalah kesehatan warga Jakarta .

Betapa memuakkan politisi yang lebih mendahuluan insentif politik untuknya dengan mengabaikan resiko kesehatan rakyat. Prilaku politisi seperti itu akan menjerumuskan kita dalam bahaya.

Kalau ia berani melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Ia teriak PSBB. Tapi kepada Rizieq, boro-boro jaga jarak. Boro-boro karantina mandiri. Pemda seperti membiarkan semua pelanggaran itu secara telanjang. Jangan kaget jika dalam surat panggilan kepada Anies ada kata menghalangi penegakkan aturan karantina kesehatan.

Yang jadi pertanyaan sekarang. Kira-kira, dengan pelanggaran yang mentang-mentang dan terang benderang ini. Apakah nanti acara Mata Najwa akan memghadirkan Anies Baswedan sebagai nara sumber.

Kalau Anies menolak datang. Najwa bisa wawancara dengan kursi kosong. Pertanyaanya simpel. "Kalau terbukti melanggar UU Karantina Kesehatan, apakah Anda bersedia mundur sebagai Gubernur DKI?"

"Emang Najwa berani, mas?," tanya Abu Kumkum.

Ya, gak bakalan sih...

Editor : Taat Ujianto