• News

  • Peristiwa

Politik Identitas, DS: Taek Kucinglah Kebanggaan Agama, Gak Percaya Tanya Ma Chaplin dan..

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Minggu (22/11/20), pegiat media sosial Denny Siregar membuat catatan panjang mengungkap tentang dampak burup politik identitas. Judul catatan tersebut "Hancurnya Bangsa karena Politik Agama."

Denny mengungkapkan, "Kita harusnya belajar dari banyak negara yang hancur karena politik identitas. Lebanon 15 tahun perang saudara antar agama untuk berebut kekuasaan. Suriah selama 7 tahun perang karena narasi Suni vs Syiah. Afghanistan dikuasai Taliban karena ingin menjadikannya negara agama."

"Taek kucinglah kebanggaan agama. Bulshit lah kebanggaan suku dan ras. Semua itu urusannya hanya uang dan uang. Tanya ma Chaplin dan bapaknya Nobita aja aja kalo gak percaya," lanjut Denny.

"Di otaknya hanya ada uang, lain nggak..Saya sangat mendukung TNI memulai membongkar simbol-simbol kebencian. Karena kebencian akan melahirkan kebencian lainnya. Kekerasan akan menciptakan kekerasan lainnya. Kalau api kecil itu tidak segera dipadamkan, negeri ini bisa jadi kebakaran," katanya.

"Merekalah yang menjaga api kecil itu, dan dibesarkan sedikit demi sedikit. Dan lihat saja nanti, mereka juga yang gembira ketika negeri ini kebakaran. Dan muncul seolah2 pahlawan. Para pengkhianat negeri. Orang2 yang tidak punya hati. Karena mereka sudah menjual jiwanya, pada berhala di rekening mereka pribadi," tandas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

HANCURNYA BANGSA KARENA POLITIK AGAMA

Politik identitas itu mengerikan..

Kita harusnya belajar dari banyak negara yang hancur karena politik identitas. Lebanon 15 tahun perang saudara antar agama untuk berebut kekuasaan. Suriah selama 7 tahun perang karena narasi Suni vs Syiah. Afghanistan dikuasai Taliban karena ingin menjadikannya negara agama.

Apalagi? Banyak. Identitas bukan hanya agama, tapi juga suku dan ras. Rwanda tahun 1994 habis 1 juta jiwa dalam waktu 3 bulan, karena suku Hutu merasa lebih pantas berkuasa dari suku Tutsi. Bahkan di Indonesia kita mengenal konflik Sampit tahun 2001 dan konflik di Ambon, Maluku tahun 1999.

Tahu akar dari semua masalah yang berujung pada banyaknya kehilangan jiwa? Ya, politik kekuasaan..

Kursi kekuasaan itu memang rasanya manis bagi sebagian orang yang punya sifat tamak. Dengan kekuasaan dia bisa mengontrol banyak hal yang pada akhirnya urusannya adalah kekayaan yang tidak habis dimakan tujuh turunan. Politik, kekuasaan dan bisnis adalah lingkaran setan yang tidak akan pernah habis sampai akhir zaman.

Taek kucinglah kebanggaan agama. Bulshit lah kebanggaan suku dan ras. Semua itu urusannya hanya uang dan uang. Tanya ma Chaplin dan bapaknya Nobita aja aja kalo gak percaya. Di otaknya hanya ada uang, lain nggak..

Dan untuk membentuk kebanggaan terhadap identitas, dibutuhkanlah simbol-simbol. Simbol itu bisa berupa lambang, bisa juga berupa orang. Dan di negara berkembang yang selalu butuh sosok untuk menyelesaikan masalah besar, biasanya dibangun simbol orang yang dinarasikan sebagai pembebas, revolusioner, wakil dari umat yang tertindas.

Itulah kenapa saya setuju sekali, ketika TNI memulai dgn menghancurkan baliho Rizik, yang dibangun oleh sekelompok orang, dengan dana dari elit politik hitam yang tidak berperasaan. Yang dilakukan TNI bukan sekadar menghancurkan sebuah baliho yang harganya cuman seratus ribuan, tapi mencegah dampak yang lebih luas dari kengerian akibat politik identitas.

Bayangkan, ketika simbol dalam baliho itu dibiarkan, maka akan muncul perlawanan dari komunitas lain yang merasa terancam. Semisal, karena dia sering menghujat agama lain untuk membangkitkan superioritas dalam komunitasnya, maka agama lain yang mayoritas di daerah tertentu bisa bergerak dan melawan.

Dan siapa yang rugi pada akhirnya jika terjadi gesekan? Ya, masyarakat sipil yang tidak tahu apa2, yang lemah. Mereka inilah korban terbesar dalam sebuah perang. Orang yang sudah tua, wanita dan anak2.

Saya sangat mendukung TNI memulai membongkar simbol-simbol kebencian. Karena kebencian akan melahirkan kebencian lainnya. Kekerasan akan menciptakan kekerasan lainnya. Kalau api kecil itu tidak segera dipadamkan, negeri ini bisa jadi kebakaran.

Dan lihat saja, mereka yang ribut karena sebuah simbol dihancurkan, sesungguhnya adalah pelaku kebencian itu sendiri.

Merekalah yang menjaga api kecil itu, dan dibesarkan sedikit demi sedikit. Dan lihat saja nanti, mereka juga yang gembira ketika negeri ini kebakaran. Dan muncul seolah2 pahlawan. Para pengkhianat negeri. Orang2 yang tidak punya hati.

Karena mereka sudah menjual jiwanya, pada berhala di rekening mereka pribadi.
Kasihan. Mereka tidak bisa merasakan nikmatnya kedamaian, duduk bersama sambil seruput secangkir kopi..

Denny Siregar

Kapolda Jateng tindak kelompok intoleran

Mengenai tindakan tegas kepada kelompok intoleran, sebelumnya diberitakan, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi memerintahkan seluruh kapolres dan kapolresta untuk bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok intoleran di wilayah hukum Jawa Tengah.

Seluruh jajaran dikerahkan untuk mencegah tumbuhnya gerakan intoleransi di masyarakat.

“Itu prinsip dan itu harga mati seluruh jajaran kapolres sudah saya perintahkan, enggak ada intoleransi di wilayah Jawa Tengah,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi seusai sarasehan kebangsaan bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Gedung Gradhika Bhakti Provinsi Jawa Tengah, Jumat (20/11/2020).

Kapolda juga meminta jajaran menutup ruang bagi kelompok intoleran khususnya di wilayah Jateng.

“Tidak ada kesempatan dan ruang kelompok intoleran khususnya di wilayah Polda Jawa Tengah,” kata Kapolda.

Jenderal bintang dua tersebut menyebut kini sedang dalam masa dua operasi sekaligus yakni Mantap Praja dan Aman Nusa. Operasi Mantap Praja terkait dengan pengamanan Pilkada 2020, dan Aman Nusa untuk mengantisipasi bencana alam dan Covid-19.

Editor : Taaat Ujianto