• News

  • Peristiwa

Sindir TNI,Said Didu Bilang Terlalu Mahal Beli Alutsista kalau Hanya untuk Turunkan Baliho

Said Didu:Terlalu mahal beli Alutsista kalau hanya untuk turunkan Baliho.
Go Politik
Said Didu:Terlalu mahal beli Alutsista kalau hanya untuk turunkan Baliho.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu menyindir upaya TNI yang terlibat langsung dalam penurunan baliho bergambar Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.

Dalam cuitan di akun Twitternya, Said Didu mengatakan, terlalu mahal gunakan uang rakyat untuk membeli alutsista canggih jika hanya untuk menurunkan baliho.

"Terlalu mahal gunakan uang rakyat utk beli alutsista canggih kalau hanya digunakan utk turunkan baliho," kata Said Didu dalam akun Twitternya, @msaid_didu.

Sebelumnya publik dihebohkan dengan beredarnya sejumlah video yang memperlihatkan sekelompok pria berbaju loreng tengah menurunkan baliho bergambar Rizieq Shihab.

Dugaan masyarakat pun datang bahwa yang menurunkannya adalah TNI.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman mengakui bahwa ia memerintahkan jajarannya untuk mencopot spanduk dan baliho pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Ia menjelaskan alasan mengapa jajarannya ikut turun tangan mencopot spanduk dan baliho tersebut, karena persoalan pemasangan baliho yang tanpa izin.

Dudung mengatakan, awalnya, sejumlah petugas Satpol PP sudah menurunkan baliho yang dipasang tanpa izin itu. Namun, pihak FPI justru kembali memasang baliho itu. Maka, TNI pun turun tangan.

"Ini negara hukum, harus taat kepada hukum, kalau pasang baliho itu udah jelas ada aturannya, ada bayar pajaknya, tempatnya sudah ditentukan. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, enggak ada itu," kata Dudung menjawab pertanyaan wartawan usai apel pasukan di Monas, Jakarta, Jumat (20/11/2020).

Namun, aksi turun tangan TNI itu ternyata malah menjadi bahan pertanyaan sejumlah pihak. Tindakan TNI mencopot baliho dan spanduk tersebut berujung pada sejumlah pertanyaan dan penilaian publik.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Sulha Handayani