• News

  • Peristiwa

Aksi PA 212 Bela Hary Tanoe, Istilah Kafir Tergantung Kawan atau Lawan?

Ray Rangkuti (Netralnews/Toar Sandy)
Ray Rangkuti (Netralnews/Toar Sandy)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat Ray Rangkuti menyarankan kepada Presidium Alumni 212 untuk tidak gampang menstigma orang lain dengan sebutan kafir, seperti yang mereka lakukan terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam aksi-aksi mereka sebelumnya.

"Saya hanya beri saran saja, supaya kedepan tidak mudah mencap orang lain kafir. Kemudian istilah-istilah berat dalam Alqur'an supaya jangan dengan enteng digunakan untuk menstigma orang lain," kata Ray kepada Netralnews.com, Minggu (16/7/2017).

"Jadi bukan pandangan sekilas, tapi harus pengamatan bertahun-tahun. Istilah itu harusnya diucapkan dengan ekstra hati-hati, jangan terlalu mudah, harus dengan dasar yang kuat, pengetahuan yang kuat, pengamatan yang kuat, gak bisa dengan sekilas waktu, lalu orang di cap sebagai kafir," sambungnya.

Sebab jika dua orang yang memiliki latar belakang etnis atau agama yang sama namun diperlakukan berbeda tergantung mana kawan, mana lawan, maka itu akan menjadi boomerang bagi diri sendiri.

Pernyataan Ray ini adalah untuk membandingkan sikap Presidium Alumni 212 terhadap Ahok dan aksi mereka membela Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo. Yang mana, terlepas dari kasus keduanya, Ahok sering ditolak karena kafir, sedangkan tidak bagi Hary Tanoe.

"Karena pada ujungnya istilah-istilah itu akan diuji waktu demi waktu, begitu masuk pada situasi sekarang, ketahuan penggunaan istilah itu untuk orang lain," papar Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) itu.

Bahkan akibat dari sikap inkonsistensi dari Presidium Alumni 212 itu, tidak menutup kemungkinan adanya asumsi publik bahwa penggunaan istilah kafir tergantung kawan dan lawan.

"Apa akibatnya, yang dirugikan bukan saja mereka, tapi istilah itu sendiri, kalau misalnya istilah itu dalam theologi Islam, orang bisa berpikir oh ternyata kafir itu tergantung mood, tergantung arah politik. Jadi yang kena bukan hanya mereka," ungkapnya.

Sebelumnya, Presidium Alumni 212 menyambangi kantor Komnas HAM di jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, (14/7/2017). Salah satu agenda mereka adalah melaporkan adanya dugaan kriminalisasi dan dizaliminya Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo.

Hary Tanoe ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri dalam dugaan ancaman melalui pesan singkat kepada Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.

"Kebetulan ada yang kasih tahu kita, bilang ke kita, 'Tolong dong Hary Tanoesoedibjo dibantu, kan dia banyak bantu berita kita juga'. Ada yang sampai ke saya. Ya sudah nanti kita bantu," ujar Ketua Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo, di kantor Komnas HAM, Jumat (14/7/2017).

"Ini tidak ada kaitan dengan dukungan politik. Kita hanya membantu urusan kemanusiaan, kita berbeda dengan urusan politik, saya berbeda dengan urusan politiknya Harry Tanoe, tapi urusan dia dizalimi maka kami sebagai umat Islam maka kami berhak untuk membelanya," tandasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono