• News

  • Peristiwa

Dirjen GTK Kemendikbud Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Dirjen GKT Kemendikbud Sumarna Pranata. (Dok:Kemendikbud)
Dirjen GKT Kemendikbud Sumarna Pranata. (Dok:Kemendikbud)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sumarna Surapranata mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dirjen tepat pada usia 58 tahun.

"Saya mengajukan pengunduran diri kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 20 Juli dan terhitung pada 1 Agustus, saya mengajukan pengunduran diri," ujar Sumarna  dalam siaran persnya, Jumat (11/08/2017).

Pria yang akrab disapa dengan Pranata tersebut menjelaskan dia memilih tanggal 1 Agustus karena bertepatan dengan usianya ke 58 tahun. Seharusnya, dia bertugas hingga 2019, namun mengajukan pensiun diri.

Terhitung pada 8 Agustus 2017, keputusan presiden tentang pemberhentian dengan hormat terbut dengan nomor Kepres 99/TPA Tahun 2017. "Setelah pensiun, saya rencananya akan membantu istri saya dalam mengelola restoran. Pensiun membawa saya menekuni hobi memasak dan melayani pelanggan," tutur Pranata.

Meski demikian, Pranata berjanji akan tetap berkiprah membantu peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan sekalipun tidak lagi menjadi Dirjen GTK.

Berbagai terobosan dilakukan oleh Pranata termasuk ikut terlibat dalam menghasilkan UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP 19/2017.

Ia juga dinilai berhasil membenahi tata kelola guru dengan jargonnya yakni "Guru Mulia Karena Karya". Berbagai program peningkatan keprofesionalan guru seperti guru pembelajar salah satunya melalui daring atau online.

Sekarang, guru, kepala sekolah dan pengawas telah masig menggunakan peningkatan keprofesional berkelanjutan secara "online". Program terobosan lainnya yakni penyediaan Guru Garis Depan (GGD) yakni pengiriman calon guru lulusan terbaik untuk mengabdi di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T), uji kompetensi guru (UKG) untuk melakukan pemetaan kompetensi guru dan juga program keahlian ganda.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani