• News

  • Peristiwa

Sekolah Lima Hari Peluang Umat Islam Intensifkan Pendidikan Keluarga

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin. (DokNetralnews/Ocha)
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin. (DokNetralnews/Ocha)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (Din Syamsuddin) menilai, kebijakan Sekolah Lima Hari sebagai Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merupakan peluang bagi seluruh Umat Islam di Indonesia untuk mengintensifkan pendidikan keluarga. 

"Libur pada Sabtu Ahad jadi peluang bagi Umat Islam intensifkan pendidikan keluarga. Rancang pendidikan keluarga itu jauh lebih penting," kata Din Syamsuddin usai Rapat Pleno ke-19 Dewan Pertimbangan MUI, dengan tema "Dialog Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam", di Kantor MUI, Rabu (23/8/2017).

Hadir pula dalam rapat tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Sekjen Kemenristekdikti) Ainun Naim, Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad serta perwakilan berbagai Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam.

Menurut Din, pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan masyarakat bahkan oleh Ormas sebelum pendidikan formal ada, seperti Pondok Pesantren yang juga memiliki peran dalam mendukung pendidikan sebagai instrumen kecerdasan kehidupan bangsa. Sehingga tekait, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), peran pemerintah amat diperlukan dalam mencerahkan pola pikir masyarakat, dimana PPK tengah menjadi kontroversi. "Pihak negara perlu untuk melakukan dialog, karena selama ini ada kesalahpahaman," tukas Din.

Lebih lanjut Din menilai, jika salah satu masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat adalah runtuhnya Umat Islam, maka dirinya menilai keluarga perlu merancang pendidikan keluarga terutama pendidikan Islam pada anak. Selain itu dengan mengedepankan pula penegakan Pancasila dengan tidak meninggalkan dan mengabaikan agama dan jalankan syariat Islam. "Sayang pikiran ini belum jadi milik semua orang," kata Din.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani