• News

  • Singkap Budaya

Kisah Magis Sperma Jatuh di Laut, Datangkan Wabah Penyakit

Lukisan Bhatara Kala di Bali
foto: istimewa
Lukisan Bhatara Kala di Bali

BADUNG, NETRALNEWS.COM - Di Bali, terdapat terdapat kisah yang mampu menghadirkan aura magis dan menghentak apalagi bila dipentaskan dalam pewayangan, gerak tari, dan musik.

Kisah itu mengungkap tentang "Kalatattwa", kelahiran Sang Kala (waktu) yang tidak bisa dikalahkan. Kisah Kala Tattwa atau Sang Waktu mengekspresikan sebuah kekuatan yang bertumbuh dan bertahan melawan usia.

Istilah “Kala Tattwa” adalah menunjuk salah satu lontar yang berisikan mitologi yang menceritakan lahirnya Bhatara Kala (Sang Waktu).

Sosok Bhatara Kala adalah raksasa yang bisa menimbulkan datangnya segala jenis penyakit serta godaan-godaan duniawi  yang bisa menimbulkan alam semesta diliputi ketidakharmonisan. Kedatangannya menciptakan dampak gangguan dan ketidakentraman hidup manusia.

Alkisah, suatu ketika, Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Wisnu melihat air mani Bhatara Siwa jatuh ke laut. Akibatnya, laut mengalami kegoncangan.

Melihat hal itu, kedua dewa itu kemudian melakukan yoga sehingga menyatulah air mani itu menjadi wujud raksasa besar dan menyeramkan.

Kemunculan raksasa tersebut membuat Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu larri ke Kahyangan. Hanya saja, tidak diceritakan secara lebih jauh mengapa kedua dewa itu lari.

Menyadari dirinya telah dilahirkan, sosok raksasa tersebut kemudian menggugat dan mempertanyakan siapa ia sesungguhnya. Ia ingin mengetahui siapa ayah dan ibunya.

Dipandanginnya laut, yang ada hanya sepi.  Dipandangnya arah Timur, yang ada juga sepi. Juga ke selatan, Barat, Utara, Bawah, Atas, semuanya sepi. Maka, marahlah Sang Raksasa.

Ia berteriakl dan meraung seperti singa. Bumi pun bergetar dilanda gempa dhasyiat. Tak hanya bumi, Kahyangan  pun ikut berguncang hebat. Lalu keluarlah para Dewata Nawa Sangha seluruhnya.

Dilihatnya raksasa besar dengan rupa yang luar biasa, berteriak-teriak dengan kemarahan yang menyala-nyala.

Karena kemarahan Raksasa tak juga mau diredakan, para Dewata Nawa Sangha turun tangan dan menyerangnya. Raksasa itu dikeroyok oleh seluruh Dewata. Namun, Sang Raksasa tidak mengalami cidera sedikitpun.

Raksasa itu membalas dengan berteriak, “Jangan Kalian menyerangku. Saya hanya mau minta kebenaran. Siapakah saya? Siapa ayah dan ibuku?”

Para dewata tidak menggubrisnya dan memutuskan untuk segera membunuh Sang Raksasa. Namun, semua dewata ternyata tak mampu menjatuhkan sang raksasa.

Para Dewata kewalahan ketika mendapat serangan balik. Semua berlarian menghadap Bathara Siwa.

Mereka melaporkan bahwa ada musuh berwujud raksasa sakti mandraguna mengobrak-abrik kahyangan.  Bila Bathara Siwa tidak turun tangan, Kahyangan akan hancur.

Bhatara Siwa pun bangkit. Ditemuinya raksasa itu. Keduanya sempat bercakap-cakap sebentar namun kemudian disusul peperangan. Bathara Siwa berusaha menghukum Sang Raksasa.

Bhatara Siwa ternyata mengalami kekalahan sehingga harus lari dari medan laga untuk menyelamatkan diri. Setelah jauh dari Sang Raksasa, Bhatara Siwa berhenti dan terheran-hera.

Kesalahan apa yang sesungguhnya telah ia lakukan sehingga ada raksasa sakti tak bisa dikalahkan dan menghancurkan Kahyangan.

Dari kejauhan Sang raksasa kembali berteriak, “Saya datang bukan untuk berperang tetapi ingin mengetahui siapa ayah dan ibuku”.

Bhatara Siwa kemudian mendekat dan menjawab, “Jika engkau ingin tahu siapa ayah dan ibumu, potonglah terlebih dahulu taringmu yang di kanan, baru setelah itu engkau akan saya pertemukan dengan ayah ibumu.”

Bhatara Siwa masih menambahkan, “Aku tidak berbohong kepadamu. Ketahuilah, engkau sudah mendapat angerah bisa berwujud, hidup, dan bernafas. Terserah kamu sekarang bagaimana menerima kenyataan itu. Bila engkau ingin menggunakan hidupmu untuk menghancurkan atau memberi kehidupan pihak lain, itu bergantung kamu. Ketahuilah, ayahmu adalah aku dan ibumu adalah Bhatari Uma”.

Demikian sekilas kata-kata Bhatara Siwa kepada Bhatara Kala dalam lontar Tattwa Kala tersebut.

Editor : Taat Ujianto