• News

  • Sisi Lain

Roh Janin Korban Aborsi Cikini, Berkumpul di Sebuah Gedung Tua

Ilustrasi aborsi
Renovamidia
Ilustrasi aborsi

JAKARTA, NNC - Riyan (48), seorang petugas keamanan di sebuah sekolah yang berlokasi di sekitar Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir, tiap kali berjaga malam selalu disuguhi penampakan kerumunan anak kecil. Mereka bermain di sebuah gedung tua di sekolah itu, layaknya taman kanak-kanak. (Untuk menjaga nama baik, penulis sengaja tidak menyebut nama sekolah tersebut).

“Awalnya saya takut bukan main, Mas. Malah sempat ingin pindah kerja. Bukan apa-apa, jujur saja, kalau menghadapi orang, saya nggak takut. Tapi ini, bukan orang, Mas,” tutur Riyan mengawali kisahnya. Karena terlalu sering menjumpai penampakan, ia akhirnya terbiasa.

Pada penampakan ketiga dan keempat, ia makin percaya diri untuk mencari tahu lebih banyak. “Tadinya saya tidak cerita sama senior. Saya coba memberanikan diri mendekati lokasi penampakan kerumunan anak-anak kecil. Saat itu sekitar pukul 1.00 (WIB) dini hari. Jelaslah, nggak mungkin ada kelas taman kanak-kanak,” katanya.

Salah satu gedung yang ia jaga berbentuk huruf U. Dari salah sudut terlihat jelas adanya sekerumunan anak kecil sedang keluar-masuk salah satu ruangan. Lampunya temaram, sayup-sayup suara bercanda dan cekikikan di antara mereka.

“Setiap langkah saya mendekati lokasi itu, apa yang saya saksikan sebelumnya menghilang. Suara yang dari jauh cukup jelas, ketika makin didekati, ternyata hilang. Saat sampai di depan ruangan itu, sunyi senyap tak ada siapa-siapa,” ungkap Riyan.

Riyan akhirnya memutuskan untuk melapor pada sang komandan regu (Danru). Atas saran Danru, Riyan diminta bertemu dengan Sodikun, seorang petugas keamanan tertua. Sodikun sudah 28 tahun menjadi petugas keamanan di sekolah itu.

Dari Sodikun diperoleh keterangan bahwa Riyan harus terbiasa dan tetap terus menjaga “anak-anak” itu. Ia diminta untuk tidak mengusik mereka. Di tempat itu, mereka sudah tenang, menerima nasib, dan saling menghibur. “Layaknya kita hidup di alam fana ini, biarpun mereka sudah jadi arwah, juga butuh hidup bersama,” kata Sodikun.

Masih menurut Sodikun, apa yang disaksikan Riyan, tak lain dan bukan adalah kumpulan anak-anak yang keberadaannya tidak diterima oleh orang tua mereka. Kebanyakan berasal dari janin yang digugurkan dan dibuang ke Kali Ciliwung Lama. Arwah janin akhirnya berkumpul di situ.

Sebagian penduduk Jakarta pasti kenal di mana sumber praktik aborsi. Iya, benar, di kawasan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Hingga kini pun, praktik layanan aborsi masih berlangsung. Konon, mereka sudah legal, walau tercatat pernah digerebeg polisi dan pelakunya digelandang ke kantor polisi.

Ada beberapa website yang menjajakan jasa aborsi. Situs itu bernama Klinik Raden Saleh, Klinik Aborsi Jakarta, dan Klinik Aborsi. Semuanya masih aktif hingga kini.

Seperti dilansir media massa Kompas, 25 Februari 2016, dua klinik aborsi yang membuka praktik di Jalan Cimandiri dan Jalan Cisadane, Cikini, digerebeg polisi. Sembilan orang pelaku aborsi ditahan. Mereka harus mempertanggungjawabkan praktik ilegal yang telah dilakukan.

Para pelaku akhirnya dihukum masing-masing 10 tahun penjara. Mereka dinyatakan melanggar pasal berlapis sesuai UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU RI Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, dan melanggar Pasal 55, 56, 299, 346, 348, dan 349 KUHP.

Para perempuan pengguna jasa datang dengan beragam latar belakang, mulai dari pelajar hingga artis papan atas. Kebanyakan dari mereka minta aborsi karena menolak kehamilan dari hubungan diluar nikah.

Tarif aborsi bervariasi bergantung usia kandungan. Di bawah tiga bulan tarifnya Rp2,5 sampai Rp3 juta. Di atas itu, mencapai Rp10 juta. Setelah deal harga dan dibayar, pengguna jasa akan segera dilayani.

Dari sejumlah keterangan saksi, praktik klinik tersebut cukup brutal. Dokter aborsi bukan dokter spesialis, bahkan ada satu pelaku yang hanya lulusan SMP. Alat yang digunakan pun tidak higienis. Saat aborsi, pasien hanya dibius lokal. Kelamin pasien dibuka dan janin disedot dengan alat vakum.

Yang lebih miris, praktik aborsi ilegal ini, membuang janin yang dikeluarkan ke lubang toilet dan sebagian lain dibuang di Kali Ciliwung Lama. Banyaknya jumlah janin yang dibuang tak terhitung lagi. Bayangkan saja, satu hari lima kali operasi. Sementara di kawasan itu terdapat sekitar sembilan klinik dan sudah berpraktik puluhan tahun.

Janin yang tidak jadi lahir normal, entah karena disengaja atau karena faktor alamiah (keguguran), seharusnya diperlakukan secara beradab. Dalam kepercayaan etnis tertentu, walaupun mereka mati, sebenarnya tetap tumbuh menjadi dewasa layaknya semua anak.

Bahkan, dalam tradisi etnis Tionghoa, keberadaan janin yang keguguran atau segaja digugurkan bisa mendatangkan malapetaka. Oleh karena itu, wajib diperlakukan dengan sebaik-baiknya. 

“Nah, dari banyaknya janin yang dibuang ke Sungai Ciliwung Lama itulah, arwah mereka berkumpul di gedung tua ini,” demikian papar Sodikun kepada Riyan. Sejak itu Riyan menjadi paham dan berusaha bergaul dengan roh-roh itu.

Ia berjanji tidak akan mengusik mereka. “Kasihan mereka, mereka juga merindukan kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka,” ujar Riyan menutup kisahnya.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro